Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Ancaman Gelombang Panas Laut, Mulai Ganggu Kesehatan Masyarakat

Kompas.com, 1 September 2026, 13:33 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Gelombang panas laut kini mulai disadari bukan sekadar masalah lingkungan biasa. Penelitian terbaru memperingatkan bahwa peristiwa meningkatnya suhu laut yang terlampau panas dalam jangka waktu lama itu juga dapat mengancam kesehatan fisik dan mental manusia.

Melansir Science Daily, Selasa (11/8/2026) para peneliti dari Adelaide University dan University of Hong Kong menyatakan bahwa gelombang panas laut seharusnya ditangani sebagai masalah kesehatan masyarakat yang penting.

Mereka menilai bahwa dampak fenomena ini terhadap manusia masih kurang mendapat perhatian, padahal bukti-bukti terus menunjukkan betapa luasnya dampak acara ini bagi masyarakat.

Sebuah laporan baru yang diterbitkan di jurnal Nature Sustainability menjelaskan bagaimana suhu laut yang terus-menerus tinggi dapat memicu dampak berantai bagi manusia.

Baca juga: Suhu Laut Naik, Kemampuan Padang Lamun Menyimpan Karbon Alami Merosot

Dampak berantai bagi manusia

Dampak ini meliputi cuaca ekstrem yang semakin parah, berkurangnya pasokan makanan laut, ancaman keamanan pangan, terganggunya mata pencaharian, hingga tekanan kesehatan mental yang lebih besar di daerah pesisir.

Penulis utama, Dr. Laura Falkenberg dari Adelaide University, menyampaikan bahwa para peneliti sejak lama telah menyadari kerusakan lingkungan akibat gelombang panas laut, tetapi dampaknya terhadap manusia sejauh ini masih sangat kurang mendapat perhatian.

"Gelombang panas laut tidak lagi hanya dianggap sebagai isu lingkungan. Fenomena ini makin disadari sebagai masalah kesehatan manusia," kata Dr. Falkenberg.

"Suhu laut yang memanas dapat memperparah badai dan gelombang panas di udara, memengaruhi ketersediaan dan keamanan makanan laut, mengganggu mata pencaharian, serta memicu kecemasan, rasa duka, dan dampak kesehatan mental lainnya pada masyarakat yang menggantungkan hidupnya pada laut yang sehat," terangnya lagi.

Gelombang panas laut kini makin sering terjadi, berlangsung lebih lama, dan mencapai tingkat keparahan yang lebih tinggi seiring memanasnya iklim bumi. Para ilmuwan telah mengaitkan fenomena ini dengan pemutihan karang secara luas, kematian massal biota laut, timbulnya ledakan alga berbahaya, hingga gangguan besar pada sektor perikanan dan budidaya laut.

Menurut para peneliti, kerusakan lingkungan tersebut pada akhirnya membawa dampak buruk yang serius bagi kehidupan manusia.

Baca juga: Ancaman Laut Dunia, Praktik Illegal Fishing Makin Marak Meski Terus Ditekan

Suhu air laut yang sangat panas dapat memperkuat sistem cuaca, sehingga meningkatkan risiko cedera, kematian, dan pengungsian akibat badai serta banjir.

Gelombang panas laut juga memperbesar kemungkinan munculnya ledakan alga berbahaya. Ledakan alga ini dapat mencemari makanan laut dan menimbulkan bahaya kesehatan yang serius bagi orang yang mengonsumsi atau bersentuhan dengan lingkungan laut yang terdampak.

Dampaknya bisa terus berlanjut meski gelombang panas laut telah berakhir. Penurunan populasi ikan dan berkurangnya hasil laut dapat mengancam ketahanan pangan bagi miliaran orang di seluruh dunia yang bergantung pada laut sebagai sumber gizi penting.

Para peneliti juga menyoroti efek psikologis dari hilangnya ekosistem laut. Orang-orang yang mata pencaharian, tradisi, dan identitas budayanya terikat erat dengan laut dapat mengalami stres emosional yang berat saat lingkungan yang biasa mereka kenal rusak.

"Banyak orang bergantung pada laut yang sehat bukan hanya untuk mencari makan dan penghasilan, tetapi juga untuk rekreasi, identitas budaya, serta kesejahteraan hidup mereka secara keseluruhan," kata Dr. Falkenberg.

"Ketika ekosistem laut rusak, dampaknya merembet ke seluruh lapisan masyarakat. Kami melihat makin banyak bukti bahwa perubahan ini dapat memicu kecemasan lingkungan, rasa duka, dan gangguan mental lainnya, terutama bagi mereka yang merasa memiliki ikatan batin yang kuat dengan laut," paparnya.

Pentingnya perencanaan kesehatan masyarakat

Para penulis menyatakan bahwa pemerintah dan lembaga kesehatan masyarakat harus bersiap menghadapi gelombang panas laut, sama seperti saat mereka bersiap menghadapi gelombang panas di darat.

Baca juga: Efek Domino El Niño Ancam Kelangsungan Ekosistem Laut Pasifik

Langkah-langkah tersebut dapat mencakup penggunaan prakiraan gelombang panas laut dalam perencanaan kesehatan masyarakat, memperhitungkan dampak kesehatan manusia saat mengambil keputusan tata kelola pesisir dan laut, serta memperkuat kerja sama antara ilmuwan laut, lembaga kesehatan, dan pengelola sumber daya alam.

Dr. Falkenberg mengatakan bahwa bersiap sebelum keadaan darurat terjadi dapat membuat masyarakat lebih tangguh saat gelombang panas laut menjadi makin parah.

"Menyadari dampak kesehatan ini adalah langkah pertama untuk melindungi masyarakat dengan lebih baik," ujarnya.

"Jika kita baru bertindak setelah bencana terjadi, dampak yang kita rasakan akan jauh lebih berat dibanding jika kita bertindak secara proaktif. Dengan memahami hubungan antara kesehatan laut dan kesehatan manusia, kita dapat membuat kebijakan yang lebih baik untuk melindungi masyarakat sekaligus ekosistem laut yang mereka andalkan," tambahnya.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Peneliti UI dan Kyoto University Berkolaborasi untuk Ubah Limbah Cair Kelapa Sawit Jadi Energi
Peneliti UI dan Kyoto University Berkolaborasi untuk Ubah Limbah Cair Kelapa Sawit Jadi Energi
LSM/Figur
Kian Dekat dengan Alam, Bantu Bangun Kebiasaan Makan Lebih Sehat
Kian Dekat dengan Alam, Bantu Bangun Kebiasaan Makan Lebih Sehat
Pemerintah
Pemerintah Diminta Susun Mekanisme Penyelesaian Wilayah Masyarakat Adat dengan Area Konsesi
Pemerintah Diminta Susun Mekanisme Penyelesaian Wilayah Masyarakat Adat dengan Area Konsesi
Pemerintah
Hanya 10 dari 516 Masyarakat Adat yang Diakui di Kaltim, Ini Penyebabnya
Hanya 10 dari 516 Masyarakat Adat yang Diakui di Kaltim, Ini Penyebabnya
Pemerintah
Karier Perempuan Sering Terhambat, Khususnya pada Posisi Dewan Direksi
Karier Perempuan Sering Terhambat, Khususnya pada Posisi Dewan Direksi
Pemerintah
Target WHO 2030: Deteksi Wabah Baru Hanya dalam 24 Jam
Target WHO 2030: Deteksi Wabah Baru Hanya dalam 24 Jam
Pemerintah
Perubahan Iklim Ancam Kesehatan Kulit Negara Berpendapatan Rendah
Perubahan Iklim Ancam Kesehatan Kulit Negara Berpendapatan Rendah
Pemerintah
Kerugian Hunian Akibat Bencana Capai 228 Miliar Dolar AS Setiap Tahunnya
Kerugian Hunian Akibat Bencana Capai 228 Miliar Dolar AS Setiap Tahunnya
Pemerintah
Astra Boyong 37 Peserta Binaan ke Trade Expo Indonesia 2026
Astra Boyong 37 Peserta Binaan ke Trade Expo Indonesia 2026
Desa Sejahtera Astra
Dua Tahun 'Water for Banuan', Dampak Nyata Air Bersih Berkelanjutan di Pelosok NTT
Dua Tahun "Water for Banuan", Dampak Nyata Air Bersih Berkelanjutan di Pelosok NTT
LSM/Figur
Kepemimpinan 'Human-Centered' Jadi Kunci Ukur Kesejahteraan Karyawan
Kepemimpinan "Human-Centered" Jadi Kunci Ukur Kesejahteraan Karyawan
Swasta
Antisipasi Ancaman Penyakit Pes, RI Perlu Perkuat Pemantauan Tikus
Antisipasi Ancaman Penyakit Pes, RI Perlu Perkuat Pemantauan Tikus
LSM/Figur
Satelit Ungkap Kota Dunia Alami Penurunan Tanah: Medan dan Bandung Masuk Daftar
Satelit Ungkap Kota Dunia Alami Penurunan Tanah: Medan dan Bandung Masuk Daftar
Pemerintah
Studi Ungkap Hubungan Lingkungan dan Kesehatan Mental Anak Muda
Studi Ungkap Hubungan Lingkungan dan Kesehatan Mental Anak Muda
Pemerintah
Strategi Para Petambak di Surabaya agar Mampu Bertahan dari Limbah Kiriman
Strategi Para Petambak di Surabaya agar Mampu Bertahan dari Limbah Kiriman
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau