Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Aksi Terpadu Tangani Iklim dan Polusi Udara Berikan Keuntungan 15 Kali Lipat

Kompas.com, 9 September 2026, 09:30 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber Edie

KOMPAS.com - Laporan baru PBB memperkirakan bahwa aksi terpadu dalam menangani iklim dan polusi udara dapat memberikan keuntungan hingga 15 kali lipat.

Laporan berjudul Hidden assets: The economic and health case for climate and clean air action ini diterbitkan bersama oleh Program Lingkungan PBB (UNEP) dan Koalisi Iklim dan Udara Bersih (CCAC).

Melansir Edie, Senin (7/9/2026) meskipun perubahan iklim dan polusi udara memiliki banyak akar masalah yang sama kedua isu ini biasanya ditangani secara terpisah.

Laporan UNEP lainnya memperingatkan bahwa pemanasan global diperkirakan akan melampaui ambang batas 1,5 derajat C di atas tingkat pra-industri dalam dekade berikutnya di bawah setiap skenario yang diteliti, termasuk jalur paling optimistis milik PBB.

Di bawah kebijakan saat ini, rata-rata pemanasan global diproyeksikan mencapai sekitar 2,6 derajat C pada tahun 2100, dengan kisaran antara 1,9 derajat C hingga 3,6 derajat C.

Dampak dari kenaikan suhu bumi di atas 1,5 derajat C tidak hanya berupa suhu rata-rata yang lebih panas. UNEP menyatakan bahwa cuaca ekstrem, pencairan gletser, kerusakan ekosistem, dan kenaikan permukaan air laut akan makin parah seiring meningkatnya pemanasan global.

Baca juga: Pengaruh Sosial Bisa Jadi Kunci Menghadapi Perubahan Iklim

Kesehatan manusia, ketahanan pangan dan air, serta kawasan perkotaan dan infrastruktur akan menghadapi tekanan yang lebih berat. Sementara itu, beberapa kerusakan yang terjadi tidak akan bisa dipulihkan kembali meskipun suhu bumi nantinya kembali menurun.

Penanganan yang terpadu

Laporan baru ini menekankan bahwa penanganan krisis iklim dan upaya penyediaan udara bersih harus digabungkan, bukan lagi dikerjakan secara terpisah.

Dengan intervensi yang cepat dan signifikan, UNEP memperkirakan emisi karbon dioksida global dapat dipangkas hingga separuhnya pada pertengahan abad ini dibanding skenario biasa.

Emisi metana juga dapat dipotong hingga 60 persen, dan polutan udara utama seperti karbon hitam dipangkas hingga 70 persen pada tahun 2050. Laporan tersebut menyimpulkan bahwa langkah terpadu ini mampu menahan kenaikan suhu global sekitar 0,34 derajat C pada tahun 2050, dan menahan hingga 1,4 derajat C pada tahun 2100.

“Selama ini, kita sering menganggap aksi penanganan iklim sebagai beban biaya yang harus diatur, dan polusi udara sebagai dampak buruk yang terpaksa diterima akibat pembangunan,” ujar Direktur Eksekutif UNEP, Inger Andersen.

“Laporan ini menunjukkan hal yang sebaliknya bahwa udara bersih justru merupakan pendorong utama pembangunan, kesehatan, ketahanan pangan dan energi, serta stabilitas iklim, sebuah aset berharga yang harus kita investasikan,” katanya lagi.

Solusi yang ditawarkan

Secara khusus, laporan ini menyoroti 25 solusi penting di berbagai sektor ekonomi yang perlu diterapkan untuk mengatasi perubahan iklim dan polusi udara, yang sebagian besar di antaranya mampu menangani kedua krisis tersebut secara bersamaan.

Solusi-solusi di sektor energi dan transportasi meliputi beralih dari bahan bakar fosil ke tenaga angin, surya, dan air, menerapkan teknologi pembersihan gas buang berefisiensi tinggi untuk memangkas polutan udara.

Selain itu menerapkan batas emisi kendaraan dan standar efisiensi yang lebih ketat, beralih ke kendaraan listrik, mengidentifikasi serta memperbaiki atau menghentikan operasional kendaraan berpolusi tinggi secara cepat, serta meningkatkan efisiensi energi pada bangunan, pencahayaan, dan peralatan rumah tangga.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Kemenhut Pilih Wehea-Kelay sebagai Lokasi Percontohan Multiusaha Kehutanan
Kemenhut Pilih Wehea-Kelay sebagai Lokasi Percontohan Multiusaha Kehutanan
Pemerintah
Ekonomi Biru Indonesia Butuh Pembiayaan Inovatif, Hilirisasi Rumput Laut Jadi Peluang
Ekonomi Biru Indonesia Butuh Pembiayaan Inovatif, Hilirisasi Rumput Laut Jadi Peluang
Pemerintah
Ilmuwan yang Terlalu Percaya Solusi Teknologi Cenderung Pasif Hadapi Krisis Iklim
Ilmuwan yang Terlalu Percaya Solusi Teknologi Cenderung Pasif Hadapi Krisis Iklim
Pemerintah
AHY Soroti Pencemaran dan Sedimentasi Sungai, Dorong Pengelolaan Air Terpadu
AHY Soroti Pencemaran dan Sedimentasi Sungai, Dorong Pengelolaan Air Terpadu
Pemerintah
Program FOLU dan PBNU Rintis Pemanfaatan Hutan Selain Tebu di Blitar Jatim
Program FOLU dan PBNU Rintis Pemanfaatan Hutan Selain Tebu di Blitar Jatim
LSM/Figur
Pertamina Kembangkan Biogasoline Sawit dan Bioetanol Sorgum
Pertamina Kembangkan Biogasoline Sawit dan Bioetanol Sorgum
BUMN
Pengurangan Emisi Krusial untuk Tekan Penyakit Bawaan Nyamuk
Pengurangan Emisi Krusial untuk Tekan Penyakit Bawaan Nyamuk
LSM/Figur
Kota Rendah Karbon Butuh Tata Kelola Terintegrasi dan Kolaborasi Antardaerah
Kota Rendah Karbon Butuh Tata Kelola Terintegrasi dan Kolaborasi Antardaerah
LSM/Figur
AI dan Transisi Energi Buka Peluang Investasi, Indonesia Perlu Siapkan Talenta
AI dan Transisi Energi Buka Peluang Investasi, Indonesia Perlu Siapkan Talenta
Swasta
Menteri LH Apresiasi Ekowisata yang Memuliakan Lingkungan, dari Dusun Bambu hingga EIGER Nature
Menteri LH Apresiasi Ekowisata yang Memuliakan Lingkungan, dari Dusun Bambu hingga EIGER Nature
BrandzView
Astra dan BKKBN Perkuat Kolaborasi Pencegahan Stunting di Desa Sejahtera Astra Gedepangrango
Astra dan BKKBN Perkuat Kolaborasi Pencegahan Stunting di Desa Sejahtera Astra Gedepangrango
Desa Sejahtera Astra
Langkah Membumi Market 2026 Buktikan Gaya Hidup Ramah Lingkungan Bisa Menyenangkan
Langkah Membumi Market 2026 Buktikan Gaya Hidup Ramah Lingkungan Bisa Menyenangkan
Swasta
Krisis Iklim Dorong Pernikahan Anak dan Kehamilan Remaja
Krisis Iklim Dorong Pernikahan Anak dan Kehamilan Remaja
Pemerintah
Kasus Melonjak, WHO Terbitkan Panduan Global Pertama Penanganan Obesitas Anak
Kasus Melonjak, WHO Terbitkan Panduan Global Pertama Penanganan Obesitas Anak
Pemerintah
Studi Global: Adopsi AI Justru Dorong Peningkatan Lapangan Kerja
Studi Global: Adopsi AI Justru Dorong Peningkatan Lapangan Kerja
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau