KOMPAS.com - Anak-anak dari masyarakat adat di seluruh dunia tengah mengalami dampak kesehatan yang serius akibat perubahan iklim, mulai dari gizi buruk dan penyakit menular, hingga gangguan kesehatan mental, rusaknya kesejahteraan budaya, serta masalah kesehatan sejak sebelum lahir.
Melansir Medical Xpress, Sabtu (3/10/2026) para peneliti dari The Kids Research Institute Australia, The University of Western Australia, dan Flinders University mengulas bukti dari 53 penelitian di berbagai belahan dunia.
Mereka menemukan bahwa anak-anak adat sudah merasakan dampak iklim ini di berbagai kondisi lingkungan, budaya, dan wilayah geografis.
Diterbitkan dalam jurnal Globalization and Health, studi ini merupakan penelitian pertama yang merangkum bukti global mengenai bagaimana perubahan iklim memengaruhi kesehatan dan kesejahteraan anak-anak adat.
Penulis utama studi ini, Jaime Turnbull, menyatakan bahwa ulasan ini mempertegas bahwa perubahan iklim bukan hanya masalah lingkungan, melainkan juga masalah kesehatan anak, di mana anak-anak adat menghadapi kerentanan yang saling tumpang tindih.
"Yang tak kalah penting, dampak-dampak ini tidak terjadi sendirian. Perubahan iklim merusak hubungan anak-anak adat dengan tanah leluhur, budaya, keluarga, dan komunitas mereka, padahal hal-hal itulah yang menjadi fondasi utama bagi kesehatan dan kesejahteraan mereka," kata Turnbull.
Tinjauan ini menemukan enam bentuk ancaman utama akibat iklim yaitu tekanan panas, perubahan pola musim dan lautan, perubahan siklus air, polusi udara, bencana alam terkait iklim, serta risiko lingkungan lainnya.
Ancaman-ancaman tersebut kemudian berdampak langsung pada lima masalah kesehatan utama di antaranya kesejahteraan psikologis dan budaya, gizi buruk, penyakit menular, kesehatan ibu dan bayi saat melahirkan, serta peningkatan angka kesakitan dan kematian.
Temuan yang paling kuat dan paling konsisten adalah dampaknya terhadap kesejahteraan psikologis dan budaya.
Di berbagai penelitian, kerusakan lingkungan terbukti memutuskan ikatan anak-anak adat dengan tanah leluhur, identitas budaya, bahasa, serta pengetahuan dan tradisi lokal mereka yang pada akhirnya memicu stres, kecemasan, depresi, trauma, dan rasa duka.
Penulis pendamping sekaligus tetua suku Yamatji, Dr. Mara West dari The Kids, menyampaikan bahwa temuan ini mempertegas pentingnya melihat kesehatan masyarakat adat secara menyeluruh.
"Bagi masyarakat adat, kesehatan terikat erat dengan budaya, tanah leluhur, keluarga, dan komunitas. Ketika perubahan iklim merusak lingkungan, hal itu juga mengganggu tradisi budaya dan hubungan sosial yang menjaga anak-anak tetap kuat dan sehat," ujar West.
"Temuan ini memperjelas mengapa pengetahuan lokal dan kepemimpinan masyarakat adat harus menjadi pusat dari setiap upaya penanganan krisis iklim," katanya lagi.
Alih-alih hanya memandang anak-anak adat sebagai korban yang rentan terhadap perubahan iklim, para peneliti menegaskan bahwa generasi muda ini harus diakui sebagai bagian penting dari solusi.
Tinjauan ini menemukan bahwa keterlibatan aktif generasi muda dalam aksi iklim yang dipimpin oleh masyarakat adat dapat memperkuat identitas budaya, hak menentukan nasib sendiri, pemindahan ilmu antar generasi, serta ketangguhan komunitas.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya