Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

UNICEF: 1 dari 5 Anak Jadi Korban Kekerasan Seksual Online

Kompas.com, 7 September 2026, 09:54 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Peringatan: Artikel ini memuat informasi mengenai pelecehan atau kekerasan seksual yang dapat memicu ketidaknyamanan atau trauma bagi sebagian pembaca

KOMPAS.com - Sekitar 20 juta anak berusia 12 hingga 17 tahun atau atau satu dari lima anak di 21 negara menjadi korban eksploitasi seksual melalui teknologi seperti media sosial, menurut laporan Badan Anak-Anak PBB (UNICEF) yang dirilis Kamis, (3/9/2026).

Lebih dari 15 juta anak pada kelompok usia ini terpapar konten seksual yang tidak diinginkan, sembilan juta anak dipaksa melakukan percakapan seksual atau mengirim foto vulgar, dan empat juta anak mengalami penyebaran foto seksual mereka tanpa persetujuan.

UNICEF menyatakan bahwa angka sebenarnya kemungkinan jauh lebih tinggi.

"Laporan ini mengungkap kenyataan yang sangat menyakitkan. Lebih dari 20 juta anak di negara-negara yang diteliti menjadi korban eksploitasi atau terpapar konten seksual secara paksa di dunia digital,tempat yang seharusnya menjadi ruang mereka belajar, bermain, dan berteman," kata Catherine Russell, Direktur Eksekutif UNICEF seperti dikutip dari laman resmi United Nations.

Baca juga: UNICEF: Kasus Cyberbullying hingga Kekerasan Seksual Anak Terus Meningkat

Dieksploitasi di media sosial

Hampir 60 persen kasus eksploitasi dalam laporan ini terjadi di platform media sosial seperti Facebook, Instagram, Snapchat, TikTok, dan WhatsApp, sementara 14 persen terjadi di gim daring. Fitur-fitur di platform tersebut sering kali dimanfaatkan pelaku untuk menjebak dan meraih kepercayaan korban.

Sekitar 38 persen anak pertama kali mengenal pelaku secara daring. Bukti menunjukkan bahwa kejahatan ini sering dipermudah oleh fitur-fitur platform yang memang memungkinkan pelaku menyembunyikan identitas asli mereka.

Lebih lanjut, di 21 negara tersebut, 57 persen kasus eksploitasi justru melibatkan pelaku yang dikenal oleh anak-anak, termasuk teman sebaya, sahabat, dan anggota keluarga.

Dalam wawancara bersama peneliti, anak-anak yang mengalami eksploitasi seksual menceritakan dampak buruk terhadap kesehatan emosional, rasa aman, dan kepercayaan mereka kepada orang lain seperti rasa takut, malu, bingung, hingga merasa terasingkan.

"Saya tidak tahu harus merespons bagaimana. Saya merasa sedikit syok," kata seorang perempuan muda dari Republik Dominika setelah foto pribadinya disebarkan tanpa izin saat ia berusia 14 tahun.

Menurut analisis tersebut, anak-anak yang mengalami eksploitasi seksual berbasis teknologi berisiko empat kali lebih tinggi untuk berpikiran atau mencoba bunuh diri serta melukai diri sendiri, dan mengalami tingkat kecemasan yang jauh lebih tinggi.

Di Pakistan, risiko melukai diri sendiri bahkan tujuh kali lipat lebih tinggi pada anak-anak yang pernah dieksploitasi.

Baca juga: UNICEF: 660 Anak Terinfeksi HIV Setiap Hari Selama 2025

Bingung harus minta tolong ke mana

Lebih dari 40 persen kasus kekerasan berbasis teknologi tidak pernah diceritakan kepada siapa pun, sementara kurang dari satu persen yang dilaporkan ke pihak berwajib.

Alasan paling umum adalah karena anak-anak tidak tahu harus melapor kepada siapa.

"Pengalaman-pengalaman ini menyebabkan penderitaan mental dan emosional yang sangat mendalam. Banyak anak menderita dalam diam tanpa tahu harus meminta bantuan ke mana. Kita tidak boleh menutup mata," kata Russell.

"Kita semua, termasuk pemerintah dan perusahaan teknologi, harus berbuat lebih banyak untuk melindungi anak-anak di dunia maya," tegasnya.

Para peneliti menyampaikan tiga imbauan utama untuk mencegah kejahatan terus berlangsung. Pertama, perusahaan teknologi harus memperketat perlindungan bagi anak-anak dan mempermudah sistem pelaporan.

Selain itu pemerintah harus memperkuat aturan hukum dan menindak tegas para pelaku. Masyarakat juga harus mengubah pandangan keliru yang mewajarkan pemikiran seksual terhadap anak perempuan serta menghentikan prasangka buruk pada korban kejahatan seksual.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Kemenhut Pilih Wehea-Kelay sebagai Lokasi Percontohan Multiusaha Kehutanan
Kemenhut Pilih Wehea-Kelay sebagai Lokasi Percontohan Multiusaha Kehutanan
Pemerintah
Ekonomi Biru Indonesia Butuh Pembiayaan Inovatif, Hilirisasi Rumput Laut Jadi Peluang
Ekonomi Biru Indonesia Butuh Pembiayaan Inovatif, Hilirisasi Rumput Laut Jadi Peluang
Pemerintah
Ilmuwan yang Terlalu Percaya Solusi Teknologi Cenderung Pasif Hadapi Krisis Iklim
Ilmuwan yang Terlalu Percaya Solusi Teknologi Cenderung Pasif Hadapi Krisis Iklim
Pemerintah
AHY Soroti Pencemaran dan Sedimentasi Sungai, Dorong Pengelolaan Air Terpadu
AHY Soroti Pencemaran dan Sedimentasi Sungai, Dorong Pengelolaan Air Terpadu
Pemerintah
Program FOLU dan PBNU Rintis Pemanfaatan Hutan Selain Tebu di Blitar Jatim
Program FOLU dan PBNU Rintis Pemanfaatan Hutan Selain Tebu di Blitar Jatim
LSM/Figur
Pertamina Kembangkan Biogasoline Sawit dan Bioetanol Sorgum
Pertamina Kembangkan Biogasoline Sawit dan Bioetanol Sorgum
BUMN
Pengurangan Emisi Krusial untuk Tekan Penyakit Bawaan Nyamuk
Pengurangan Emisi Krusial untuk Tekan Penyakit Bawaan Nyamuk
LSM/Figur
Kota Rendah Karbon Butuh Tata Kelola Terintegrasi dan Kolaborasi Antardaerah
Kota Rendah Karbon Butuh Tata Kelola Terintegrasi dan Kolaborasi Antardaerah
LSM/Figur
AI dan Transisi Energi Buka Peluang Investasi, Indonesia Perlu Siapkan Talenta
AI dan Transisi Energi Buka Peluang Investasi, Indonesia Perlu Siapkan Talenta
Swasta
Menteri LH Apresiasi Ekowisata yang Memuliakan Lingkungan, dari Dusun Bambu hingga EIGER Nature
Menteri LH Apresiasi Ekowisata yang Memuliakan Lingkungan, dari Dusun Bambu hingga EIGER Nature
BrandzView
Astra dan BKKBN Perkuat Kolaborasi Pencegahan Stunting di Desa Sejahtera Astra Gedepangrango
Astra dan BKKBN Perkuat Kolaborasi Pencegahan Stunting di Desa Sejahtera Astra Gedepangrango
Desa Sejahtera Astra
Langkah Membumi Market 2026 Buktikan Gaya Hidup Ramah Lingkungan Bisa Menyenangkan
Langkah Membumi Market 2026 Buktikan Gaya Hidup Ramah Lingkungan Bisa Menyenangkan
Swasta
Krisis Iklim Dorong Pernikahan Anak dan Kehamilan Remaja
Krisis Iklim Dorong Pernikahan Anak dan Kehamilan Remaja
Pemerintah
Kasus Melonjak, WHO Terbitkan Panduan Global Pertama Penanganan Obesitas Anak
Kasus Melonjak, WHO Terbitkan Panduan Global Pertama Penanganan Obesitas Anak
Pemerintah
Studi Global: Adopsi AI Justru Dorong Peningkatan Lapangan Kerja
Studi Global: Adopsi AI Justru Dorong Peningkatan Lapangan Kerja
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau