KOMPAS.com - Target global untuk membatasi kenaikan suhu bumi di angka 1,5 derajat C kini sudah tidak mungkin terkejar. Hal tersebut diungkapkan dalam laporan Program Lingkungan PBB (UNEP).
Sebagai informasi angka 1,5 derajat C merupakan batas aman untuk menghindari dampak perubahan iklim terparah.
Menurut laporan tersebut, seperti dilansir dari ESG Today, Rabu (2/9/2026) skenario terbaik yang bisa dicapai saat ini adalah menahan kenaikan suhu di angka 1,8 derajat C.
Namun meski batas 1,5 derajat C diperkirakan akan terlampaui, laporan berjudul "Limiting Overshoot" ini menyarankan agar target jangka panjang 1,5 derajat C tetap dipertahankan.
Sebelumnya, Perjanjian Paris yang disepakati oleh 195 negara pada tahun 2015 memiliki target utama menahan kenaikan suhu global di bawah 2 derajat C, sambil terus diusahakan agar tidak melewati 1,5 derajat C. Saat ini terdapat 194 negara anggota dalam perjanjian tersebut, setelah pemerintahan Trump secara resmi menarik AS keluar awal tahun ini.
Baca juga: Perubahan Iklim Perpanjang Durasi Panas Ekstrem hingga 4 Jam per Hari
Menurut laporan baru PBB ini, meskipun masyarakat internasional telah mengalami kemajuan dalam mengatasi perubahan iklim sejak Perjanjian Paris disepakati, aksi global untuk memotong emisi ini masih belum cukup untuk mencegah terlewatinya batas 1,5 derajat C.
Laporan tersebut memperkirakan bahwa dengan kebijakan yang ada saat ini, pemanasan global rata-rata akan mencapai sekitar 2,6 derajat C pada tahun 2100. Bahkan dalam skenario paling optimis sekalipun, kenaikan suhu diperkirakan akan memuncak di angka sekitar 1,8 derajat C.
PBB menegaskan bahwa risiko dan dampak buruk akan makin parah pada setiap kenaikan sekecil apa pun di atas 1,5 derajat C. Dampak yang diantisipasi meliputi cuaca ekstrem yang makin parah, hancurnya ekosistem, serta tenggelamnya negara-negara pulau kecil dan kota-kota pesisir yang rendah.
Hal itu akan merusak kesehatan manusia, ketahanan pangan, pasokan air, alam, infrastruktur, hingga perekonomian. Laporan ini juga mengingatkan bahwa semakin lama dan semakin tinggi suhu bumi melonjak, semakin besar pula risiko terjadinya kerusakan permanen pada bumi yang tidak bisa dipulihkan kembali.
"Tidak ada kabar baik jika suhu bumi tetap berada di atas 1,5 derajat C. Di seluruh dunia, gelombang panas ekstrem telah membuktikan bahwa dampak iklim akan menyerang lebih cepat, menghantam lebih keras, dan bertahan lebih lama, memakan lebih banyak korban jiwa dan menyebabkan gangguan yang lebih dalam," ungkap Inger Andersen, Direktur Eksekutif UNEP.
Laporan ini pun menawarkan skenario "melonjak, memuncak, lalu turun" sebagai pilihan terbaik yang tersisa untuk menahan suhu serendah mungkin dan menurunkannya kembali pada akhir abad ini, sambil menekankan pentingnya langkah adaptasi untuk mengurangi risiko.
Baca juga: Dampak Perubahan Iklim, 560 Juta Anak Dunia Terpapar Panas Ekstrem Tambahan
Laporan ini merincikan tiga tahap utama yakni Tahap Respon Cepat (sekarang) dengan cara memotong emisi secara drastis termasuk gas metana serta melindungi masyarakat yang paling rentan terhadap dampak perubahan iklim.
Kemudian tahap berikutnya adalah Penanganan & Pengendalian (saat suhu memuncak) dengan cara menghentikan penggunaan bahan bakar fosil secara menyeluruh hingga mencapai nol emisi bersih, sambil mengelola risiko krisis yang terjadi.
Terakhir adalah Tahap Ketahanan Jangka Panjang yang dilakukan dengan terus menyerap dan mengikis karbon dari atmosfer agar suhu bumi bisa kembali turun secara berkelanjutan.
Laporan tersebut juga menekankan perlunya solusi Penyerapan Karbon Dioksida untuk membantu menurunkan emisi hingga ke tingkat negatif.
Namun, laporan ini memberikan catatan bahwa ada berbagai keterbatasan dan risiko dari penerapan CDR secara besar-besaran seperti ketidakpastian kemampuan dan daya tahannya, keterbatasan tempat penyimpanan di dalam bumi, serta risiko terhadap keanekaragaman hayati dan ketahanan pangan.
"Sekarang adalah saatnya kita melipatgandakan aksi iklim. Kita bisa dan harus kembali ke jalur yang benar. Caranya dengan memotong emisi gas rumah kaca, memperkuat ketahanan dan adaptasi, serta memastikan agar lonjakan suhu di atas 1,5 derajat C terjadi sekecil dan sesingkat mungkin," tambah Andersen.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya