KOMPAS.com - Laporan terbaru dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengungkapkan bahwa hutan di seluruh dunia mengalami kerusakan (degradasi) lebih cepat daripada kemampuan pemulihannya, dengan lebih dari 460 juta hektar hutan saat ini dalam kondisi rusak.
Melansir Down to Earth, Kamis (1/10/2026) para penulis laporan The State of the World’s Forests 2026 yang diterbitkan oleh Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) mencatat bahwa kerusakan hutan ini utamanya dipicu oleh perubahan iklim, pertumbuhan penduduk, urbanisasi, serta pembangunan infrastruktur.
Perubahan fungsi lahan, tingginya kebutuhan energi, serta ketergantungan masyarakat terhadap lahan tersebut untuk mata pencaharian dan kesejahteraan menjadi alasan lain di balik makin meluasnya kerusakan hutan.
Laporan utama ini menyajikan penilaian global yang menyeluruh mengenai kerusakan lahan sekaligus merumuskan strategi praktis untuk memperluas pemulihan hutan dan lanskap (Forest and Landscape Restoration / FLR) yang berkualitas tinggi.
Baca juga: PBB Peringatkan Waktu untuk Pulihkan Hutan Dunia Kian Terbatas
Laporan tersebut menjelaskan kerusakan lahan umumnya dipahami sebagai penurunan terus-menerus atas manfaat dan layanan yang dihasilkan suatu ekosistem, termasuk keanekaragaman hayati, pasokan air, serta manfaat sosial dan ekonomi bagi masyarakat.
Namun, untuk mencapai target global pada tahun 2030 hampir 469 juta hektar lahan harus berada dalam proses pemulihan yang efektif.
Kenyataannya, hingga tahun 2026, laporan nasional mencatat baru sekitar 206,5 juta hektar lahan yang secara resmi dipulihkan. Jurang perbedaan angka ini menunjukkan perlunya percepatan tindakan secara mendesak.
"Hutan yang tumbuh secara alami berkurang sebanyak 324 juta hektar antara tahun 1990 dan 2025. Hal ini menegaskan betapa rentannya ekosistem hutan dan perlunya upaya berkelanjutan untuk menghentikan kerusakan serta mendukung pemulihan hutan," catat laporan tersebut.
Laporan tersebut mencatatkan, pada tahun 2019, sekitar 12 persen wilayah daratan Afrika (setara 334 juta hektar) masuk dalam kategori rusak, yang menunjukkan hilangnya hutan dan kerusakan lahan dalam skala besar.
"Di Asia, lahan yang rusak mencakup sekitar 19 persen dari total luas daratan yaitu sekitar 583 juta hektar. Angka ini mencerminkan dampak gabungan dari alih fungsi lahan, perluasan lahan pertanian, serta kerusakan hutan di berbagai ekosistem," tulis laporan itu.
Sementara untuk Amerika Selatan, sebanyak 14 persen wilayah daratannya atau hampir 245 juta hektar tercatat sebagai lahan yang rusak.
Para penulis menjelaskan bahwa angka-angka ini sejalan dengan besarnya tekanan yang terus-menerus terjadi akibat penebangan hutan dan perubahan fungsi lahan.
Baca juga: FAO: Hutan Jadi Kunci Utama Ketahanan Pangan, Gizi, dan Mata Pencaharian
"Penggundulan dan kerusakan hutan diakui sebagai penyebab utama kerusakan lahan, karena berdampak langsung pada perubahan tutupan tanah, penurunan produktivitas ekosistem, serta penyusutan cadangan karbon di daratan," tulis para peneliti.
Adapun total luas hutan di dunia pada tahun 2025 tercatat sebesar 4,14 miliar hektar, atau mencakup sekitar 32 persen dari seluruh wilayah daratan Bumi.
Laporan tersebut menyatakan bahwa penggundulan dan kerusakan hutan masih menjadi tantangan global yang besar, serta berdampak buruk pada keanekaragaman hayati, kestabilan iklim, dan produktivitas lahan.
Sejak tahun 1990, diperkirakan 489 juta hektar hutan di seluruh dunia telah hilang akibat penebangan. Hutan primer yang merupakan jenis hutan yang paling kaya keanekaragaman hayatinya dan sangat bernilai secara ekologis menjadi salah satu yang paling parah terdampak. Luas hutan primer dunia berkurang hingga 110 juta hektar antara tahun 1990 dan 2025.
Dampak hilangnya hutan ini mengakibatkan penurunan populasi spesies hewan dan tumbuhan, terpecah-pecahnya ekosistem, serta terganggunya fungsi penting alam.
Meskipun jumlah hutan yang hilang secara global masih sangat besar, laju bersih kehilangan hutan sebenarnya sempat menurun drastis dari 10,7 juta hektar per tahun pada periode 1990–2000 menjadi 3,68 juta hektar per tahun pada 2000–2015.
Penurunan ini sebagian besar didorong penambahan luas hutan di negara-negara seperti Kanada, Cina, Rusia, dan Amerika Serikat. Namun, pada periode 2015–2025, laju kehilangan hutan tahunan naik lagi menjadi 4,12 juta hektar per tahun, terutama karena melambatnya penambahan hutan baru.
Analisis tambahan untuk laporan tahun 2026 ini menemukan sebanyak 93 negara dan wilayah telah diidentifikasi membutuhkan pemulihan hutan. Kerusakan hutan menjadi masalah utama yang paling banyak ditemukan saat mengidentifikasi wilayah-wilayah yang butuh dipulihkan tersebut.
Lebih lanjut, negara-negara menentukan wilayah yang membutuhkan pemulihan berdasarkan kondisi hutan secara umum, menggunakan istilah-istilah seperti ‘hutan yang rusak’ atau ‘lahan yang terdegradasi’.
Baca juga: Studi Ungkap Asap Kebakaran Hutan Kurangi Keanekaragaman Burung
Laporan tersebut menemukan bahwa istilah-istilah seperti ‘area terdampak kebakaran’, ‘hutan terbakar’, dan ‘wilayah hutan yang dilanda kebakaran hutan’ muncul berulang kali di berbagai wilayah.
"Selain itu, negara-negara mendefinisikan hutan yang rusak dari berkurangnya tutupan atau kerapatan hutan. Perubahan struktur ini sering kali berkaitan dengan praktik pengelolaan dan penggunaan lahan yang buruk, termasuk penebangan yang tidak berkelanjutan, gagalnya teknik pembudidayaan hutan, serta alih fungsi lahan yang semuanya memicu penurunan kerapatan, produktivitas, dan kemampuan hutan untuk tumbuh kembali," tulis laporan itu.
Beberapa negara juga memasukkan kerusakan hutan akibat pengikisan tanah, pengembalaan berlebihan (overgrazing), serta kerusakan di wilayah perbatasan ke dalam kategori tersebut.
Dalam kasus-kasus ini, hutan tidak hanya digambarkan sebagai rusak, tetapi juga menjadi bagian dari susunan lanskap yang lebih luas. Hal ini memperlihatkan bahwa kerusakan di satu ekosistem saling berkaitan dengan penggunaan lahan lainnya.
Laporan itu menyimpulkan untuk menutup kesenjangan antara komitmen pemulihan lahan global dan tindakan nyata di lapangan diperlukan program pemulihan yang terkoordinasi dan berkualitas tinggi.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya