Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Potensi Risiko Super El Niño, BRIN Ingatkan Oktober-Desember 2026 Periode Kritis

Kompas.com, 2 September 2026, 14:45 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperingatkan bahwa periode bulan Oktober–Desember 2026 sebagai waktu yang perlu memperoleh perhatian dalam pemantauan perkembangan fenomena El Niño.

Hasil analisis periode kritis dampak El Niño terhadap Indonesia tersebut berdasarkan kajian berjudul 'Super El Nino, Musim Kemarau Panjang, dan Pemanasan Benua Maritim Indonesia (IMC)',

‎Dalam kajiannya, peneliti ahli utama Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Eddy Hermawan menggunakan data pengamatan sekitar 76 tahun dengan mengombinasikan metode konvensional maupun machine learning untuk menganalisis pola dan kekuatan El Nino, serta periode kritis dampaknya terhadap Indonesia. 

Baca juga: Sidak Sawah di Karawang, Mentan Amran Targetkan Panen Tiga Kali Meski El Nino

‎Faktor Indian Ocean Dipole (IOD) dan cold pool atau kolam dingin peluruhan hujan di sekitar wilayah Indonesia perlu dipertimbangkan untuk memperoleh gambaran fenomena El Niño pada 2026 secara lebih akurat. Jadi, perhitungan potensi risiko fenomena ini sepatutnya tidak hanya bertumpu pada data suhu muka laut di wilayah Nino 3.4.

‎Menurut Eddy, IOD perlu memperoleh perhatian yang sama seperti El Niño–Southern Oscillation (ENSO). Selama IOD tidak mendukung dan cold pool masih berada di kawasan Indonesia, dampak yang ditimbulkan fenomena El Niño pada 2026 kemungkinan tidak separah kejadian tahun 1997 maupun 2015.

‎Interaksi Nino 3.4, IOD, dan cold pool dapat memengaruhi kekuatan monsun Australia, yang membawa udara kering ke wilayah Indonesia.

Kondisi ini berisiko meningkatkan kerentanan wilayah dengan pola curah hujan monsunal, termasuk Sumatra dan Kalimantan, menjadi kawasan yang harus diperhatikan ketika mengalami periode kering lebih panjang. Ini terjadi lantaran iklim memperburuk kerentanan lingkungan di sana, terutama pada wilayah yang memiliki ekosistem gambut.

‎“Kalau hanya analisisnya berdasarkan Nino 3.4 saja, kita akan terkecoh. Tetapi kalau faktor IOD dimasukkan, hasilnya akan memberikan analisis yang lebih akurat. Keberadaan cold pool di wilayah timur Indonesia juga penting untuk dikaji lebih lanjut karena dapat memengaruhi dinamika El Nino,” ujar Eddy, dilansir dari laman resmi BRIN, Selasa (1/9/2026).

‎Diketahui, fenomena El Nino yang diproyeksikan menguat pada 2026 menjadi perhatian karena berpotensi meningkatkan risiko kekeringan, serta kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Khususnya, di wilayah Sumatra dan Kalimantan.

Dalam mengantisipasi dampak kekeringan dan karhutla, kata dia, perlu memahami dinamika iklim maupun berbagai faktor lain yang turut mempengaruhinya.

Baca juga: Super El Nino Berpotensi Ubah Pola Cuaca Ekstrem di 12 Kota Besar Asia

‎Di sisi lain, perubahan iklim global juga menjadi tantangan yang patut diperhatikan. Kenaikan kejadian ekstrem menunjukkan urgensi penguatan sistem pemantauan maupun mitigasi agar dapat meminimalkan dampaknya terhadap lingkungan, kesehatan masyarakat dan sektor pangan.

‎Menurut Eddy, kajian terhadap fenomena Super El Nino harus dilakukan secara hati-hati, dengan menggunakan analisis ilmiah secara mendalam supaya informasi yang dihasilkan bisa menjadi dasar dalam meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi kemungkinan dampak iklim ekstrem.

‎Bersiap hadapi El Niño kuat

‎Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan mengingatkan masyarakat Indonesia untuk bersiap menghadapi kemungkinan intensitas El Nino kategori kuat terjadi bersamaan dengan IOD positif atau fenomena El Nino Godzilla.

"Jadi, kita harus bersiap menghadapi itu, sekaligus juga coupling-nya biasanya itu dengan IOD positif ya," ujar Ardhasena dalam webinar Prescribed Burning, El Nino, and Fire Management in Indonesia, Kamis (11/6/2026).

‎Sebagian besar wilayah Indonesia diproyeksikan mengalami akumulasi curah hujan musiman di bawah normal, yang menunjukkan kondisi lebih kering dari rata-rata dibandingkan dengan kondisi iklim dasar.

Sebanyak 325 zona musim (ZOMs) atau 46,5 persen wilayah Indonesia diproyeksikan memasuki musim kemarau lebih awal dari biasanya secara klimatologis.

‎Kemudian, sebanyak 400 ZOMs atau 57,2 persen wilayah Indonesia diproyeksikan mengalami musim kemarau yang lebih panjang dari normal klimatologis. Lalu, sebanyak 451 ZOM atau 64,5 persen wilayah Indonesia diproyeksikan mengalami musim kemarau yang kondisi keringnya di bawah dari normal klimatologis. 

‎"Normalnya musim kemarau sendiri kan bukan sesuatu yang baik ya karena normal relatif terhadap curah hujan yang rendah gitu. Kalau di bawah normal untuk kemarau berarti dia lebih kering lagi," tutur Ardhasena.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Menaker: Waspadai Paradoks 'Green Jobs'
Menaker: Waspadai Paradoks "Green Jobs"
Pemerintah
Karhutla Ulah Manusia, Satwa Liar Akan Jadi Korban Sekaligus Disalahkan
Karhutla Ulah Manusia, Satwa Liar Akan Jadi Korban Sekaligus Disalahkan
LSM/Figur
Kebutuhan Terus Meningkat, Pemerintah Siapkan Peta Jalan 'Green Jobs'
Kebutuhan Terus Meningkat, Pemerintah Siapkan Peta Jalan "Green Jobs"
Pemerintah
Indonesia Didesak Masukkan Rencana PLTS 100 GW ke Sistem Kelistrikan Nasional
Indonesia Didesak Masukkan Rencana PLTS 100 GW ke Sistem Kelistrikan Nasional
Pemerintah
Pasokan Pangan untuk Jakarta Berstatus Sangat Rentan Meski Ada 1.399 Titik 'Urban Farming'
Pasokan Pangan untuk Jakarta Berstatus Sangat Rentan Meski Ada 1.399 Titik "Urban Farming"
Pemerintah
UNICEF: 660 Anak Terinfeksi HIV Setiap Hari Selama 2025
UNICEF: 660 Anak Terinfeksi HIV Setiap Hari Selama 2025
Pemerintah
Beberapa Kota Pesisir Tenggelam Lebih Cepat daripada Kenaikan Air Laut
Beberapa Kota Pesisir Tenggelam Lebih Cepat daripada Kenaikan Air Laut
Pemerintah
Potensi Risiko Super El Niño, BRIN Ingatkan Oktober-Desember 2026 Periode Kritis
Potensi Risiko Super El Niño, BRIN Ingatkan Oktober-Desember 2026 Periode Kritis
Pemerintah
Seberapa Efektif AC Mencegah Kematian Akibat Panas Ekstrem?
Seberapa Efektif AC Mencegah Kematian Akibat Panas Ekstrem?
Pemerintah
Ini Ancaman Tersembunyi Usai Api Karhutla Mulai Padam
Ini Ancaman Tersembunyi Usai Api Karhutla Mulai Padam
LSM/Figur
Reaktor Nuklir Skala Kecil Berpotensi Dukung Penyediaan Air Bersih di Daerah Terpencil
Reaktor Nuklir Skala Kecil Berpotensi Dukung Penyediaan Air Bersih di Daerah Terpencil
LSM/Figur
Ancaman Gelombang Panas Laut, Mulai Ganggu Kesehatan Masyarakat
Ancaman Gelombang Panas Laut, Mulai Ganggu Kesehatan Masyarakat
Pemerintah
NEPIO Berpotensi Terlalu Gemuk, ITB Ingatkan Birokrasi Bikin Capaian Target PLTN Bergerak Lambat
NEPIO Berpotensi Terlalu Gemuk, ITB Ingatkan Birokrasi Bikin Capaian Target PLTN Bergerak Lambat
LSM/Figur
Dorong Industri Hijau, Pabrik Farmasi Ini Pasang PLTS Atap Guna Tekan Emisi Karbon
Dorong Industri Hijau, Pabrik Farmasi Ini Pasang PLTS Atap Guna Tekan Emisi Karbon
Swasta
Efek Tak Terduga CO2, Diam-Diam Pengaruhi Sistem Darah Manusia
Efek Tak Terduga CO2, Diam-Diam Pengaruhi Sistem Darah Manusia
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau