Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

WWF: Populasi Satwa Liar Anjlok 73 Persen Sejak 1970

Kompas.com, 12 Oktober 2026, 19:26 WIB
Monika Novena,
Andika Aditia

Tim Redaksi

Sumber Edie

Namun, laporan tersebut memperingatkan bahwa upaya konservasi saja tidak akan cukup untuk mengatasi hilangnya keanekaragaman hayati.

Tantangan yang ada begitu besar sehingga menuntut perubahan transformatif serta rombongan besar yang mendasar dan menyeluruh di seluruh lapisan masyarakat.

"Laporan Living Planet ini kembali menjadi peringatan nyata alam kita sedang mengalami kemunduran serius, tetapi pemulihan tetap mungkin terjadi jika kita memperluas solusi yang terbukti ampuh," kata Direktur WWF UE, Ester Asin Martinez.

Sebelumnya lebih dari 100 pelaku bisnis dan lembaga keuangan mendesak pemerintah agar mereformasi subsidi dan insentif yang merusak alam, menjelang perhelatan COP17 yang akan digelar akhir bulan ini.

Laporan ini menyoroti pentingnya titik balik positif yaitu ketika suatu sistem melewati batas kritis sehingga perubahan positif dan kemajuan menjadi sulit dihentikan serta dapat memperkuat diri sendiri.

Titik balik ini terjadi ketika berbagai sistem atau solusi bergeser dari tahap persiapan ke tahap percepatan, yang setelah itu kondisinya akan menjadi stabil.

Hal-hal seperti tren sosial yang menular, skala ekonomi yang besar, dukungan politik, serta kemajuan teknologi turut membantu mempercepat dan memperkuat kemajuan tersebut. Sebaliknya, hal-hal seperti penyebaran informasi yang salah dan kebijakan yang tidak mendukung justru akan memperlambat perubahan.

Transisi energi untuk atasi perubahan iklim

Lebih lanjut, WWF menandai bahwa peralihan dari bahan bakar fosil sangat penting untuk mengatasi perubahan iklim dan kerusakan alam yang ditimbulkannya.

Untungnya, dunia telah membuat kemajuan besar dalam mengubah sistem energi, berkat faktor-faktor seperti dukungan kebijakan pemerintah dan perkembangan teknologi panel surya.

"Penghentian penggunaan bahan bakar fosil secara global memang masih berada di tahap awal, tetapi di beberapa pasar sudah memasuki tahap percepatan atau bahkan tahap kestabilan," tulis laporan WWF ini.

Baca juga: Satwa Liar Terjepit Erupsi Gunung, Ancaman Kepunahan dan Risiko Berkonflik dengan Manusia

Laporan ini juga mengidentifikasi beberapa titik tumpu utama untuk semakin mempercepat kemajuan di sektor energi yaitu menghapus subsidi bahan bakar fosil, mempercepat izin perencanaan untuk proyek energi terbarukan, memperluas kapasitas penyimpanan energi yang fleksibel.

Selain itu juga berinvestasi pada infrastruktur pengisian daya kendaraan listrik (EV) serta berkomitmen pada target wajib elektrifikasi

Industri pangan juga memegang peran kunci dalam pemulihan alam, mengingat sektor ini selama ini menjadi salah satu penyebab utama kerusakan alam.

Menyumbang sekitar 30 persen dari total emisi gas rumah kaca global, sistem pangan dunia adalah pemicu terbesar hilangnya keanekaragaman hayati akibat perusakan habitat.

Laporan ini menyoroti tiga hal saling terhubung yang dapat membalikkan arah sistem pangan menuju pemulihan alam: beralih ke cara produksi dan panen yang ramah alam, mengubah pola makan menjadi lebih sehat dan berkelanjutan, serta mengurangi susut dan limbah pangan.

Laporan juga mencatat pentingnya sektor keuangan sebagai penghubung dalam ekonomi global dan salah satu alat paling ampuh untuk mempercepat atau justru menghambat transformasi keberlanjutan.

Mengubah insentif di sektor keuangan agar kegiatan yang merusak alam tidak lagi menguntungkan adalah hal yang sangat krusial. Untuk mewujudkannya, WWF mengidentifikasi beberapa langkah perubahan, di antaranya adanya aturan sektor keuangan agar setiap lembaga wajib menilai, mengelola, dan melaporkan risiko keuangan yang terkait dengan iklim dan alam.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Coca-Cola Inisiasi Lingkungan Berkelanjutan si Solo lewat Master Meter dan Pilah Sampah
Coca-Cola Inisiasi Lingkungan Berkelanjutan si Solo lewat Master Meter dan Pilah Sampah
Swasta
Sektor Transisi Rendah Karbon Justru Paling Rawan Greenwashing
Sektor Transisi Rendah Karbon Justru Paling Rawan Greenwashing
Pemerintah
WWF: Populasi Satwa Liar Anjlok 73 Persen Sejak 1970
WWF: Populasi Satwa Liar Anjlok 73 Persen Sejak 1970
Pemerintah
CBAM Tekan Daya Saing Ekspor RI, Kemenperin Soroti Perbedaan Perhitungan Emisi
CBAM Tekan Daya Saing Ekspor RI, Kemenperin Soroti Perbedaan Perhitungan Emisi
Pemerintah
Rosan: Pengembangan PLTS 100 GW Dimulai dari Penggantian PLTD 13 GW
Rosan: Pengembangan PLTS 100 GW Dimulai dari Penggantian PLTD 13 GW
Pemerintah
Zulhas: Aturan Turunan Perpres NEK Rampung Tahun Ini, Perdagangan Karbon Sasar Petani-Nelayan
Zulhas: Aturan Turunan Perpres NEK Rampung Tahun Ini, Perdagangan Karbon Sasar Petani-Nelayan
Pemerintah
Hashim Sebut Pemerintah Tak Akan Alihkan Kawasan Hutan Jadi Sawah, Komitmen Dipertanyakan
Hashim Sebut Pemerintah Tak Akan Alihkan Kawasan Hutan Jadi Sawah, Komitmen Dipertanyakan
Pemerintah
Utusan PBB Ingatkan Target SDGs soal Air Terancam Meleset
Utusan PBB Ingatkan Target SDGs soal Air Terancam Meleset
Pemerintah
95 Persen UMKM Klaim Ramah Lingkungan, Nyatanya Aksi Kurangi Emisi Lambat
95 Persen UMKM Klaim Ramah Lingkungan, Nyatanya Aksi Kurangi Emisi Lambat
Pemerintah
Target Bebas Emisi Mundur ke 2090, Suhu Bumi Terancam Naik 2,3 Derajat C
Target Bebas Emisi Mundur ke 2090, Suhu Bumi Terancam Naik 2,3 Derajat C
Pemerintah
Kemenperin Usul Produk Bersertifikat Hijau Diprioritaskan dalam Pengadaan Pemerintah
Kemenperin Usul Produk Bersertifikat Hijau Diprioritaskan dalam Pengadaan Pemerintah
Pemerintah
ITB Olah Ubi Cilembu Rusak Jadi Sirup Gula, Teliti Metabolisme Kopi Premium
ITB Olah Ubi Cilembu Rusak Jadi Sirup Gula, Teliti Metabolisme Kopi Premium
LSM/Figur
Indonesia Bidik 12 Juta Hektare Lahan Terdegradasi untuk Pangan dan Biofuel
Indonesia Bidik 12 Juta Hektare Lahan Terdegradasi untuk Pangan dan Biofuel
Pemerintah
Retno Marsudi: Target Air dan Sanitasi Aman 2030 Terancam Meleset
Retno Marsudi: Target Air dan Sanitasi Aman 2030 Terancam Meleset
Pemerintah
Sampah Antariksa Capai Ratusan Juta Fragmen, BRIN Dorong Kolaborasi Pemantauan
Sampah Antariksa Capai Ratusan Juta Fragmen, BRIN Dorong Kolaborasi Pemantauan
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau