KOMPAS.com - Ketidakpastian pasar membuat petani di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, menghadapi persoalan dalam mempertahankan tanaman ketan hitam. Ketika permintaan melemah, komoditas pangan lokal berisiko ditinggalkan karena petani tidak lagi memiliki kepastian pasar.
Bagi masyarakat Kaili, ketan hitam bukan sekadar bahan pangan. Komoditas ini juga digunakan dalam badabida, tradisi perawatan tubuh calon pengantin perempuan.
Pengetahuan tersebut kemudian dikembangkan Nelam Ayu Kusuma melalui Nelamayu Tradisional, usaha perawatan tubuh berbahan alami yang dirintis sejak 2018.
Baca juga: Promo Indomaret 9 Juli 2026, Ada Hadiah dari Stamp Garnier Skin Care
Ketan hitam yang diperoleh dari petani di wilayah Dolo Barat diolah menjadi body scrub. Dengan demikian, bahan pangan lokal tersebut memiliki penggunaan lain di luar konsumsi pangan.
"Dulu badabida dipakai calon pengantin. Wajahnya ditutup dengan lulur dari ketan hitam. Itu tradisi lama perempuan Kaili," ujar Nelam dalam keterangan tertulis, Kamis (10/9/2026).
Awalnya, badabida digunakan sebagai bedak atau masker sederhana. Nelam kemudian mengembangkannya menjadi body scrub agar lebih praktis digunakan.
Selain badabida, Nelamayu Tradisional memproduksi bada kumba, produk yang pembuatannya juga diwariskan dari keluarga Nelam.
Pengetahuan tersebut berasal dari nenek Nelam yang pada masa pendudukan Jepang dikenal sebagai perawat herbal di kampungnya. Ketika obat-obatan sulit diperoleh, sang nenek meracik bedak dingin dari beras, daun basakaling atau kodombuku, kunyit kayu, kencur, dan sejumlah rempah.
Pengetahuan tersebut kemudian dipraktikkan dan diwariskan di dalam keluarga hingga dikembangkan menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi.
Selama enam bulan mengikuti program inkubasi, Nelamayu Tradisional memperoleh pendampingan dalam penguatan kelembagaan, perizinan, pengembangan produk, pemasaran, dan perluasan akses pasar.
Melalui kegiatan Business and Partnership Matching, usaha tersebut dipertemukan dengan 20 calon mitra.
Saat ini, produk Nelamayu Tradisional dipasarkan secara daring serta melalui reseller dan mitra lokal. Pemasarannya mencakup Sigi, Palu, Parigi, Poso, hingga Morowali.
Produk tersebut juga mulai diperkenalkan sebagai amenities di sejumlah homestay dan penginapan lokal.
Perluasan pasar berpotensi meningkatkan penyerapan bahan baku dari petani lokal. Namun, pertumbuhan permintaan juga perlu diikuti dengan ketersediaan bahan baku dan kapasitas petani.
Bagi Nelam, pengembangan usaha tersebut bukan semata-mata soal memperluas pasar produk perawatan tubuh. Ia ingin pengetahuan lokal tetap memiliki tempat dalam kehidupan masyarakat sekaligus menciptakan manfaat ekonomi.
Baca juga: Bantah Jadi Brand Ambassador Skin Care, Mario Teguh Beberkan Isi Kontrak Kerja Sama
"Saya ingin produk ini tidak hanya dikenal karena hasilnya di kulit, tapi juga karena ceritanya. Tentang perempuan, tradisi, kesehatan, dan alam yang saling terhubung," ujar Nelam.
Nelamayu Tradisional merupakan satu dari 74 pelaku usaha dan kelembagaan lokal yang mengikuti program inkubasi Gampiri Interaksi Lestari. Pesertanya terdiri dari 64 tenant Gampiri Inkubasi Usaha Lestari dan 10 tenant Koperasi Growth.
Program tersebut mencakup UMKM lokal, koperasi, kelompok sadar wisata, hingga kelompok usaha perhutanan sosial. Komoditas yang dikembangkan antara lain kopi, vanili, tanaman atsiri, dan produk berbahan alam lainnya.
Program Gampiri Interaksi Lestari didukung Lingkar Temu Kabupaten Lestari (LTKL), asosiasi pemerintah kabupaten yang mendorong pengembangan ekonomi daerah melalui model ekonomi restoratif.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya