KOMPAS.com - Laporan baru PBB memperkirakan bahwa aksi terpadu dalam menangani iklim dan polusi udara dapat memberikan keuntungan hingga 15 kali lipat.
Laporan berjudul Hidden assets: The economic and health case for climate and clean air action ini diterbitkan bersama oleh Program Lingkungan PBB (UNEP) dan Koalisi Iklim dan Udara Bersih (CCAC).
Melansir Edie, Senin (7/9/2026) meskipun perubahan iklim dan polusi udara memiliki banyak akar masalah yang sama kedua isu ini biasanya ditangani secara terpisah.
Laporan UNEP lainnya memperingatkan bahwa pemanasan global diperkirakan akan melampaui ambang batas 1,5 derajat C di atas tingkat pra-industri dalam dekade berikutnya di bawah setiap skenario yang diteliti, termasuk jalur paling optimistis milik PBB.
Di bawah kebijakan saat ini, rata-rata pemanasan global diproyeksikan mencapai sekitar 2,6 derajat C pada tahun 2100, dengan kisaran antara 1,9 derajat C hingga 3,6 derajat C.
Dampak dari kenaikan suhu bumi di atas 1,5 derajat C tidak hanya berupa suhu rata-rata yang lebih panas. UNEP menyatakan bahwa cuaca ekstrem, pencairan gletser, kerusakan ekosistem, dan kenaikan permukaan air laut akan makin parah seiring meningkatnya pemanasan global.
Baca juga: Pengaruh Sosial Bisa Jadi Kunci Menghadapi Perubahan Iklim
Kesehatan manusia, ketahanan pangan dan air, serta kawasan perkotaan dan infrastruktur akan menghadapi tekanan yang lebih berat. Sementara itu, beberapa kerusakan yang terjadi tidak akan bisa dipulihkan kembali meskipun suhu bumi nantinya kembali menurun.
Laporan baru ini menekankan bahwa penanganan krisis iklim dan upaya penyediaan udara bersih harus digabungkan, bukan lagi dikerjakan secara terpisah.
Dengan intervensi yang cepat dan signifikan, UNEP memperkirakan emisi karbon dioksida global dapat dipangkas hingga separuhnya pada pertengahan abad ini dibanding skenario biasa.
Emisi metana juga dapat dipotong hingga 60 persen, dan polutan udara utama seperti karbon hitam dipangkas hingga 70 persen pada tahun 2050. Laporan tersebut menyimpulkan bahwa langkah terpadu ini mampu menahan kenaikan suhu global sekitar 0,34 derajat C pada tahun 2050, dan menahan hingga 1,4 derajat C pada tahun 2100.
“Selama ini, kita sering menganggap aksi penanganan iklim sebagai beban biaya yang harus diatur, dan polusi udara sebagai dampak buruk yang terpaksa diterima akibat pembangunan,” ujar Direktur Eksekutif UNEP, Inger Andersen.
“Laporan ini menunjukkan hal yang sebaliknya bahwa udara bersih justru merupakan pendorong utama pembangunan, kesehatan, ketahanan pangan dan energi, serta stabilitas iklim, sebuah aset berharga yang harus kita investasikan,” katanya lagi.
Secara khusus, laporan ini menyoroti 25 solusi penting di berbagai sektor ekonomi yang perlu diterapkan untuk mengatasi perubahan iklim dan polusi udara, yang sebagian besar di antaranya mampu menangani kedua krisis tersebut secara bersamaan.
Solusi-solusi di sektor energi dan transportasi meliputi beralih dari bahan bakar fosil ke tenaga angin, surya, dan air, menerapkan teknologi pembersihan gas buang berefisiensi tinggi untuk memangkas polutan udara.
Selain itu menerapkan batas emisi kendaraan dan standar efisiensi yang lebih ketat, beralih ke kendaraan listrik, mengidentifikasi serta memperbaiki atau menghentikan operasional kendaraan berpolusi tinggi secara cepat, serta meningkatkan efisiensi energi pada bangunan, pencahayaan, dan peralatan rumah tangga.
Sementara itu di sektor pangan dan pertanian, beberapa solusi yang ditawarkan antara lain
mengendalikan pembentukan amonia dan metana, termasuk dalam penggunaan pupuk kandang, menggunakan pupuk nitrogen secara lebih efisien dan tepat sasaran, dan beralih ke pola makan rendah daging dan kaya protein nabati.
Sedangkan pada industri dan sampah, beberapa solusinya adalah menerapkan standar efisiensi yang lebih ketat dan mendorong elektrifikasi di sektor industri, serta penangkapan gas metana dari Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).
Menurut laporan UNEP, jika semua langkah ini segera diterapkan, secara keseluruhan dapat memberikan manfaat ekonomi setara dengan sekitar 2,8 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) global pada tahun 2035.
Pada tahun 2050, manfaatnya diperkirakan mencapai 4,5 persen dari PDB global, dan pada akhir abad ini mencapai sekitar 11,4 persen.
Sebaliknya, setiap satu tahun penundaan tindakan, dunia akan kehilangan potensi manfaat ekonomi sebesar 1,5 triliun dolar AS.
Baca juga: Dampak Perubahan Iklim, 560 Juta Anak Dunia Terpapar Panas Ekstrem Tambahan
Laporan tersebut juga memperkirakan bahwa solusi-solusi ini dapat membantu mencegah 144 juta kematian dini akibat polusi pada tahun 2050, termasuk 96 juta kematian yang disebabkan oleh polusi udara luar ruang. Udara yang lebih bersih juga akan membantu mencegah ratusan ribu kasus penyakit kronis lainnya.
Untuk mewujudkan potensi dari solusi-solusi ini dan meraih manfaat ekonominya, para penulis laporan mendesak pemerintah di seluruh dunia untuk segera mengambil tindakan di lima bidang utama.
Pertama, menjadikan kebijakan iklim dan udara bersih yang terpadu sebagai strategi ekonomi publik yang utama. Kemudian berinvestasi lebih awal dan konsisten dalam menciptakan kondisi yang mendukung, termasuk membuat regulasi yang menarik investasi swasta, berfokus pada langkah-langkah yang memberikan hasil cepat, seperti pengendalian emisi metana.
Tindakan utama lainnya adalah menyelaraskan kerja sama internasional untuk membantu setiap negara mengatasi hambatan pelaksanaan dan pendanaan serta berinvestasi pada infrastruktur data dan pemantauan yang diperlukan.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya