Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Cetak Rekor, El Niño Saat Ini Resmi Jadi Yang Terkuat dalam Sejarah

Kompas.com, 24 Agustus 2026, 09:01 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Pakar iklim James Hansen dari Columbia University di New York menyatakan bahwa fenomena super El Niño yang sedang berkembang saat ini telah melampaui rekor dari kejadian-kejadian sebelumnya, padahal puncaknya baru akan terjadi beberapa bulan lagi.

"El Niño telah berkembang pesat dan berada di tingkat yang sangat ekstrem. Ukuran standar El Niño telah melampaui level rekor sebelumnya dalam sejarah pencatatan data yang akurat, meskipun dampak terparahnya baru akan terasa beberapa bulan mendatang," katanya.

Melansir New Scientist, Jumat (21/8/2026) ada berbagai cara untuk mengukur El Niño. Hansen menilai ukuran terbaik adalah dengan melihat seberapa jauh suhu air laut di kedalaman hingga 300 meter di Pasifik tropis timur menjadi lebih hangat dari biasanya.

Baca juga: Pakar ITB Ingatkan Bahaya Eksploitasi Air akibat El Nino

“Ukuran acuan yang kami pilih, yaitu lonjakan suhu panas pada kedalaman 300 meter di Samudra Pasifik Khatulistiwa, sudah melampaui rekor super El Niño tahun 1997-98,” ungkapnya.

Ukuran yang lebih umum juga digunakan, bernama indeks Niño3.4, dihitung berdasarkan seberapa hangat suhu permukaan laut Samudra Pasifik dari titik rata-rata biasanya di wilayah garis lintang dan bujur tertentu.

“Indeks Niño3.4 yang umum ini juga sudah jauh melebihi angka-angka sebelumnya,” tambah Hansen.

Namun, Adam Scaife dari badan cuaca nasional Inggris Met Office menilai indeks Niño3.4 saat ini belum melewati rekor super El Niño sebelumnya.

“Kenaikan suhu di area Niño3.4 saat ini berada sekitar 2 derajat di atas normal. Angka ini sangat tinggi untuk periode sekarang, tetapi belum setinggi puncak El Niño tahun 1997/1998 yang mencapai sekitar 2,5 derajat,” kata Scaife.

Perbedaan pendapat mengenai indeks Niño3.4 ini sebagian bisa disebabkan karena indeks tersebut biasanya dihitung dari rata-rata per pergerakan tiga atau lima bulan. Sebaliknya, nilai harian Niño3.4 sempat menembus angka 2,75 derajat C pada awal bulan ini sebelum akhirnya turun sedikit.

"Dalam hal ini, saya setuju dengan James Hansen. Nilai Niño3.4 saat ini jelas merupakan yang tertinggi sepanjang sejarah untuk periode bulan ini, dan diperkirakan akan terus bertahan seperti itu hingga akhir tahun," ungkap Daniel Swain dari California Institute for Water Resources.

Satu hal yang pasti bahwa fenomena super El Niño yang sedang berkembang ini akan segera melewati rekor-rekor sebelumnya dari segala indikator.

Baca juga: Ahli Ingatkan Ancaman Kerusakan Total Great Barrier Reef Akibat El Nino

"Saya belum pernah melihat tanda-tanda El Niño yang sekuat ini dalam prakiraan kami," ujar Scaife dalam pernyataan resminya.

"Jika prakiraan ini tepat, kondisi tahun 2026 akan jauh melebihi pengalaman El Niño yang pernah kita rasakan, begitu pula dampaknya terhadap iklim global," tambahnya.

Hayley Fowler dari Newcastle University di Inggris menilai fenomena ini bahkan bisa melampaui peristiwa bersejarah terdahulu yang diperkirakan jauh lebih dahsyat.

"Super El Niño yang sedang terbentuk di Pasifik ini kemungkinan besar akan menjadi yang terbesar yang pernah dicatat sejarah, menyamai atau melewati tingkat El Niño tahun 1877-1878. Peristiwa masa lalu itu memicu bencana meluas, termasuk kelaparan massal dan menyebabkan sekitar 50 juta kematian, terutama di wilayah Asia dan Amerika Selatan," jelas Fowler.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dampak El Nino: Terusan Panama Hadapi Krisis Air dan Penurunan Jalur Pelayaran
Dampak El Nino: Terusan Panama Hadapi Krisis Air dan Penurunan Jalur Pelayaran
Pemerintah
Keanekaragaman Pohon Jadi Perisai Hutan Hadapi Krisis Iklim
Keanekaragaman Pohon Jadi Perisai Hutan Hadapi Krisis Iklim
Pemerintah
Perkembangan AI di Asia Pasifik Pesat, tapi Masih Ada Kesenjangan
Perkembangan AI di Asia Pasifik Pesat, tapi Masih Ada Kesenjangan
Pemerintah
Abu Vulkanik Ganggu Proses Fotosintesis Tanaman, Berisiko Gagal Panen Jika Terpapar Terlalu Lama
Abu Vulkanik Ganggu Proses Fotosintesis Tanaman, Berisiko Gagal Panen Jika Terpapar Terlalu Lama
LSM/Figur
Perempuan Makin Didorong Terlibat dalam Transisi Energi Indonesia
Perempuan Makin Didorong Terlibat dalam Transisi Energi Indonesia
LSM/Figur
Cavendish Rentan Penyakit Layu Fusarium, RI Bisa Ubah Pisang Liar Jadi Varietas Unggul Tahan Krisis Iklim
Cavendish Rentan Penyakit Layu Fusarium, RI Bisa Ubah Pisang Liar Jadi Varietas Unggul Tahan Krisis Iklim
LSM/Figur
Banyak TPA Masih Terbakar Selama El Niño dan Musim Kemarau, Meski Praktik Open Dumping Dilarang
Banyak TPA Masih Terbakar Selama El Niño dan Musim Kemarau, Meski Praktik Open Dumping Dilarang
LSM/Figur
Penerbitan Obligasi Hijau Global Tembus Rekor Baru di Q2 2026
Penerbitan Obligasi Hijau Global Tembus Rekor Baru di Q2 2026
Pemerintah
Vulkanik Anak Krakatau Menyebar ke 5 Provinsi, Ahli Peringatkan Risiko Kesehatan dari Menghirup dan Lingkungan Tercemar
Vulkanik Anak Krakatau Menyebar ke 5 Provinsi, Ahli Peringatkan Risiko Kesehatan dari Menghirup dan Lingkungan Tercemar
LSM/Figur
Karhutla dan Abu Vulkanik Berisiko Ganggu Perdagangan Indonesia
Karhutla dan Abu Vulkanik Berisiko Ganggu Perdagangan Indonesia
LSM/Figur
PBB Peringatkan Kenaikan Permukaan Air Laut Jadi Ancaman Nyata Bagi HAM
PBB Peringatkan Kenaikan Permukaan Air Laut Jadi Ancaman Nyata Bagi HAM
Pemerintah
Krisis Iklim Turunkan Performa Pembangkit Saat Permintaan Listrik Naik
Krisis Iklim Turunkan Performa Pembangkit Saat Permintaan Listrik Naik
Pemerintah
Dorong Pendidikan Inklusif, 5 Kampus Indonesia Pelajari Sistem Layanan Disabilitas di Jepang
Dorong Pendidikan Inklusif, 5 Kampus Indonesia Pelajari Sistem Layanan Disabilitas di Jepang
Swasta
Studi Ungkap Polusi Kapal Laut Lebih Bahaya dari Kendaraan Bermotor
Studi Ungkap Polusi Kapal Laut Lebih Bahaya dari Kendaraan Bermotor
Pemerintah
Kepedulian Iklim Pekerja Untungkan Karier Jika Sejalan Tujuan Perusahaan
Kepedulian Iklim Pekerja Untungkan Karier Jika Sejalan Tujuan Perusahaan
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau