Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

WWF: Populasi Satwa Liar Anjlok 73 Persen Sejak 1970

Kompas.com, 12 Oktober 2026, 19:26 WIB
Monika Novena,
Andika Aditia

Tim Redaksi

Sumber Edie

KOMPAS.com - Laporan Living Planet dari WWF memaparkan ukuran rata-rata populasi satwa liar turun 73 persen dari tahun 1970 hingga 2022.

Indeks tersebut mengukur rata-rata perubahan ukuran populasi yang dipantai dari spesies bertulang belakang yakni mamalia, burung, ikan, reptil, dan amfibi.

Melansir Edie, Kamis (8/10/2026) laporan tersebut menyoroti kepunahan spesies saat ini terjadi setidaknya 100 kali lebih cepat daripada tingkat kepunahan alami sebelum adanya campur tangan manusia.

Populasi satwa air tawar mengalami penurunan paling parah selama 50 tahun terakhir, yaitu anjlok hingga 85 persen.

Sementara itu, populasi di ekosistem darat dan laut masing-masing menyusut 69 persen dan 59 persen.

Penurunan populasi ini sebagian besar disebabkan oleh hilangnya dan rusaknya tempat tinggal alami satwa.

Selain itu, eksploitasi berlebihan, perubahan iklim, polusi, spesies asing yang merusak, serta penyakit juga menjadi ancaman bagi satwa liar.

Bukan hanya mengancam kelangsungan hidup di Bumi, hilangnya keanekaragaman hayati juga mendatangkan ancaman besar bagi sektor keuangan dan bisnis. PwC menyatakan pada tahun 2023 bahwa 55 persen Produk Domestik Bruto (PDB) global bergantung pada alam.

Baca juga: Cerita Satwa Liar yang Menemukan Ruang Hidup di Hutan Konservasi Solok Selatan

Bahkan, analisis lain memperkirakan angka yang lebih tinggi lagi. Meskipun demikian, dana publik dan swasta sebesar 7,3 triliun dolar AS justru digelontorkan untuk kegiatan yang merusak alam pada tahun 2023. Angka ini 30 kali lipat lebih besar dibanding pendanaan untuk solusi berbasis alam.

Jumlah tersebut mencakup aliran dana swasta yang merusak alam sebesar 4,9 triliun dolar AS, yang di antaranya hampir 1,6 triliun dolar AS mengalir ke sektor utilitas serta hampir 1,4 triliun dolar AS ke sektor industri dan teknologi.

Selain itu, ada tambahan dana publik sebesar 2,4 triliun dolar AS yang dialokasikan untuk menyubsidi kegiatan-kegiatan yang merusak alam. Lebih dari 1,1 triliun dolar AS digelontorkan untuk bahan bakar fosil dan 0,4 triliun dolar AS untuk pertanian intensif serta industri.

Upaya konservasi terpadu

Kendati demikian, WWF menekankan bahwa upaya konservasi yang terpadu dan ambisius telah berhasil membalikkan tren penurunan pada berbagai spesies.

Sebagai contoh, jumlah harimau liar melonjak lebih dari 70 persen antara tahun 2010 dan 2025, berkat aksi terkoordinasi dari tingkat pemerintah hingga masyarakat lokal.

Begitu pula dengan ikan tuna sirip biru Atlantik dan Pasifik yang hampir punah pada tahun 2010. Namun, berkat kombinasi boikot pemasok, komitmen para koki dan peritel, reformasi perikanan, serta pengelolaan perikanan regional yang lebih baik, spesies ini kini tidak lagi dianggap mengalami penangkapan ikan berlebihan atau rentan.

Baca juga: Karhutla Ulah Manusia, Satwa Liar Akan Jadi Korban Sekaligus Disalahkan

Semua ini merupakan bukti nyata adanya harapan yang bekerja di tengah individu, masyarakat, dan berbagai lembaga, yang dibangun melalui kerja keras bersama selama bertahun-tahun.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Coca-Cola Inisiasi Lingkungan Berkelanjutan si Solo lewat Master Meter dan Pilah Sampah
Coca-Cola Inisiasi Lingkungan Berkelanjutan si Solo lewat Master Meter dan Pilah Sampah
Swasta
Sektor Transisi Rendah Karbon Justru Paling Rawan Greenwashing
Sektor Transisi Rendah Karbon Justru Paling Rawan Greenwashing
Pemerintah
WWF: Populasi Satwa Liar Anjlok 73 Persen Sejak 1970
WWF: Populasi Satwa Liar Anjlok 73 Persen Sejak 1970
Pemerintah
CBAM Tekan Daya Saing Ekspor RI, Kemenperin Soroti Perbedaan Perhitungan Emisi
CBAM Tekan Daya Saing Ekspor RI, Kemenperin Soroti Perbedaan Perhitungan Emisi
Pemerintah
Rosan: Pengembangan PLTS 100 GW Dimulai dari Penggantian PLTD 13 GW
Rosan: Pengembangan PLTS 100 GW Dimulai dari Penggantian PLTD 13 GW
Pemerintah
Zulhas: Aturan Turunan Perpres NEK Rampung Tahun Ini, Perdagangan Karbon Sasar Petani-Nelayan
Zulhas: Aturan Turunan Perpres NEK Rampung Tahun Ini, Perdagangan Karbon Sasar Petani-Nelayan
Pemerintah
Hashim Sebut Pemerintah Tak Akan Alihkan Kawasan Hutan Jadi Sawah, Komitmen Dipertanyakan
Hashim Sebut Pemerintah Tak Akan Alihkan Kawasan Hutan Jadi Sawah, Komitmen Dipertanyakan
Pemerintah
Utusan PBB Ingatkan Target SDGs soal Air Terancam Meleset
Utusan PBB Ingatkan Target SDGs soal Air Terancam Meleset
Pemerintah
95 Persen UMKM Klaim Ramah Lingkungan, Nyatanya Aksi Kurangi Emisi Lambat
95 Persen UMKM Klaim Ramah Lingkungan, Nyatanya Aksi Kurangi Emisi Lambat
Pemerintah
Target Bebas Emisi Mundur ke 2090, Suhu Bumi Terancam Naik 2,3 Derajat C
Target Bebas Emisi Mundur ke 2090, Suhu Bumi Terancam Naik 2,3 Derajat C
Pemerintah
Kemenperin Usul Produk Bersertifikat Hijau Diprioritaskan dalam Pengadaan Pemerintah
Kemenperin Usul Produk Bersertifikat Hijau Diprioritaskan dalam Pengadaan Pemerintah
Pemerintah
ITB Olah Ubi Cilembu Rusak Jadi Sirup Gula, Teliti Metabolisme Kopi Premium
ITB Olah Ubi Cilembu Rusak Jadi Sirup Gula, Teliti Metabolisme Kopi Premium
LSM/Figur
Indonesia Bidik 12 Juta Hektare Lahan Terdegradasi untuk Pangan dan Biofuel
Indonesia Bidik 12 Juta Hektare Lahan Terdegradasi untuk Pangan dan Biofuel
Pemerintah
Retno Marsudi: Target Air dan Sanitasi Aman 2030 Terancam Meleset
Retno Marsudi: Target Air dan Sanitasi Aman 2030 Terancam Meleset
Pemerintah
Sampah Antariksa Capai Ratusan Juta Fragmen, BRIN Dorong Kolaborasi Pemantauan
Sampah Antariksa Capai Ratusan Juta Fragmen, BRIN Dorong Kolaborasi Pemantauan
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau