Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Sampah Antariksa Capai Ratusan Juta Fragmen, BRIN Dorong Kolaborasi Pemantauan

Kompas.com, 12 Oktober 2026, 13:54 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Sebanyak 47.080 objek buatan manusia telah terlacak dan dikatalogkan di orbit Bumi, tetapi hanya sekitar 15.900 objek yang masih aktif.

Kondisi ini menunjukkan besarnya persoalan sampah antariksa yang berpotensi mengganggu keberlangsungan misi satelit dan aktivitas manusia di luar angkasa.

Periset postdoctoral Pusat Riset Antariksa Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) di Observatorium Nasional Timau, Andry Renaldy Pandie, mengatakan, sampah antariksa tidak hanya berupa satelit yang sudah tidak berfungsi atau badan roket, tetapi juga jutaan hingga ratusan juta fragmen berukuran kecil.

Baca juga: PBB Soroti Ancaman Sampah Antariksa yang Makin Mengkhawatirkan

Berdasarkan estimasi pemodelan, terdapat sekitar 1,5 juta fragmen berukuran 1–10 sentimeter dan sekitar 230 juta fragmen berukuran 1 milimeter hingga 1 sentimeter. Total massa benda buatan manusia yang berada di orbit diperkirakan mencapai lebih dari 17.000 ton.

“Artinya, dua dari tiga benda buatan manusia yang diorbit itu sudah tidak berfungsi lagi,” ujar Andry, dikutip dari laman resmi BRIN, Jumat (9/10/2026).

Meski berukuran kecil, fragmen tersebut tetap berbahaya karena dapat bergerak dengan kecepatan sekitar 7,5–15 kilometer per detik di orbit rendah Bumi. Tumbukan pada kecepatan tinggi dapat menghasilkan pecahan baru yang meningkatkan risiko tabrakan berikutnya.

Rangkaian tumbukan yang menghasilkan semakin banyak pecahan tersebut dikenal sebagai Kessler Syndrome. Jika jumlah fragmen terus bertambah, risiko gangguan terhadap satelit yang masih beroperasi dan misi antariksa berikutnya juga dapat meningkat.

Kolaborasi observatorium tingkatkan akurasi

Untuk mengurangi risiko tumbukan, keberadaan dan pergerakan objek di orbit perlu dipantau secara berkelanjutan. Upaya ini merupakan bagian dari Space Situational Awareness (SSA), yakni pemantauan untuk mengetahui posisi, pergerakan, dan kondisi objek di antariksa.

Pengamatan dapat dilakukan menggunakan radar maupun teleskop optik. Informasi yang diperoleh digunakan untuk memperkirakan risiko tabrakan dan membantu menentukan langkah penghindaran ketika objek berada pada lintasan yang berpotensi berbahaya.

Dalam upaya tersebut, Observatorium Nasional Timau di Nusa Tenggara Timur berpeluang berkontribusi melalui pengamatan dari belahan Bumi selatan. Posisi geografisnya memungkinkan objek yang sama diamati dari sudut berbeda dibandingkan observatorium di wilayah lain.

Andry mencontohkan kolaborasi dengan Observatorium Zimmerwald di Swiss. Perbedaan lokasi kedua observatorium memungkinkan pengamatan terhadap objek yang sama dari perspektif berbeda, sehingga informasi mengenai posisinya dapat ditentukan dengan lebih baik.

Menurut simulasi yang dilakukan, kolaborasi pengamatan Timau dengan Zimmerwald atau observatorium lain berpotensi menambah jumlah pengamatan sekitar 20–40 persen. Pada saat yang sama, ketidakpastian posisi objek diperkirakan dapat berkurang tiga hingga empat kali lipat.

Baca juga: BRIN Kembangkan Gasifikasi Sampah untuk Tekan Emisi Metana dan CO2

“Ibaratnya seperti kita memotret satu benda, satu foto dari sudut lain itu jauh lebih berguna daripada 10 foto dari sudut yang sama,” kata Andry.

Namun, hasil tersebut masih berupa simulasi dengan asumsi kualitas teleskop di Timau setara dengan teleskop Zimmerwald. Teleskop berukuran 3,8 meter di Observatorium Nasional Timau juga masih dalam tahap penyelesaian.

Timau sebagai pelengkap jaringan pengamatan

Andry berharap, ketika fasilitas tersebut beroperasi, data pengamatan Timau dapat melengkapi informasi yang dikumpulkan observatorium lain. Menurut dia, kontribusi Indonesia tidak harus berupa pembangunan katalog sampah antariksa tersendiri, tetapi dapat melalui penyediaan data dari sudut pengamatan yang belum terwakili secara optimal.

Dengan pendekatan tersebut, data dari berbagai observatorium dapat saling melengkapi untuk menghasilkan informasi posisi objek yang lebih akurat. Informasi ini diperlukan untuk mendukung keselamatan misi antariksa dan perencanaan upaya mitigasi sampah antariksa.

Persoalan sampah antariksa sendiri melintasi batas negara karena objek di orbit dapat memengaruhi berbagai misi tanpa memandang negara pemiliknya. Karena itu, kerja sama pengamatan menjadi salah satu cara untuk memperbaiki pemantauan dan mengurangi risiko tabrakan di orbit Bumi.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Target Bebas Emisi Mundur ke 2090, Suhu Bumi Terancam Naik 2,3 Derajat C
Target Bebas Emisi Mundur ke 2090, Suhu Bumi Terancam Naik 2,3 Derajat C
Pemerintah
Kemenperin Usul Produk Bersertifikat Hijau Diprioritaskan dalam Pengadaan Pemerintah
Kemenperin Usul Produk Bersertifikat Hijau Diprioritaskan dalam Pengadaan Pemerintah
Pemerintah
ITB Olah Ubi Cilembu Rusak Jadi Sirup Gula, Teliti Metabolisme Kopi Premium
ITB Olah Ubi Cilembu Rusak Jadi Sirup Gula, Teliti Metabolisme Kopi Premium
LSM/Figur
Indonesia Bidik 12 Juta Hektare Lahan Terdegradasi untuk Pangan dan Biofuel
Indonesia Bidik 12 Juta Hektare Lahan Terdegradasi untuk Pangan dan Biofuel
Pemerintah
Retno Marsudi: Target Air dan Sanitasi Aman 2030 Terancam Meleset
Retno Marsudi: Target Air dan Sanitasi Aman 2030 Terancam Meleset
Pemerintah
Sampah Antariksa Capai Ratusan Juta Fragmen, BRIN Dorong Kolaborasi Pemantauan
Sampah Antariksa Capai Ratusan Juta Fragmen, BRIN Dorong Kolaborasi Pemantauan
LSM/Figur
Mobil Listrik Murah Bermunculan, Penjualan EV di Eropa Tembus 1,6 Juta Unit
Mobil Listrik Murah Bermunculan, Penjualan EV di Eropa Tembus 1,6 Juta Unit
Pemerintah
92 Persen Sampah di Sungai Berakhir di Pantai, Tertinggi Jakarta dan Bali
92 Persen Sampah di Sungai Berakhir di Pantai, Tertinggi Jakarta dan Bali
LSM/Figur
Dorong Hilirisasi, Bappenas Luncurkan Peta Jalan Pembangunan Rumput Laut Terintegrasi 2026–2030
Dorong Hilirisasi, Bappenas Luncurkan Peta Jalan Pembangunan Rumput Laut Terintegrasi 2026–2030
Pemerintah
Asap Karhutla Indonesia Bikin Singapura Jadi Kota Paling Berpolusi di Dunia
Asap Karhutla Indonesia Bikin Singapura Jadi Kota Paling Berpolusi di Dunia
Pemerintah
Perdagangan Global Tembus Rp 560 Kuadriliun di Tengah Berbagai Konflik
Perdagangan Global Tembus Rp 560 Kuadriliun di Tengah Berbagai Konflik
Pemerintah
Ancaman Nyata Perubahan Iklim, Sejumlah Spot Selancar Dunia Terancam Rusak
Ancaman Nyata Perubahan Iklim, Sejumlah Spot Selancar Dunia Terancam Rusak
Pemerintah
AHY: Jangan Sampai Talenta dan Pakar Teknologi Kabur dari Indonesia
AHY: Jangan Sampai Talenta dan Pakar Teknologi Kabur dari Indonesia
Pemerintah
Hilangnya Biodiversitas Tanaman Kurangi Kemampuan Padang Rumput Serap Karbon
Hilangnya Biodiversitas Tanaman Kurangi Kemampuan Padang Rumput Serap Karbon
Pemerintah
Hutan Mangrove di Surabaya Timur Terancam Dikepung Sampah, Aliran Anak Sungai Seperti TPA
Hutan Mangrove di Surabaya Timur Terancam Dikepung Sampah, Aliran Anak Sungai Seperti TPA
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau