Dan tak kalah penting, model bisnis ramah lingkungan jumlahnya masih sangat terbatas, meskipun minat masyarakat makin naik.
Meskipun kenaikan emisi tahunan ini mengkhawatirkan dan menekan para pelaku industri untuk memangkas karbon lebih cepat di tahun-tahun mendatang, laporan ini juga mencatat beberapa kisah sukses yang patut ditiru.
Sebagai contoh, H&M Group berhasil memangkas emisi karbon tidak langsungnya (Scope 3) lebih dari sepertiga dari tahun 2019 hingga 2025.
Dengan komitmen untuk menghapus seluruh penggunaan mesin pemanas berbahan bakar batu bara di rantai pasokannya pada akhir tahun ini, perusahaan telah memangkas jumlah pabrik pemasok yang memakai pemanas batu bara dari 118 pabrik pada tahun 2022 menjadi tersisa 10 pabrik pada akhir 2025.
Sementara itu, Inditex yang merupakan pemilik merek Zara dan Massimo Dutti berhasil mengurangi emisi dari barang dan jasa yang dibelinya sebesar 16 persen dari tahun 2018 hingga tahun fiskal 2025.
Keberhasilan ini dicapai karena mereka berfokus pada penggunaan serat bahan yang ramah lingkungan. Kini, hampir 90 persen serat yang digunakan Inditex tergolong berdampak rendah bagi lingkungan, termasuk 47 persen di antaranya yang dibuat menggunakan bahan hasil daur ulang.
Berdasarkan keberhasilan tersebut, Aii mengidentifikasi empat langkah kunci untuk mempercepat kemajuan pemangkasan emisi.
Langkah pertama adalah mengalihkan komitmen menjadi tindakan nyata di tingkat pabrik. Hal ini dilakukan dengan membuat rencana proyek dan tenggat waktu yang jelas, sehingga target emisi yang besar bisa diubah menjadi pengurangan karbon yang nyata.
Langkah kedua adalah mendanai dan mendukung aksi para pabrik. Langkah ini memastikan beban biaya dan operasional ditanggung bersama di sepanjang rantai produksi, contohnya dengan memberikan kontrak pembelian jangka panjang kepada pihak pabrik.
Baca juga: Larangan Pemusnahan Pakaian Tak Terjual Resmi Berlaku di Uni Eropa
Langkah ketiga adalah mengukur, meniru, dan memperluas proyek yang berhasil. Dengan begitu, uji coba yang sukses bisa dijadikan standar praktik industri secara luas, bukan sekadar proyek sekali jalan.
Langkah terakhir, laporan tersebut menekankan pentingnya menurunkan jumlah emisi secara mutlak sambil tetap mengendalikan pertumbuhan produksi, bukan sekadar membayar kompensasi emisi. Artinya, industri harus meningkatkan efisiensi, mengurangi limbah, beralih ke bahan ramah lingkungan, dan menerapkan model circular economy, bersamaan dengan transisi pabrik meninggalkan energi berbahan bakar fosil.
"Energi terbarukan dan elektrifikasi adalah bagian penting dari aksi iklim global. Kemajuan industri fashion dalam memperluas teknologi efisiensi dan elektrifikasi, serta menyalurkan modal secara lebih efektif, dapat menjadi contoh peta jalan bagi industri lain," ujar Chief Impact Officer Aii, Kurt Kipka.
"Menjelang konferensi iklim COP31, harapan kami adalah industri dan pemerintah menyadari betapa pentingnya solusi energi bersih dan pemanas bersih untuk mendukung pemangkasan emisi di sektor ini," tambahnya.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya