Sementara China menjadi investor energi bersih nomor satu di dunia dengan investasi sebesar 625 miliar dolar AS (sekitar Rp11.057,50 triliun) di bidang energi terbarukan, penyimpanan energi, nuklir, dan efisiensi energi (30 persen dari total dunia) pada tahun 2025.
Baca juga: Ekonomi Hijau Tumbuh, Uni Eropa Catat Lonjakan Signifikan Green Jobs
Asia juga terus memimpin dalam hal pendapatan hijau, dengan menyumbang hampir separuh dari total ekonomi hijau global tahun lalu. Capaian ini didorong oleh aktivitas bisnis di China, Jepang, Hong Kong, dan Korea Selatan.
Meski begitu, laporan tersebut mencatat bahwa Asia masih menjadi pendorong terbesar dalam investasi dan permintaan batu bara, di mana China mengonsumsi 58 persen dari total batu bara dunia.
Dari sisi produk, kendaraan listrik (EV) menjadi pendorong utama, dengan peningkatan pendapatan mencapai 62 miliar dolar AS (sekitar Rp1.096,90 triliun) pada tahun 2025. Sekitar satu dari setiap empat mobil yang terjual tahun lalu adalah mobil listrik.
"Transisi hijau kini memasuki babak baru yang tidak hanya ditentukan oleh pengurangan emisi karbon, tetapi juga oleh ketahanan energi dan daya saing ekonomi," ungkap Kooroshy.
"Bagi para investor, pertanyaannya bukan lagi apakah ekonomi hijau itu penting atau tidak melainkan bagaimana cara menjalankannya. Memahami dinamika ini mulai dari perbedaan tiap wilayah, tingkat keuntungan sektor, hingga merger dan akuisisi (M&A) adalah kunci untuk menangkap peluang di fase berikutnya," tambahnya.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya