Pihak pengelola Kemenuh Monkey River juga menanam berbagai tanaman buah, seperti pisang, jambu, dan markisa, untuk menjamin ketersediaan variasi makanan agar para kera tidak merasa bosan.
Pihak pengelola Kemenuh Monkey River berusaha keras menciptakan lingkungan yang senyaman mungkin bagi para kera, menyerupai habitat aslinya.
Mengadaptasi masukan dari para pencinta hewan, pihak pengelola Kemenuh Monkey River memastikan keberadaan kolam dan sumber air yang melimpah agar kera merasa lebih tenang dan mengurangi sifat agresif mereka.
Untuk menjaga keasrian dan kesan alami, pembangunan fasilitas berbahan beton sangat dibatasi dan digantikan dengan penggunaan material kayu. Salah satu fasilitas unik yang ada adalah "rumah kebo", yang dibangun menggunakan kayu-kayu bekas dari kandang kerbau yang didatangkan langsung dari Jawa.
Selain sebagai habitat kera, kawasan Kemenuh Monkey River juga berfungsi sebagai tempat wisata spiritual. Pengunjung dapat melakukan ritual penglukatan (pembersihan diri) di Pura Beji.
Karena setiap pengunjung memiliki keyakinan yang berbeda-beda, prosesi doa melukat dilakukan secara mandiri.
Pihak pengelola kawasan Kemenuh Monkey River hanya membantu menghaturkan sesajen di pagi hari dan mengarahkan alur prosesinya dari depan Pura Beji agar pelaksanaannya tidak salah. Setelah prosesi pembersihan diri selesai, wisatawan juga dapat berendam di aliran air terjun yang bersumber dari goa setempat.
Pengelolaan sampah di kawasan Kemenuh Monkey River dilakukan secara sistematis, dengan sampah organik diambil setiap hari Rabu dan Jumat. Sedangkan sampah anorganik yang bernilai jual dapat dikumpulkan masyarakat kapan pun.
Untuk sampah residu diangkut setiap hari Minggu oleh pihak desa menggunakan dua kendaraan transportasi khusus.
Meski kawasan telah dijaga ketat agar bersih dari sampah, tantangan alam tetap ada. Saat musim hujan tiba, debit air sungai bisa naik secara signifikan dan membawa sampah-sampah plastik kiriman dari wilayah hulu.
Baca juga: Ilmuwan Teliti Kerangka Manusia Tertua yang Diduga Setengah Kera
Menghadapi situasi ini, para pekerja taman (garden) dengan sigap akan memungut sampah-sampah plastik yang terbawa arus untuk kemudian dikembalikan ke tempat penampungan residu.
Edukasi kepada wisatawan juga terus dilakukan agar tidak membuang sampah sembarangan di area wisata, demi menjaga kelestarian ekosistem dan keasrian tempat tinggal kera.
Pihak pengelola kawasan Kemenuh Monkey River bekerja sama dengan PepsiCo Indonesia melalui Bali Waste Cycle (BWC) dalam mendaur ulang sampah residu menjadi produk bernilai.
Salah satunya, papan petunjuk arah yang terbuat dari material hasil daur ulang kemasan makanan ringan (multi-layer plastic/MLP), mencerminkan bagaimana kawasan wisata Kemenuh Monkey River mempertimbangkan aspek lingkungan.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya