Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kampung Bebas Rokok dan Pinjol yang Sejuk di Tengah Panas Surabaya

Kompas.com, 30 September 2026, 20:21 WIB
Manda Firmansyah,
Andika Aditia

Tim Redaksi

‎Dengan mekanisme ini, warga yang dulunya rentan tergiur pinjaman instan kini memiliki jaring pengaman finansial yang bersumber dari sampah rumah tangga mereka sendiri.

‎"Akhirnya di sini sudah bebas pinjol, enggak ada pinjol masuk lagi. Enggak ada 'bank plecit' yang masuk, karena sudah enggak ada yang pinjam. Bebas sejak awal tahun ini," tutur Ketua RT di kampung ini, Nikma.

Baca juga: Kepedulian Lingkungan Konsumen Indonesia Kembali Meningkat Setelah 3 Tahun

‎Kawasan bebas asap rokok

‎Tiga tahun lalu, kampung ini mulai menerapkan Kawasan Bebas Asap Rokok. Aturan ini bermula dari kejadian tragis meninggalnya salah satu warga akibat Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK).

Berangkat dari duka tersebut, pengurus kampung bertekad untuk memutus mata rantai paparan asap rokok, terutama di dalam rumah yang banyak dihuni anak-anak.

‎Nikma tidak melarang total kebiasaan merokok, melainkan melalui penataan ruang. Warga diwajibkan mematikan rokok sebelum masuk ke dalam rumah.

Untuk mendukung hal ini, pengurus kampung menyediakan area khusus untuk merokok dan berbagai tempat pembuangan puntung rokok, termasuk di depan setiap rumah mereka. 

‎Tempat sampah puntung rokok ini dicat dengan warna berbeda-beda, menyesuaikan nama gang masing-masing yang terinspirasi dari buah-buahan.

Puntung rokok yang terkumpul tidak berujung menjadi sampah residu di tempat pemrosesan akhir (TPA). Melalui tangan-tangan kreatif warga, sisa tembakau dari puntung rokok direndam dengan air panas dan didiamkan semalaman.

Air rendamannya digunakan sebagai pestisida nabati yang sangat ampuh membasmi hama tanaman seperti kutu putih atau ulat daun.

‎"Kalau kena hama, kalau puntung rokok tadi tidak mempan, kami tetap pakai pupuk kimia," ucapnya.

Baca juga: Kepedulian Lingkungan Konsumen Indonesia Kembali Meningkat Setelah 3 Tahun

‎Penegakan disiplin warga

‎Bank sampah yang memicu berbagai inovasi di kampung ini dari seringnya masalah kelebihan kapasitas sampah.

Sampah rumah tangga kerap menumpuk dan overkapasitas di selokan. Ketika warga melapor ke kelurahan, jawabannya sering kali buntu karena tempat pembuangan sementara (TPS) sedang penuh dan pengiriman sampah terhambat.

‎Berangkat dari kebuntuan tersebut, Nikma dan jajaran pengurus lainnya memiliki visi kampung kampung tidak boleh terus-terusan identik dengan kesan 'amburadul'. Dari bank sampah, berbagai inovasi berorientasi kebersihan dilakukan di kampung ini, dengan kunci keberhasilan terletak pada ketegasan dalam menegakkan aturan administrasi dan sosial.

Nikma menyadari bahwa tanpa hukum yang mengikat, inovasi hanya akan menjadi wacana sesaat. Di kampung ini, pendatang, penghuni kos maupun penyewa kontrakan wajib tunduk pada aturan lingkungan yang berlaku.

‎"Ada perbedaan ini kalau di Surabaya, perumahan dengan kampung. Di situ, kami pengurus berpikir kenapa kami enggak menciptakan bahwa ini kampung, tapi tempat kami enggak kalah dengan perumahan. Jadi, kan ndak semua kampung itu amburadul, kalau mau tertata kan juga bisa," ujar Nikma.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
PBB: 1 Miliar Porsi Makanan Terbuang per Hari, Perparah Pemanasan Global
PBB: 1 Miliar Porsi Makanan Terbuang per Hari, Perparah Pemanasan Global
Pemerintah
Jerman Targetkan Bebas Bahan Bakar Fosil pada 2045
Jerman Targetkan Bebas Bahan Bakar Fosil pada 2045
Pemerintah
GRI Siapkan Standar Pelaporan ESG Khusus Industri Makanan dan Minuman
GRI Siapkan Standar Pelaporan ESG Khusus Industri Makanan dan Minuman
Pemerintah
Kampung Bebas Rokok dan Pinjol yang Sejuk di Tengah Panas Surabaya
Kampung Bebas Rokok dan Pinjol yang Sejuk di Tengah Panas Surabaya
LSM/Figur
PBB Peringatkan Waktu untuk Pulihkan Hutan Dunia Kian Terbatas
PBB Peringatkan Waktu untuk Pulihkan Hutan Dunia Kian Terbatas
Pemerintah
Teknologi Satelit Bantu Lindungi Pasokan Air Minum Dunia, Kok Bisa?
Teknologi Satelit Bantu Lindungi Pasokan Air Minum Dunia, Kok Bisa?
LSM/Figur
Hujan Berlebihan Bisa Jadi Ancaman Iklim Baru bagi Industri Cokelat
Hujan Berlebihan Bisa Jadi Ancaman Iklim Baru bagi Industri Cokelat
Pemerintah
Lanskap Bukit Tigapuluh, Menjaga Ruang Jelajah Gajah Sumatera
Lanskap Bukit Tigapuluh, Menjaga Ruang Jelajah Gajah Sumatera
Pemerintah
25 Beras Fortifikasi Tak Sesuai Standar, IPB Soroti Stabilitas Zat Gizi
25 Beras Fortifikasi Tak Sesuai Standar, IPB Soroti Stabilitas Zat Gizi
LSM/Figur
Empat Tahun Dipantau, Biodiversitas Area Weda Bay Catat Ratusan Spesies
Empat Tahun Dipantau, Biodiversitas Area Weda Bay Catat Ratusan Spesies
Swasta
Studi Ungkap Asap Kebakaran Hutan Kurangi Keanekaragaman Burung
Studi Ungkap Asap Kebakaran Hutan Kurangi Keanekaragaman Burung
Pemerintah
Studi Ungkap Sungai Alirkan Mikroplastik Lebih Banyak dari Perkiraan ke Laut
Studi Ungkap Sungai Alirkan Mikroplastik Lebih Banyak dari Perkiraan ke Laut
Pemerintah
Umbi Kimpul Berpotensi Jadi Komoditas Pangan 'Gluten Free' Bernilai Ekonomi Tinggi
Umbi Kimpul Berpotensi Jadi Komoditas Pangan "Gluten Free" Bernilai Ekonomi Tinggi
LSM/Figur
Urutan Pesan yang Tepat Tingkatkan Keberhasilan Ajakan Peduli Lingkungan
Urutan Pesan yang Tepat Tingkatkan Keberhasilan Ajakan Peduli Lingkungan
Pemerintah
Cegah Krisis Iklim, PBB Dorong Penetapan Tenggat Waktu Tinggalkan Bahan Bakar Fosil
Cegah Krisis Iklim, PBB Dorong Penetapan Tenggat Waktu Tinggalkan Bahan Bakar Fosil
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau