Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kerusakan Tanah Dunia Mengkhawatirkan, PBB Soroti Solusi yang Belum Maksimal

Kompas.com, 3 September 2026, 15:50 WIB
Monika Novena,
Andika Aditia

Tim Redaksi

Sumber CNA

KOMPAS.com - Lebih dari separuh tanah di dunia berada dalam kondisi buruk sehingga mengancam pasokan pangan global dan keanekaragaman hayati. Padahal, langkah-langkah yang terbukti bisa memulihkan kesehatan tanah justru tidak dijalankan, menurut laporan PBB.

"Secara global, kita harus mengubah pola pikir dari mengeksploitasi tanah menjadi merawat tanah," peringat Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO).

Melansir CNA, Kamis (27/8/2026) tanah menopang 95 persen produksi pangan kita, menjadi rumah bagi 59 persen keanekaragaman hayati global, serta berfungsi sebagai penyerap karbon terbesar kedua di bumi setelah lautan.

Namun, kerusakan tanah terus memburuk dengan kecepatan yang mengkhawatirkan.

Laporan tersebut menemukan bahwa di 52,5 persen wilayah dan subwilayah, pengelolaan tanah berada dalam kondisi buruk atau sangat buruk. Di sepertiga wilayah lainnya berada di tingkat sedang, sementara hanya di 14 persen wilayah yang pengelolaannya dinilai baik atau sangat baik.

Baca juga: El Nino dan Musim Kemarau Panjang Picu Eksploitasi Air Tanah

Ini merupakan laporan utama kedua dari FAO yang menilai kesehatan tanah di seluruh planet ini, setelah laporan pertamanya pada tahun 2015. Laporan pertama saat itu menemukan bahwa sebagian besar tanah di dunia berada dalam kondisi sedang, buruk, atau sangat buruk.

Sejak saat itu, menurut FAO, populasi dunia telah bertambah 800 juta jiwa, sementara 80 juta hektar lahan baru telah dialihfungsikan untuk tanaman pangan utama.

Ancaman erosi

Para ahli menyebutkan bahwa erosi adalah ancaman terbesar bagi tanah, di mana tanah terkikis oleh air atau terbawa angin akibat praktik pengelolaan yang tidak ramah lingkungan.

Ancaman lainnya meliputi hilangnya zat organik dalam tanah, kesalahan pengelolaan nutrisi, berkurangnya keanekaragaman hayati tanah, penumpukan garam, polusi, serta perluasan area perkotaan.

Perubahan iklim berisiko memperburuk sebagian besar masalah ini, sementara kerusakan tanah itu sendiri juga dapat memperparah perubahan iklim. Sebaliknya, memulihkan kesehatan tanah justru bisa meningkatkan ketahanan lingkungan dan membantu melawan pemanasan global.

Para penulis menyatakan bahwa sebagian besar teknik untuk melindungi dan memulihkan tanah sebenarnya sudah sangat dikenal sebelum tahun 2015, namun cara-cara tersebut masih belum diterapkan secara luas.

Para ahli menyebutkan bahwa pengelolaan tanah hanya membaik di 10 persen wilayah yang diteliti, sementara di 58 persen wilayah lainnya justru semakin memburuk.

Baca juga: Eksploitasi Air Tanah Persulit Mangrove Bantu Selamatkan Kawasan Pesisir

Salah satu teknik utama untuk mengurangi kerusakan tanah adalah mengurangi atau menghentikan pengolahan tanah seperti membajak. Meskipun cara membajak sudah ada sejak awal sejarah pertanian, proses ini sebenarnya merusak kehidupan organik di dalam tanah dan membuatnya rapuh sehingga mudah terkikis erosi.

Metode lain untuk melindungi dan memulihkan tanah adalah menanam tanaman penutup tanah, seperti polong-polongan dan tanaman kubis-kubisan.

Tanaman ini ditanam di lahan yang sedang beristirahat untuk mengikat tanah agar tidak mudah terkikis sekaligus memperkaya kandungan nutrisinya. Selain itu, ada juga metode agroforestri, yaitu menggabungkan penanaman pohon ke dalam lahan pertanian.

Penggunaan pupuk alami maupun buatan secara lebih bijak juga merupakan strategi kunci.

FAO menyatakan bahwa hambatan utamanya bukanlah kurangnya pengetahuan, melainkan terbatasnya akses ke sumber daya serta tingginya biaya awal yang menyulitkan petani untuk menerapkan pengelolaan tanah yang lebih baik. PBB pun mendesak adanya insentif keuangan yang lebih besar, penyediaan data lokal yang lebih akurat, serta pemanfaatan kearifan lokal.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pakar UI: Kebakaran TPA Berulang Tunjukkan Transformasi 'Open Dumping' Belum Efektif
Pakar UI: Kebakaran TPA Berulang Tunjukkan Transformasi "Open Dumping" Belum Efektif
LSM/Figur
Erupsi Gunung Anak Krakatau Jadi Awal Pembentukan Ekosistem Baru
Erupsi Gunung Anak Krakatau Jadi Awal Pembentukan Ekosistem Baru
LSM/Figur
Potensi Unik Mikroba Asli Tanah Sulawesi, Bisa Bantu Pulihkan Lahan Bekas Tambang
Potensi Unik Mikroba Asli Tanah Sulawesi, Bisa Bantu Pulihkan Lahan Bekas Tambang
LSM/Figur
SIG Dorong Penggunaan Bahan Bakar Alternatif untuk Tekan Emisi Industri Semen
SIG Dorong Penggunaan Bahan Bakar Alternatif untuk Tekan Emisi Industri Semen
Pemerintah
Rantai Dingin Jadi Kunci Kurangi Ikan Terbuang, Energi Bersih Didorong untuk Dimanfaatkan
Rantai Dingin Jadi Kunci Kurangi Ikan Terbuang, Energi Bersih Didorong untuk Dimanfaatkan
Swasta
Walhi: Berulangnya Kebakaran TPA karena Buruknya Tata Kelola Sampah
Walhi: Berulangnya Kebakaran TPA karena Buruknya Tata Kelola Sampah
LSM/Figur
KLH: Potensi Ekonomi Karbon Bantu Industri Nikel Lakukan Dekarbonisasi
KLH: Potensi Ekonomi Karbon Bantu Industri Nikel Lakukan Dekarbonisasi
Pemerintah
Thailand Kucurkan Investasi Rp 26,66 Triliun untuk Panel Surya Atap
Thailand Kucurkan Investasi Rp 26,66 Triliun untuk Panel Surya Atap
Pemerintah
Penegasan Batas Desa, Jadi Fondasi Cegah Perambahan Hutan dan Perlindungan Hak Masyarakat Adat
Penegasan Batas Desa, Jadi Fondasi Cegah Perambahan Hutan dan Perlindungan Hak Masyarakat Adat
Pemerintah
PBB Peringatkan El Nino Sangat Kuat, Diprediksi Bertahan hingga Februari 2027
PBB Peringatkan El Nino Sangat Kuat, Diprediksi Bertahan hingga Februari 2027
Pemerintah
OJK Siapkan Aturan Wajibkan TKBI, Aspek HAM Masuk Penilaian Keuangan Berkelanjutan
OJK Siapkan Aturan Wajibkan TKBI, Aspek HAM Masuk Penilaian Keuangan Berkelanjutan
Pemerintah
Emisi Kebakaran Indonesia Tertinggi di Dunia, 19,7 Juta Ton Sepekan
Emisi Kebakaran Indonesia Tertinggi di Dunia, 19,7 Juta Ton Sepekan
Pemerintah
Saat Ketan Hitam Sigi Disulap Jadi Skincare Tradisional...
Saat Ketan Hitam Sigi Disulap Jadi Skincare Tradisional...
LSM/Figur
258 Juta Anak di 87 Negara Terdampak Krisis Pendidikan, 74 Juta Tak Sekolah
258 Juta Anak di 87 Negara Terdampak Krisis Pendidikan, 74 Juta Tak Sekolah
Pemerintah
Bappenas Finalisasi Rencana Aksi Food Loss and Waste, Berharap Sistem Pangan Berdampak ke Krisis Iklim
Bappenas Finalisasi Rencana Aksi Food Loss and Waste, Berharap Sistem Pangan Berdampak ke Krisis Iklim
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau