Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Melihat Kera Berkelompok dan Menyatu dengan Alam di Kemenuh Monkey River Bali

Kompas.com, 28 September 2026, 20:24 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

GIANYAR, KOMPAS.com - Di kawasan wisata Kemenuh Monkey River, Desa Kemenuh, Kabupaten Gianyar, terdapat area pemakaman khusus kera.‎

‎Mulanya, pihak pengelola Kemenuh Monkey River menguburkan seekor kera yang mati akibat luka akibat perkelahian di area pemakaman manusia.

Namun, ternyata penguburan kera oleh manusia menimbulkan "penolakan" dari alam, sehingga saat ini proses tersebut sepenuhnya dibiarkan secara alami.‎

Baca juga: Puluhan Monyet Hutan Kera Turun Gunung Serbu Rumah Warga Pahoman

Ini diketahui setelah ada kera yang mati, kawanannya sendiri yang akan mengambil jasadnya dan menguburkannya di area pemakaman secara seadanya pada malam hari. 

‎"Makanya, di Bali jarang kita melihat bangkai kera di alam, kecuali kalau di tempat-tempat lain kan ada yang ketabrak. Kalau di alam sendiri kita jarang menemukan, pun kadang-kadang sudah jadi tengkorak," ujar tim marketing dari Kemenuh Monkey River, Ida Bagus Bhaskara, Jumat (18/9/2026).

Kelompok Kera

‎Kawasan Kemenuh Monkey River dihuni oleh populasi kera yang terbagi ke dalam kelompok-kelompok yang dipimpin oleh pemimpin masing-masing dengan total mencapai sekitar 140 ekor.

Kelompok kera yang ada di kawasan ini antara lain kelompok Sania, serta kelompok Kumis. Sebelumnya, juga ada  serta  mengambil alih wilayah selatan dari kelompok pendahulunya yang dipimpin oleh seekor raja kera bernama Opa. 

‎Opa, yang diceritakan memiliki ciri fisik tangannya buntung dan telah mati karena usia tua, kini diabadikan dalam bentuk patung monumen di kawasan Kemenuh Monkey River.

Pemimpin atau raja kera di alam liar biasanya mudah dikenali dari bekas-bekas luka di tubuh atau wajahnya, yang diperoleh dari perkelahian saat mereka harus maju paling depan untuk menjaga dan melindungi kawanannya. 

‎Pihak pengelola Kemenuh Monkey River mengurung sepasang kera putih yang dianggap sebagai simbol Hanoman dalam kandang.

Kera putih jantan yang saat ini berusia hampir dua tahun bernama Tomplos. Karena kondisi genetiknya yang berbeda, Tomplos dan pasangannya harus ditempatkan di dalam kandang pelindung. Jika dilepasliarkan, kera liar lainnya akan merasa asing dan menyerang mereka.‎

‎Secara umum, kera-kera di kawasan ini sudah diajari dan tergolong jinak sehingga aman dan ramah bagi pengunjung.

Dalam berinteraksi dengan kera, wisatawan tidak dianjurkan untuk memberikan makanan secara langsung atau sembarangan tanpa didampingi oleh pawang atau tim khusus.

Baca juga: Ramai Kera Ekor Panjang Ngamuk di Permukiman Bandungan Semarang, Cakar dan Gigit Warga

Hal ini dilakukan karena kera memiliki insting yang kuat dan mampu mendeteksi keraguan atau ketidaktulusan dari manusia yang memberinya makan, yang justru dapat memicu reaksi agresif.

‎"Mau memberi, tetapi diambil ditarik gitu. Nah, itu tuh enggak boleh sebenarnya. Kalau emang kita benar-benar memberi, beri secara kasih sayangnya tulus, ikhlas," tutur Bhaskara.

Kelompok Kumis, salah satu kelompok kera di Kemenuh Monkey River, Kabupaten Gianyar, Bali, pada Jumat (18/9/2026).Manda Firmansyah/Kompas.com Kelompok Kumis, salah satu kelompok kera di Kemenuh Monkey River, Kabupaten Gianyar, Bali, pada Jumat (18/9/2026).

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Kemenhut Pilih Wehea-Kelay sebagai Lokasi Percontohan Multiusaha Kehutanan
Kemenhut Pilih Wehea-Kelay sebagai Lokasi Percontohan Multiusaha Kehutanan
Pemerintah
Ekonomi Biru Indonesia Butuh Pembiayaan Inovatif, Hilirisasi Rumput Laut Jadi Peluang
Ekonomi Biru Indonesia Butuh Pembiayaan Inovatif, Hilirisasi Rumput Laut Jadi Peluang
Pemerintah
Ilmuwan yang Terlalu Percaya Solusi Teknologi Cenderung Pasif Hadapi Krisis Iklim
Ilmuwan yang Terlalu Percaya Solusi Teknologi Cenderung Pasif Hadapi Krisis Iklim
Pemerintah
AHY Soroti Pencemaran dan Sedimentasi Sungai, Dorong Pengelolaan Air Terpadu
AHY Soroti Pencemaran dan Sedimentasi Sungai, Dorong Pengelolaan Air Terpadu
Pemerintah
Program FOLU dan PBNU Rintis Pemanfaatan Hutan Selain Tebu di Blitar Jatim
Program FOLU dan PBNU Rintis Pemanfaatan Hutan Selain Tebu di Blitar Jatim
LSM/Figur
Pertamina Kembangkan Biogasoline Sawit dan Bioetanol Sorgum
Pertamina Kembangkan Biogasoline Sawit dan Bioetanol Sorgum
BUMN
Pengurangan Emisi Krusial untuk Tekan Penyakit Bawaan Nyamuk
Pengurangan Emisi Krusial untuk Tekan Penyakit Bawaan Nyamuk
LSM/Figur
Kota Rendah Karbon Butuh Tata Kelola Terintegrasi dan Kolaborasi Antardaerah
Kota Rendah Karbon Butuh Tata Kelola Terintegrasi dan Kolaborasi Antardaerah
LSM/Figur
AI dan Transisi Energi Buka Peluang Investasi, Indonesia Perlu Siapkan Talenta
AI dan Transisi Energi Buka Peluang Investasi, Indonesia Perlu Siapkan Talenta
Swasta
Menteri LH Apresiasi Ekowisata yang Memuliakan Lingkungan, dari Dusun Bambu hingga EIGER Nature
Menteri LH Apresiasi Ekowisata yang Memuliakan Lingkungan, dari Dusun Bambu hingga EIGER Nature
BrandzView
Astra dan BKKBN Perkuat Kolaborasi Pencegahan Stunting di Desa Sejahtera Astra Gedepangrango
Astra dan BKKBN Perkuat Kolaborasi Pencegahan Stunting di Desa Sejahtera Astra Gedepangrango
Desa Sejahtera Astra
Langkah Membumi Market 2026 Buktikan Gaya Hidup Ramah Lingkungan Bisa Menyenangkan
Langkah Membumi Market 2026 Buktikan Gaya Hidup Ramah Lingkungan Bisa Menyenangkan
Swasta
Krisis Iklim Dorong Pernikahan Anak dan Kehamilan Remaja
Krisis Iklim Dorong Pernikahan Anak dan Kehamilan Remaja
Pemerintah
Kasus Melonjak, WHO Terbitkan Panduan Global Pertama Penanganan Obesitas Anak
Kasus Melonjak, WHO Terbitkan Panduan Global Pertama Penanganan Obesitas Anak
Pemerintah
Studi Global: Adopsi AI Justru Dorong Peningkatan Lapangan Kerja
Studi Global: Adopsi AI Justru Dorong Peningkatan Lapangan Kerja
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau