KOMPAS.com - Sebanyak 47.080 objek buatan manusia telah terlacak dan dikatalogkan di orbit Bumi, tetapi hanya sekitar 15.900 objek yang masih aktif.
Kondisi ini menunjukkan besarnya persoalan sampah antariksa yang berpotensi mengganggu keberlangsungan misi satelit dan aktivitas manusia di luar angkasa.
Periset postdoctoral Pusat Riset Antariksa Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) di Observatorium Nasional Timau, Andry Renaldy Pandie, mengatakan, sampah antariksa tidak hanya berupa satelit yang sudah tidak berfungsi atau badan roket, tetapi juga jutaan hingga ratusan juta fragmen berukuran kecil.
Baca juga: PBB Soroti Ancaman Sampah Antariksa yang Makin Mengkhawatirkan
Berdasarkan estimasi pemodelan, terdapat sekitar 1,5 juta fragmen berukuran 1–10 sentimeter dan sekitar 230 juta fragmen berukuran 1 milimeter hingga 1 sentimeter. Total massa benda buatan manusia yang berada di orbit diperkirakan mencapai lebih dari 17.000 ton.
“Artinya, dua dari tiga benda buatan manusia yang diorbit itu sudah tidak berfungsi lagi,” ujar Andry, dikutip dari laman resmi BRIN, Jumat (9/10/2026).
Meski berukuran kecil, fragmen tersebut tetap berbahaya karena dapat bergerak dengan kecepatan sekitar 7,5–15 kilometer per detik di orbit rendah Bumi. Tumbukan pada kecepatan tinggi dapat menghasilkan pecahan baru yang meningkatkan risiko tabrakan berikutnya.
Rangkaian tumbukan yang menghasilkan semakin banyak pecahan tersebut dikenal sebagai Kessler Syndrome. Jika jumlah fragmen terus bertambah, risiko gangguan terhadap satelit yang masih beroperasi dan misi antariksa berikutnya juga dapat meningkat.
Untuk mengurangi risiko tumbukan, keberadaan dan pergerakan objek di orbit perlu dipantau secara berkelanjutan. Upaya ini merupakan bagian dari Space Situational Awareness (SSA), yakni pemantauan untuk mengetahui posisi, pergerakan, dan kondisi objek di antariksa.
Pengamatan dapat dilakukan menggunakan radar maupun teleskop optik. Informasi yang diperoleh digunakan untuk memperkirakan risiko tabrakan dan membantu menentukan langkah penghindaran ketika objek berada pada lintasan yang berpotensi berbahaya.
Dalam upaya tersebut, Observatorium Nasional Timau di Nusa Tenggara Timur berpeluang berkontribusi melalui pengamatan dari belahan Bumi selatan. Posisi geografisnya memungkinkan objek yang sama diamati dari sudut berbeda dibandingkan observatorium di wilayah lain.
Andry mencontohkan kolaborasi dengan Observatorium Zimmerwald di Swiss. Perbedaan lokasi kedua observatorium memungkinkan pengamatan terhadap objek yang sama dari perspektif berbeda, sehingga informasi mengenai posisinya dapat ditentukan dengan lebih baik.
Menurut simulasi yang dilakukan, kolaborasi pengamatan Timau dengan Zimmerwald atau observatorium lain berpotensi menambah jumlah pengamatan sekitar 20–40 persen. Pada saat yang sama, ketidakpastian posisi objek diperkirakan dapat berkurang tiga hingga empat kali lipat.
Baca juga: BRIN Kembangkan Gasifikasi Sampah untuk Tekan Emisi Metana dan CO2
“Ibaratnya seperti kita memotret satu benda, satu foto dari sudut lain itu jauh lebih berguna daripada 10 foto dari sudut yang sama,” kata Andry.
Namun, hasil tersebut masih berupa simulasi dengan asumsi kualitas teleskop di Timau setara dengan teleskop Zimmerwald. Teleskop berukuran 3,8 meter di Observatorium Nasional Timau juga masih dalam tahap penyelesaian.
Andry berharap, ketika fasilitas tersebut beroperasi, data pengamatan Timau dapat melengkapi informasi yang dikumpulkan observatorium lain. Menurut dia, kontribusi Indonesia tidak harus berupa pembangunan katalog sampah antariksa tersendiri, tetapi dapat melalui penyediaan data dari sudut pengamatan yang belum terwakili secara optimal.
Dengan pendekatan tersebut, data dari berbagai observatorium dapat saling melengkapi untuk menghasilkan informasi posisi objek yang lebih akurat. Informasi ini diperlukan untuk mendukung keselamatan misi antariksa dan perencanaan upaya mitigasi sampah antariksa.
Persoalan sampah antariksa sendiri melintasi batas negara karena objek di orbit dapat memengaruhi berbagai misi tanpa memandang negara pemiliknya. Karena itu, kerja sama pengamatan menjadi salah satu cara untuk memperbaiki pemantauan dan mengurangi risiko tabrakan di orbit Bumi.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya