Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

258 Juta Anak di 87 Negara Terdampak Krisis Pendidikan, 74 Juta Tak Sekolah

Kompas.com, 10 September 2026, 16:51 WIB
Monika Novena,
Andika Aditia

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Dana bantuan global Education Cannot Wait mengungkapkan kondisi tidak aman dan berbagai faktor lainnya menyebabkan total 258 juta anak di 87 negara mengalami gangguan belajar yang parah.

Melansir laman resmi United Nations, Rabu (9/9/2026) lembaga bantuan tersebut menyoroti latar belakang konflik yang terus meningkat, berkurangnya pengendalian diri, serta terkikisnya norma-norma global di beberapa wilayah.

"Ketika seorang anak tidak bisa sekolah selama bertahun-tahun, dampaknya sangat nyata dan mendalam: itu berarti hilangnya kemampuan membaca, hilangnya rutinitas harian, dan masa depan yang dikendalikan oleh perekrut kelompok bersenjata atau perdagangan manusia, bukan oleh guru," ujar Maysa Jalbout, Direktur Education Cannot Wait, lembaga bantuan global untuk pendidikan di daerah krisis.

Baca juga: Gelombang Panas Laut Ancam Kesehatan Anak-Anak Pesisir

Serangan pada sektor pendidikan

Menurut laporan yang disusun bersama lembaga bantuan tersebut, serangan terhadap fasilitas pendidikan dan penggunaan sekolah untuk kepentingan konflik bersenjata mencapai rekor tertinggi pada tahun 2024 dan 2025.

Jumlah siswa dan tenaga pendidik yang tewas, terluka, diculik, atau mengalami kerugian lainnya juga mencatatkan angka tertinggi sepanjang sejarah.

Di 28 negara yang diteliti, sektor pendidikan secara sengaja dijadikan sasaran serangan, atau bangunan sekolah dan universitas dimanfaatkan untuk keperluan militer.

Secara keseluruhan, terdapat sedikitnya 9.259 serangan terhadap sektor pendidikan termasuk lebih dari 3,600 serangan langsung ke sekolah, yang menunjukkan peningkatan lebih dari 50 persen dibandingkan periode 2022–2023.

Selain itu, lebih dari 10.600 siswa dan pendidik tewas, terluka, atau diculik, sementara kasus penggunaan sekolah oleh militer melonjak hingga hampir dua kali lipat.

"Pendidikan di masa darurat bukan hanya soal menjaga agar anak-anak tetap bersekolah. Ini tentang melindungi mereka di saat yang paling rentan yakni memberikan rasa aman, stabilitas, suasana yang normal, serta membuka jalan menuju masa depan di luar lingkaran krisis," tegas pimpinan Education Cannot Wait, Maysa Jalbout.

UNESCO, badan PBB yang menangani bidang pendidikan dan kebudayaan, menekankan kewajiban bagi seluruh pihak yang berkonflik untuk mematuhi hukum internasional dan melindungi dunia pendidikan dari serangan.

Badan ini mencatat, hampir 8 dari 10 anak yang putus sekolah dan terdampak krisis atau sekitar 74 juta anak yang tinggal di 20 negara.

Di wilayah-wilayah krisis tersebut, hambatan untuk belajar terasa paling berat bagi kelompok yang paling rentan yaitu 74 persen anak pengungsi lintas negara, 52 persen anak pengungsi dalam negeri, dan 45 persen anak penyandang disabilitas tidak bisa bersekolah.

Anak-anak dalam bahaya

Data terbaru PBB mengenai anak-anak yang terjebak dalam konflik menunjukkan bahwa 24.174 anak terdampak pada tahun 2025, dari total 38.558 pelanggaran yang terverifikasi.

Pembunuhan dan pencederaan menjadi pelanggaran yang paling banyak terjadi, menimpa 14.224 anak. Anak-anak juga direkrut dan dimanfaatkan dalam konflik, diculik, serta dihalangi untuk mendapatkan bantuan kemanusiaan, menurut Laporan Tahunan Sekretaris Jenderal PBB tentang Anak-Anak dan Konflik Bersenjata.

Laporan tersebut juga menyoroti bagaimana pertempuran makin sering terjadi di pemukiman padat penduduk, sehingga memaparkan anak-anak pada serangan udara, artileri, dan drone peledak.

Baca juga: UNICEF: 1 dari 5 Anak Jadi Korban Kekerasan Seksual Online

Rumah, sekolah, rumah sakit, dan infrastruktur sipil lainnya rusak atau hancur, sementara anak-anak menghadapi bahaya saat melarikan diri dari kekerasan atau mencari makanan, air, dan perawatan medis.

Jumlah pelanggaran berat tertinggi terverifikasi terjadi di Israel dan Wilayah Pendudukan Palestina, disusul oleh Republik Demokratik Kongo, Nigeria, Myanmar, dan Somalia.

Untuk pertama kalinya, pasukan pemerintah menjadi pihak yang bertanggung jawab atas sebagian besar pelanggaran berat yang terverifikasi.

PBB bersama banyak mitranya meyakini secara kuat bahwa pendidikan melindungi anak-anak di daerah krisis dari bahaya, sekaligus memberi mereka keterampilan untuk membangun kembali komunitas mereka di masa depan.

Kampanye Hope Starts Here dari lembaga Education Cannot Wait menargetkan penggalangan dana sebesar 600 juta dolar AS untuk memastikan 10 juta anak di wilayah-wilayah tersulit di dunia bisa mendapatkan akses ke pendidikan yang aman dan berkualitas.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Penegasan Batas Desa, Jadi Fondasi Cegah Perambahan Hutan dan Perlindungan Hak Masyarakat Adat
Penegasan Batas Desa, Jadi Fondasi Cegah Perambahan Hutan dan Perlindungan Hak Masyarakat Adat
Pemerintah
PBB Peringatkan El Nino Sangat Kuat, Diprediksi Bertahan hingga Februari 2027
PBB Peringatkan El Nino Sangat Kuat, Diprediksi Bertahan hingga Februari 2027
Pemerintah
OJK Siapkan Aturan Wajibkan TKBI, Aspek HAM Masuk Penilaian Keuangan Berkelanjutan
OJK Siapkan Aturan Wajibkan TKBI, Aspek HAM Masuk Penilaian Keuangan Berkelanjutan
Pemerintah
Emisi Kebakaran Indonesia Tertinggi di Dunia, 19,7 Juta Ton Sepekan
Emisi Kebakaran Indonesia Tertinggi di Dunia, 19,7 Juta Ton Sepekan
Pemerintah
Saat Ketan Hitam Sigi Disulap Jadi Skincare Tradisional...
Saat Ketan Hitam Sigi Disulap Jadi Skincare Tradisional...
LSM/Figur
258 Juta Anak di 87 Negara Terdampak Krisis Pendidikan, 74 Juta Tak Sekolah
258 Juta Anak di 87 Negara Terdampak Krisis Pendidikan, 74 Juta Tak Sekolah
Pemerintah
Bappenas Finalisasi Rencana Aksi Food Loss and Waste, Berharap Sistem Pangan Berdampak ke Krisis Iklim
Bappenas Finalisasi Rencana Aksi Food Loss and Waste, Berharap Sistem Pangan Berdampak ke Krisis Iklim
Pemerintah
25 Juta Hektar Hutan Rumput Laut Global Terancam Lenyap akibat Krisis Iklim
25 Juta Hektar Hutan Rumput Laut Global Terancam Lenyap akibat Krisis Iklim
Pemerintah
RUU Pangan Belum Cukup Mengatur Persoalan Sisa Pangan
RUU Pangan Belum Cukup Mengatur Persoalan Sisa Pangan
LSM/Figur
Bagaimana Asia Memenuhi Kebutuhan Energi untuk Lonjakan Pusat Data?
Bagaimana Asia Memenuhi Kebutuhan Energi untuk Lonjakan Pusat Data?
Pemerintah
RUU Pangan Dinilai Belum Cukup Antisipasi Krisis Iklim
RUU Pangan Dinilai Belum Cukup Antisipasi Krisis Iklim
LSM/Figur
Kebakaran Hutan Kalimantan: 60 Persen Habitat Orang Utan Terdampak
Kebakaran Hutan Kalimantan: 60 Persen Habitat Orang Utan Terdampak
Pemerintah
Rasio SPKLU dan Kendaraan Listrik 1:47, Pemerintah Relaksasi Aturan Investasi Asing
Rasio SPKLU dan Kendaraan Listrik 1:47, Pemerintah Relaksasi Aturan Investasi Asing
Pemerintah
Dekarbonisasi Rantai Nilai, IBC Akan Pasang PLTS Mulai 2027 Saat Daur Ulang Baterai Masih Terkendala Regulasi
Dekarbonisasi Rantai Nilai, IBC Akan Pasang PLTS Mulai 2027 Saat Daur Ulang Baterai Masih Terkendala Regulasi
BUMN
Dekarbonisasi Rantai Nilai, IBC Akan Pasang PLTS Mulai 2027 Saat Daur Ulang Baterai Masih Terkendala Regulasi
Dekarbonisasi Rantai Nilai, IBC Akan Pasang PLTS Mulai 2027 Saat Daur Ulang Baterai Masih Terkendala Regulasi
BUMN
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau