Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Dekarbonisasi Rantai Nilai, IBC Akan Pasang PLTS Mulai 2027 Saat Daur Ulang Baterai Masih Terkendala Regulasi

Kompas.com, 9 September 2026, 15:35 WIB
Manda Firmansyah,
Andika Aditia

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Indonesia Battery Corporation (IBC) melalui pabrik Contemporary Amperex Technology Indonesia Battery (CATIB) di Karawang, Jawa Barat, akan memasang pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) pada setiap fasilitas pengolahan baterai untuk dekarbonisasi mulai tahun 2027.

‎Direktur Utama IBC Aditya Farhan Arif mengatakan, pemanfaatan PLTS untuk menurunkan produksi baterai kendaraan listrik lebih mudah dibandingkan bagian hulu karena perbedaan kebutuhan base load atau beban listrik dasar. Sedangkan pada tahap midstream atau di pabrik material baterai, IBC akan memasang pembangkit listrik tenaga gas (PLTG) yang diklaim lebih rendah emisi gas rumah kaca (GRK).

‎"Jadi, memang benar tantangan kita di Indonesia adalah bahan bakar fosil itu tadi. Kalau kita lihat di sini emisi karbon dari EV itu sebetulnya bisa jauh lebih rendah dibandingkan kalau dari kendaraan konvensional (internal Combustion Engine/ICE). Tapi, karena masih menggunakan bahan bakar fosil, jadi ada variance-nya tinggi sekali. Jadi malah nanti penurunan emisi karbonnya mungkin hanya sedikit sekali kalau dibandingkan ICE. Nah ini adalah tantangan kita bersama," ujar Aditya dalam diskusi di Bisnis Indonesia Group Strategic Forum 2026, Selasa (8/9/2026).

‎Selain PLTS, IBC juga mengurangi jejak karbon dengan mendaur ulang baterai kendaraan listrik (baterai daur ulang). Pembangunan fasilitas daur ulang (daur ulang baterai) pada kisaran tahun 2030. Menurut Aditya, daur ulang akan secara otomatis meng-offset (menebus) emisi karbon yang telah dikeluarkan pada rantai nilai sebelumnya. Hal ini akan membuat produk baterai Indonesia jauh lebih kompetitif di pasar global yang semakin ketat, terutama mekanisme penyesuaian batas karbon (CBAM). 

Baca juga: Dekarbonisasi Rantai Nilai, IBC Akan Pasang PLTS Mulai 2027 Saat Daur Ulang Baterai Masih Terkendala Regulasi

‎Alih-alih masalah teknis, kata dia, program daur ulang baterai kendaraan listrik justru masih terkendala regulasi. IBC terus berkoordinasi secara intensif dengan pemerintah, termasuk Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, untuk merampungkan payung hukum fasilitas daur ulang tersebut.

‎"Jadi, ketika kami melakukan daur ulang, maka emisi karbon yang sudah dikeluarkan di value chain sebelumnya itu akan ter-offset, begitu. Nah, harapannya nanti dengan adanya daur ulang, maka secara otomatis seluruh produk baterai kita bisa kompetitif. Namun sebelum adanya daur ulang, maka hal yang bisa kita lakukan adalah meng-install bauran energi terbarukan di setiap fasilitas pemrosesan kami," tutur Aditya.

‎Pemenuhan standar ESG

‎Sebagai bagian dari BUMN, bagi IBC, aspek Sosial (S) dan Tata Kelola (G) relatif lebih mudah dipenuhi berkat kepatuhan terhadap regulasi Kementerian BUMN. Namun, aspek Lingkungan (E) masih menjadi pekerjaan rumah (PR) terbesar.

‎Kata dia, seharusnya emisi karbon kendaraan listrik (kendaraan listrik/ EV) seharusnya jauh lebih rendah dari ICE. Jika energi yang menopang rantai pasok (TKDN) baterainya masih bergantung pada bahan bakar fosil, maka penurunan emisi GRK yang dihasilkan bisa sangat kecil.

‎Untuk mengatasi hal ini, IBC menggunakan pendekatan Life Cycle Assessment (LCA)—sebuah prinsip untuk menilai dan menekan emisi karbon dari hulu ke hilir. Di sektor hulu pertambangan, pasokan emisi mulai dijaga melalui standar International Council on Mining and Metals (ICMM) terkait praktik penambangan yang baik. Sedangkan di hilir, IBC fokus pada bauran energi terbarukan dan program daur ulang.

Baca juga: WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi

‎"Nah, IBC memang menjadi lebih mudah karena di sisi manufaktur itu kebutuhan energi sebagai, apa ya, kita memiliki ke- toleransi terhadap hadirnya energi terbarukan yang sifatnya intermittent di dalam pengolahan kita, dibandingkan kalau kita bicara di upstream seperti smelter. Kalau di smelter itu base load-nya harus tinggi sekali mensubstitusi batubara tidak mudah," ucapnya.

‎Lebih dari sekedar memproduksi baterai, pengembangan ekosistem ini adalah tentang ekosistem energi. Menjadi baterai tulang punggung transisi hijau untuk EV, serta penyimpan daya bagi energi terbarukan dan fasilitas pusat data (data center) di era ekonomi digital.

‎Indonesia memiliki keunggulan komparatif dengan tiga komponen utama baterai. Yaitu, nikel (fokus utama IBC saat ini), aluminium, dan tembaga. Ke depannya, menyediakan industri baterai yang terintegrasi secara end-to-end diharapkan tidak hanya memenuhi kebutuhan domestik. Ia menilai, transformasi ini berpotensi menciptakan efek pengganda (multiplier effect) yang masif, memicu rentetan investasi baru. Khususnya, untuk hilirisasi aluminium dan tembaga di Indonesia.

‎"Nah, kalau kita lihat di sudut pandang Indonesia, kita punya kesempatan tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan industrinya, tapi juga bisa mendapatkan multiplier effect yang sangat besar. Yaitu melalui tadi hilirisasi komoditas-komoditas mineral kita. Saat ini IBC fokusnya pada nikel, jalur nikel kalau kita lihat di slide ini. Tapi kita berharapnya ketika nanti industri baterainya sudah jadi penuh, TKDN-nya sudah terpenuhi end-to-end, maka nanti bisa men-trigger juga investasi-investasi di hilirisasi aluminium dan juga tembaga untuk mendukung kebutuhan baterai tersebut,” ujar Aditya.

Baca juga: PwC: 82 Persen Perusahaan Percepat Target Iklim dan Dekarbonisasi Rantai Pasok

‎Daur ulang NMC lebih mudah

‎IBC akan terjun ke industri daur ulang pada tahun 2030 dengan mempertimbangkan masa pakai baterai pasca-penetrasi EV sejak tahun 2023. Masa pakai baterai EV kemungkinan lebih dari tujuh tahun. Aditya berpikir, performa baterai EV masih di atas 85 persen ketika usianya sudah tujuh tahun. Dari aspek keekonomian, baterai litium-ion Nickel Manganese Cobalt (NMC) lebih layak dibandingkan lithium iron phosphate (LFP).

‎Baterai litium-ion NMC bekas masih mengandung banyak komponen berharga, seperti nikel, kobalt, dan lithium. Sedangkan komponen baterai LFP yang dapat didaur ulang hanya lithium.

‎"Jadi, kami fokusnya pada daur ulang NMC. Kalau ternyata ketersediaan bahan bakunya belum mencukupi untuk butuh masuk ke nilai ekonomi, ya kami belum bisa jalan," ujar Aditya dalam acara MIND Club; Bincang-Bincang Baterai, Senin (18/5/2026).

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Rasio SPKLU dan Kendaraan Listrik 1:47, Pemerintah Relaksasi Aturan Investasi Asing
Rasio SPKLU dan Kendaraan Listrik 1:47, Pemerintah Relaksasi Aturan Investasi Asing
Pemerintah
Dekarbonisasi Rantai Nilai, IBC Akan Pasang PLTS Mulai 2027 Saat Daur Ulang Baterai Masih Terkendala Regulasi
Dekarbonisasi Rantai Nilai, IBC Akan Pasang PLTS Mulai 2027 Saat Daur Ulang Baterai Masih Terkendala Regulasi
BUMN
Dekarbonisasi Rantai Nilai, IBC Akan Pasang PLTS Mulai 2027 Saat Daur Ulang Baterai Masih Terkendala Regulasi
Dekarbonisasi Rantai Nilai, IBC Akan Pasang PLTS Mulai 2027 Saat Daur Ulang Baterai Masih Terkendala Regulasi
BUMN
Harita Nickel Turunkan 2.600 Terumbu Buatan di Pesisir Pulau Obi, Datangkan Banyak Jenis Ikan
Harita Nickel Turunkan 2.600 Terumbu Buatan di Pesisir Pulau Obi, Datangkan Banyak Jenis Ikan
Swasta
Sepertiga Sampah Plastik Dunia Tak Terkelola dengan Baik pada 2026
Sepertiga Sampah Plastik Dunia Tak Terkelola dengan Baik pada 2026
Pemerintah
Aksi Terpadu Tangani Iklim dan Polusi Udara Berikan Keuntungan 15 Kali Lipat
Aksi Terpadu Tangani Iklim dan Polusi Udara Berikan Keuntungan 15 Kali Lipat
Pemerintah
Impor Batu Bara Metalurgi Naik, Indonesia Jadi Salah Satu Pendorong Pasar Global
Impor Batu Bara Metalurgi Naik, Indonesia Jadi Salah Satu Pendorong Pasar Global
LSM/Figur
PBB: Kebakaran Hutan dan Gelombang Panas Hambat Perbaikan Kualitas Udara Dunia
PBB: Kebakaran Hutan dan Gelombang Panas Hambat Perbaikan Kualitas Udara Dunia
Pemerintah
Harita Nickel Luncurkan Buku mengenai Pulau Obi dan Keanekaragaman Ikan
Harita Nickel Luncurkan Buku mengenai Pulau Obi dan Keanekaragaman Ikan
Swasta
Dampak El Nino: Terusan Panama Hadapi Krisis Air dan Penurunan Jalur Pelayaran
Dampak El Nino: Terusan Panama Hadapi Krisis Air dan Penurunan Jalur Pelayaran
Pemerintah
Keanekaragaman Pohon Jadi Perisai Hutan Hadapi Krisis Iklim
Keanekaragaman Pohon Jadi Perisai Hutan Hadapi Krisis Iklim
Pemerintah
Perkembangan AI di Asia Pasifik Pesat, tapi Masih Ada Kesenjangan
Perkembangan AI di Asia Pasifik Pesat, tapi Masih Ada Kesenjangan
Pemerintah
Abu Vulkanik Ganggu Proses Fotosintesis Tanaman, Berisiko Gagal Panen Jika Terpapar Terlalu Lama
Abu Vulkanik Ganggu Proses Fotosintesis Tanaman, Berisiko Gagal Panen Jika Terpapar Terlalu Lama
LSM/Figur
Perempuan Makin Didorong Terlibat dalam Transisi Energi Indonesia
Perempuan Makin Didorong Terlibat dalam Transisi Energi Indonesia
LSM/Figur
Cavendish Rentan Penyakit Layu Fusarium, RI Bisa Ubah Pisang Liar Jadi Varietas Unggul Tahan Krisis Iklim
Cavendish Rentan Penyakit Layu Fusarium, RI Bisa Ubah Pisang Liar Jadi Varietas Unggul Tahan Krisis Iklim
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau