“Masyarakat dan penerima dana pensiun yang menanggung akibatnya, sedangkan perusahaan private equity tetap dapat bayaran,” ungkap Amanda Mendoza, koordinator riset dan kampanye senior di PESP.
Alex Hurley, manajer proyek di GEM, menambahkan rapor penilaian ini menunjukkan betapa besarnya keterlibatan private equity pada aset bahan bakar fosil.
Data ini memberikan bukti yang jelas bagi para manajer dana dan investor untuk memilih tingkat risiko yang sanggup mereka tanggung di tengah perubahan iklim yang sangat cepat ini.
Sementara itu Dustin Duong, peneliti di Americans for Financial Reform Education Fund, mengungkapkan perusahaan private equity lebih mengutamakan keuntungan jangka pendek untuk memperkaya diri sendiri, sambil memicu kenaikan biaya hidup bagi masyarakat luas.
"Alih-alih mengurangi keterlibatan mereka pada bahan bakar fosil, industri private equity justru bertaruh besar pada pusat data dan energi kotor untuk menaikkan harga sementara masyarakat kecil dan lingkungan yang harus menanggung akibatnya,” paparnya.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya