KOMPAS.com - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperingatkan bahwa periode bulan Oktober–Desember 2026 sebagai waktu yang perlu memperoleh perhatian dalam pemantauan perkembangan fenomena El Niño.
Hasil analisis periode kritis dampak El Niño terhadap Indonesia tersebut berdasarkan kajian berjudul 'Super El Nino, Musim Kemarau Panjang, dan Pemanasan Benua Maritim Indonesia (IMC)',
Dalam kajiannya, peneliti ahli utama Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Eddy Hermawan menggunakan data pengamatan sekitar 76 tahun dengan mengombinasikan metode konvensional maupun machine learning untuk menganalisis pola dan kekuatan El Nino, serta periode kritis dampaknya terhadap Indonesia.
Baca juga: Sidak Sawah di Karawang, Mentan Amran Targetkan Panen Tiga Kali Meski El Nino
Faktor Indian Ocean Dipole (IOD) dan cold pool atau kolam dingin peluruhan hujan di sekitar wilayah Indonesia perlu dipertimbangkan untuk memperoleh gambaran fenomena El Niño pada 2026 secara lebih akurat. Jadi, perhitungan potensi risiko fenomena ini sepatutnya tidak hanya bertumpu pada data suhu muka laut di wilayah Nino 3.4.
Menurut Eddy, IOD perlu memperoleh perhatian yang sama seperti El Niño–Southern Oscillation (ENSO). Selama IOD tidak mendukung dan cold pool masih berada di kawasan Indonesia, dampak yang ditimbulkan fenomena El Niño pada 2026 kemungkinan tidak separah kejadian tahun 1997 maupun 2015.
Interaksi Nino 3.4, IOD, dan cold pool dapat memengaruhi kekuatan monsun Australia, yang membawa udara kering ke wilayah Indonesia.
Kondisi ini berisiko meningkatkan kerentanan wilayah dengan pola curah hujan monsunal, termasuk Sumatra dan Kalimantan, menjadi kawasan yang harus diperhatikan ketika mengalami periode kering lebih panjang. Ini terjadi lantaran iklim memperburuk kerentanan lingkungan di sana, terutama pada wilayah yang memiliki ekosistem gambut.
“Kalau hanya analisisnya berdasarkan Nino 3.4 saja, kita akan terkecoh. Tetapi kalau faktor IOD dimasukkan, hasilnya akan memberikan analisis yang lebih akurat. Keberadaan cold pool di wilayah timur Indonesia juga penting untuk dikaji lebih lanjut karena dapat memengaruhi dinamika El Nino,” ujar Eddy, dilansir dari laman resmi BRIN, Selasa (1/9/2026).
Diketahui, fenomena El Nino yang diproyeksikan menguat pada 2026 menjadi perhatian karena berpotensi meningkatkan risiko kekeringan, serta kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Khususnya, di wilayah Sumatra dan Kalimantan.
Dalam mengantisipasi dampak kekeringan dan karhutla, kata dia, perlu memahami dinamika iklim maupun berbagai faktor lain yang turut mempengaruhinya.
Baca juga: Super El Nino Berpotensi Ubah Pola Cuaca Ekstrem di 12 Kota Besar Asia
Di sisi lain, perubahan iklim global juga menjadi tantangan yang patut diperhatikan. Kenaikan kejadian ekstrem menunjukkan urgensi penguatan sistem pemantauan maupun mitigasi agar dapat meminimalkan dampaknya terhadap lingkungan, kesehatan masyarakat dan sektor pangan.
Menurut Eddy, kajian terhadap fenomena Super El Nino harus dilakukan secara hati-hati, dengan menggunakan analisis ilmiah secara mendalam supaya informasi yang dihasilkan bisa menjadi dasar dalam meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi kemungkinan dampak iklim ekstrem.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan mengingatkan masyarakat Indonesia untuk bersiap menghadapi kemungkinan intensitas El Nino kategori kuat terjadi bersamaan dengan IOD positif atau fenomena El Nino Godzilla.
"Jadi, kita harus bersiap menghadapi itu, sekaligus juga coupling-nya biasanya itu dengan IOD positif ya," ujar Ardhasena dalam webinar Prescribed Burning, El Nino, and Fire Management in Indonesia, Kamis (11/6/2026).
Sebagian besar wilayah Indonesia diproyeksikan mengalami akumulasi curah hujan musiman di bawah normal, yang menunjukkan kondisi lebih kering dari rata-rata dibandingkan dengan kondisi iklim dasar.
Sebanyak 325 zona musim (ZOMs) atau 46,5 persen wilayah Indonesia diproyeksikan memasuki musim kemarau lebih awal dari biasanya secara klimatologis.
Kemudian, sebanyak 400 ZOMs atau 57,2 persen wilayah Indonesia diproyeksikan mengalami musim kemarau yang lebih panjang dari normal klimatologis. Lalu, sebanyak 451 ZOM atau 64,5 persen wilayah Indonesia diproyeksikan mengalami musim kemarau yang kondisi keringnya di bawah dari normal klimatologis.
"Normalnya musim kemarau sendiri kan bukan sesuatu yang baik ya karena normal relatif terhadap curah hujan yang rendah gitu. Kalau di bawah normal untuk kemarau berarti dia lebih kering lagi," tutur Ardhasena.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya