Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kapan Gletser Dunia Lenyap? Situs Baru Ini Petakan Perkiraannya

Kompas.com, 1 Oktober 2026, 20:12 WIB
Monika Novena,
Andika Aditia

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com - Para ilmuwan meluncurkan Global Glacier Extinction Explorer, sebuah situs web interaktif baru yang memungkinkan siapa saja menjelajahi perkiraan masa depan gletser di seluruh dunia.

Dengan mengunjungi www.glacierextinction.com, pengguna dapat memeriksa apa dan kapan perkiraan waktu sebuah gletser diproyeksikan akan hilang akibat berbagai tingkat pemanasan global.

Platform ini dikembangkan berdasarkan studi terbaru yang diterbitkan di jurnal Nature Climate Change, yang dipimpin para peneliti dari ETH Zurich dan Vrije Universiteit Brussel bersama tim riset internasional.

Situs web kemudian dikembangkan penulis utama Lander Van Tricht (ETH Zurich / VUB) bersama Kristof Van Tricht (VITO Remote Sensing), yang mengubah hasil perkiraan ilmiah menjadi peta interaktif yang mudah diakses.

Melansir Phys, Jumat (11/9/2026) studi tersebut memberikan penilaian global pertama mengenai hilangnya gletser secara individual dan menunjukkan bahwa dunia sedang mendekati periode kepunahan gletser yang belum pernah terjadi sebelumnya.

"Angka-angka global seperti hilangnya massa atau luas gletser bisa terasa sangat abstrak. Dengan situs web ini, orang-orang dapat memperbesar tampilan ke wilayah lembah atau pegunungan mereka sendiri dan melihat apa arti dari berbagai tingkat pemanasan global bagi gletser yang mereka kenal," kata Van Tricht.

Baca juga: Pemanasan Global Percepat Pencairan Es di Papua, Gletser Tropis Terakhir Asia akan Punah

"Kami berharap platform ini juga dapat membantu masyarakat setempat bersiap menghadapi masa depan dengan jumlah gletser yang makin sedikit," paparnya lagi.

Tahun terburuk gletser pegunungan

Peluncuran situs ini bertepatan dengan masa sulit lainnya bagi gletser di Eropa. Tahun 2026 kembali terbukti menjadi tahun yang sangat buruk bagi gletser di pegunungan Alpen Eropa. Pengukuran akhir musim panas masih berlangsung, tetapi pengamatan awal menunjukkan bahwa tahun 2026 bisa menjadi salah satu tahun terburuk bagi gletser Alpen sejak pengukuran resmi dimulai.

Kombinasi dari rendahnya penumpukan salju di musim dingin dan beberapa gelombang panas di musim panas telah menyebabkan hilangnya es dalam jumlah besar di seluruh wilayah Alpen. Bagi gletser-gletser terkecil, satu musim pencairan ekstrem lagi sudah cukup untuk membuat mereka punah sepenuhnya.

Salah satu contohnya adalah Gletser Bella Tola di dekat Saint-Luc, Swiss, yang secara resmi dinyatakan punah pada Agustus 2026 setelah hampir lenyap sepenuhnya.

Menariknya, hal ini sangat cocok dengan perkiraan dalam studi Nature Climate Change di mana Gletser Bella Tola memang diproyeksikan akan hilang antara tahun 2026 dan 2029. Gletser Urirotstock juga dinyatakan punah pada musim panas ini, menjadi contoh nyata lainnya dari cepatnya hilangnya gletser-gletser terkecil di Swiss.

"Contoh-contoh ini membuat konsep kepunahan gletser menjadi sangat nyata," kata Van Tricht.

"Perkiraan kami menunjukkan bahwa banyak gletser kecil di Alpen yang mendekati akhir masa hidupnya, dan sekarang kita menyaksikan proses ini terjadi secara langsung. Gletser Bella Tola adalah contoh yang sangat jelas, karena hilangnya gletser ini terjadi tepat dalam rentang waktu kepunahan yang diperkirakan oleh model kami," terangnya lagi.

Meskipun musim pencairan ekstrem dapat menjadi tahap akhir dari penurunan gletser, proses utamanya sebenarnya berkembang dalam jangka waktu yang jauh lebih lama.

Baca juga: Gletser Asia Mencair, Pasokan Air Miliaran Orang Terancam

"Hilangnya sebuah gletser bukanlah hasil dari satu musim panas yang terik saja, melainkan puncaknya dari akumulasi kehilangan massa es selama bertahun-tahun. Tahun demi tahun, curah salju yang kurang dan pencairan musim panas yang kuat secara bertahap mengikis gletser hingga es tersebut tidak mampu bertahan lagi," tambah penulis pendamping Harry Zekollari (VUB).

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Rasa Empati dan Marah Ternyata Tak Mampu Tingkatkan Donasi untuk Iklim
Rasa Empati dan Marah Ternyata Tak Mampu Tingkatkan Donasi untuk Iklim
Pemerintah
Lautan Dunia Serap Rekor Panas, Setara 40 Kali Penggunaan Energi Global Tahunan
Lautan Dunia Serap Rekor Panas, Setara 40 Kali Penggunaan Energi Global Tahunan
Pemerintah
Kapan Gletser Dunia Lenyap? Situs Baru Ini Petakan Perkiraannya
Kapan Gletser Dunia Lenyap? Situs Baru Ini Petakan Perkiraannya
Pemerintah
RUU Ketenagakerjaan Perluas Sanksi Pidana, Pengawasan Masih Jadi Tantangan
RUU Ketenagakerjaan Perluas Sanksi Pidana, Pengawasan Masih Jadi Tantangan
LSM/Figur
Ancaman Nyata Kenaikan Air Laut, Ribuan Orang Berpotensi Jadi Pengungsi
Ancaman Nyata Kenaikan Air Laut, Ribuan Orang Berpotensi Jadi Pengungsi
Pemerintah
Paradoks Investasi Lahan di Balik Frasa 'Habis Kebakaran, Terbitlah Sawit'
Paradoks Investasi Lahan di Balik Frasa "Habis Kebakaran, Terbitlah Sawit"
LSM/Figur
Kisah Warga Desa Bogor Rawat Lingkungan Raih Penghargaan Asia
Kisah Warga Desa Bogor Rawat Lingkungan Raih Penghargaan Asia
Swasta
Bappenas: Susut dan Sisa Pangan Bukan Sekadar Masalah Sampah
Bappenas: Susut dan Sisa Pangan Bukan Sekadar Masalah Sampah
Pemerintah
BRWA Soroti Potensi Tumpang Tindih Areal Preservasi dengan Wilayah Adat
BRWA Soroti Potensi Tumpang Tindih Areal Preservasi dengan Wilayah Adat
LSM/Figur
Dunia Mulai Beradaptasi dengan Panas Ekstrem, Namun Masih Sangat Lambat
Dunia Mulai Beradaptasi dengan Panas Ekstrem, Namun Masih Sangat Lambat
Pemerintah
Burung Migrasi Dalam Bahaya, 1 dari 9 Spesies Terancam Punah
Burung Migrasi Dalam Bahaya, 1 dari 9 Spesies Terancam Punah
Pemerintah
Nikel, Kekuatan Besar, dan Tanggung Jawab di Balik Hilirisasi Indonesia
Nikel, Kekuatan Besar, dan Tanggung Jawab di Balik Hilirisasi Indonesia
BUMN
Mengejar Nilai Tambah, Menekan Jejak Karbon dan Limbah Hilirisasi Nikel
Mengejar Nilai Tambah, Menekan Jejak Karbon dan Limbah Hilirisasi Nikel
Swasta
PBB: 1 Miliar Porsi Makanan Terbuang per Hari, Perparah Pemanasan Global
PBB: 1 Miliar Porsi Makanan Terbuang per Hari, Perparah Pemanasan Global
Pemerintah
Jerman Targetkan Bebas Bahan Bakar Fosil pada 2045
Jerman Targetkan Bebas Bahan Bakar Fosil pada 2045
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau