Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Bukan Sekadar Genjot Produksi, Perlu 3 Langkah Strategis Perkuat Sistem Pangan Nasional

Kompas.com, 28 September 2026, 17:56 WIB
Yohanes Enggar Harususilo

Penulis

KOMPAS.com - Masalah sistem pangan nasional sejatinya tidak hanya berpusat pada seberapa besar angka produksi pertanian di hulu.

Di tengah ancaman krisis iklim yang makin nyata, seperti fluktuasi cuaca ekstrem dan kenaikan suhu, tantangan terbesar justru terletak pada aksesibilitas, distribusi, serta daya tahan sistem pangan itu sendiri.

Membangun ketahanan pangan tidak cukup hanya dengan mendorong petani atau nelayan memanen lebih banyak produk.

Lebih dari itu, dibutuhkan transformasi sistemik yang menghubungkan keandalan produksi, kepastian pasar, insentif regulasi, hingga keberlanjutan ekonomi bagi para pelaku usaha di tingkat akar rumput.

Tantangan membangun sistem pangan ini mengemuka dalam langkah Kementerian Koordinator Bidang Pangan Republik Indonesia bersama Pijar Foundation membangun koalisi lintas sektor di panggung internasional.

Didukung Perutusan Tetap Republik Indonesia untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York (PTRI New York), diskusi strategis ini digelar di sela-sela Sidang Majelis Umum PBB ke-81 (UNGA 81) dan Climate Week NYC 2026 pada 23 September 2026.

Pertemuan tersebut mempertemukan jajaran pembuat kebijakan, lembaga filantropi, investor, dan mitra pembangunan global untuk menyelaraskan skema pembiayaan, regulasi, serta keberlanjutan sistem pangan Indonesia.

Dalam pidatonya, Menko Pangan RI, Zulkifli Hasan menekankan pentingnya keterbukaan dan kecepatan dalam koordinasi antarpihak.

"Kami ingin mengajak berbagai pihak seperti dunia usaha, investor, filantropi, dan mitra pembangunan untuk dapat bekerja dalam satu arah," ujar Zulkifli Hasan.

"Dengan koordinasi pangan, laut, hutan, dan darat yang semakin terintegrasi, kami ingin memastikan kerja sama lintas sektor dapat bergerak lebih cepat dan menghasilkan dampak yang lebih besar," lanjutnya.

Baca juga: Dari Laboratorium ke Sawah, Upaya Menempatkan Petani di Pusat Transformasi Pangan

Di sisi lain, Pijar Foundation memandang lembaga filantropi memegang peran kunci dalam menghubungkan gagasan inovatif tahap awal dengan struktur sistemik yang dibutuhkan untuk ekspansi skala.

Executive Director Pijar Foundation, Cazadira Fediva Tamzil, menggarisbawahi bahwa kunci transformasi terletak pada kesiapan ekosistem penunjang.

Diskusi strategis di sela-sela Sidang Majelis Umum PBB ke-81 (UNGA 81) dan Climate Week NYC 2026 pada 23 September 2026.

DOK. PIJAR FOUNDATION Diskusi strategis di sela-sela Sidang Majelis Umum PBB ke-81 (UNGA 81) dan Climate Week NYC 2026 pada 23 September 2026.

"Inovasi dapat menunjukkan kemungkinan baru, tetapi transformasi terjadi ketika sistem di sekitarnya memungkinkan gagasan tersebut untuk berkembang," tegasnya.

Menurutnya, filantropi dapat membantu menghubungkan inovator dengan pemerintah, modal, riset, dan mitra lainnya, sekaligus membuka ruang untuk menguji, belajar, dan membangun bukti.

"Pada akhirnya, tujuannya bukan hanya mendukung lebih banyak proyek percontohan, tetapi membantu membangun kondisi agar solusi dapat menciptakan manfaat publik yang berkelanjutan," jelas Cazadira.

Tiga fokus penguatan sistem pangan

Dalam pertemuan juga mengemuka, upaya memperkuat sistem pangan agar lebih tangguh dan berkelanjutan memerlukan koordinasi yang terarah pada tiga fokus utama.

Ketiga fokus dimaksud meliputi:

  1. Membangun Permintaan dan Pasar Pangan Berkelanjutan: Perubahan di tingkat produksi hulu tidak akan bertahan lama tanpa didukung oleh permintaan pasar yang kuat. Diperlukan ekosistem pasar dan insentif yang secara konsisten mendorong konsumen serta industri untuk menyerap hasil pangan yang diproduksi secara bergizi dan berkelanjutan.
  2. Penyelarasan Kebijakan, Inovasi, dan Pembiayaan: Inovasi teknologi pangan memiliki peluang tumbuh yang jauh lebih besar ketika jalur regulasi pemerintah, modal filantropi, serta investasi swasta bergerak secara selaras dan saling melengkapi, bukan berjalan sendiri-sendiri.
  3. Penguatan Platform Aksi dan Kemitraan Konkret: Dibutuhkan institusi serta instrumen kemitraan yang mampu menjaga momentum dialog antara sisi penawaran (supply) dan permintaan (demand). Platform ini berfungsi memastikan sebuah pendekatan yang teruji dapat diterapkan melampaui satu lokasi atau satu siklus proyek. 

Membawa perbincangan transformasi pangan ke ajang global seperti UNGA dan Climate Week NYC menegaskan bahwa persoalan kerentanan pangan Indonesia merupakan bagian integral dari agenda iklim dan pembangunan berkelanjutan dunia.

Baca juga: Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim

Momen ini menandai pergeseran fokus nasional, dari sekadar mencari ide-ide baru menjadi upaya mengintegrasikan solusi yang telah terbukti ke dalam kerangka kerja kebijakan dan ekonomi nasional.

Pada akhirnya, ketahanan pangan hanya dapat terwujud apabila setiap kebijakan dan investasi berdampak langsung pada peningkatan kesejahteraan petani, nelayan, serta pemenuhan gizi keluarga di seluruh pelosok Indonesia.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Karhutla Bakar 637.011 Hektar Lahan, Organisasi Lintas Iman Desak Siklus Tahunan Diputus
Karhutla Bakar 637.011 Hektar Lahan, Organisasi Lintas Iman Desak Siklus Tahunan Diputus
Pemerintah
ASRI Menyapa Surabaya, Dorong Siswa dan Guru Wujudkan Sekolah Berkelanjutan
ASRI Menyapa Surabaya, Dorong Siswa dan Guru Wujudkan Sekolah Berkelanjutan
Swasta
Lonjakan Belanja Militer Perparah Perubahan Iklim dan Keamanan Global
Lonjakan Belanja Militer Perparah Perubahan Iklim dan Keamanan Global
Pemerintah
Pengembangan PLTS Terapung Perlu Mitigasi agar Tak Ganggu Fungsi Badan Air
Pengembangan PLTS Terapung Perlu Mitigasi agar Tak Ganggu Fungsi Badan Air
Pemerintah
Rotan Kian Sulit Didapat, Perajin Anyaman Mahakam Ulu Terpaksa Beralih ke Plastik
Rotan Kian Sulit Didapat, Perajin Anyaman Mahakam Ulu Terpaksa Beralih ke Plastik
LSM/Figur
'Cage Free Eggs', Mengangkat Isu Kesejahteraan di Sebutir Telur
"Cage Free Eggs", Mengangkat Isu Kesejahteraan di Sebutir Telur
LSM/Figur
Pelajar Galang Dana lewat Golf untuk Wujudkan Harapan Anak dengan Penyakit Kritis
Pelajar Galang Dana lewat Golf untuk Wujudkan Harapan Anak dengan Penyakit Kritis
LSM/Figur
Dilema Pemanfaatan Dana Karbon di Pedalaman Kalimantan...
Dilema Pemanfaatan Dana Karbon di Pedalaman Kalimantan...
LSM/Figur
Bank Global Kucurkan Rp 10,69 Kuadriliun ke Perusahaan Terkait Deforestasi
Bank Global Kucurkan Rp 10,69 Kuadriliun ke Perusahaan Terkait Deforestasi
Pemerintah
Menjaga Mangrove Tetap Hidup, Bukan Sekadar Menanam
Menjaga Mangrove Tetap Hidup, Bukan Sekadar Menanam
Pemerintah
LSEG: Pemilik Aset Semakin Integrasikan Keberlanjutan ke Dalam Portofolio
LSEG: Pemilik Aset Semakin Integrasikan Keberlanjutan ke Dalam Portofolio
Pemerintah
Bisakah Pemulihan Populasi Hewan Besar Bantu Atasi Perubahan Iklim?
Bisakah Pemulihan Populasi Hewan Besar Bantu Atasi Perubahan Iklim?
Pemerintah
Dari Rotan, Masyarakat Dayak Merawat Tradisi dan Membuka Jalan Penghidupan
Dari Rotan, Masyarakat Dayak Merawat Tradisi dan Membuka Jalan Penghidupan
LSM/Figur
Pembangunan Proyek Batu Bara Baru Tiga Kali Lebih Cepat dari Penghentiannya
Pembangunan Proyek Batu Bara Baru Tiga Kali Lebih Cepat dari Penghentiannya
LSM/Figur
Ketika Greenpeace Mencuri Panggung di Bundaran HI
Ketika Greenpeace Mencuri Panggung di Bundaran HI
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau