Namun, laporan tersebut memperingatkan bahwa upaya konservasi saja tidak akan cukup untuk mengatasi hilangnya keanekaragaman hayati.
Tantangan yang ada begitu besar sehingga menuntut perubahan transformatif serta rombongan besar yang mendasar dan menyeluruh di seluruh lapisan masyarakat.
"Laporan Living Planet ini kembali menjadi peringatan nyata alam kita sedang mengalami kemunduran serius, tetapi pemulihan tetap mungkin terjadi jika kita memperluas solusi yang terbukti ampuh," kata Direktur WWF UE, Ester Asin Martinez.
Sebelumnya lebih dari 100 pelaku bisnis dan lembaga keuangan mendesak pemerintah agar mereformasi subsidi dan insentif yang merusak alam, menjelang perhelatan COP17 yang akan digelar akhir bulan ini.
Laporan ini menyoroti pentingnya titik balik positif yaitu ketika suatu sistem melewati batas kritis sehingga perubahan positif dan kemajuan menjadi sulit dihentikan serta dapat memperkuat diri sendiri.
Titik balik ini terjadi ketika berbagai sistem atau solusi bergeser dari tahap persiapan ke tahap percepatan, yang setelah itu kondisinya akan menjadi stabil.
Hal-hal seperti tren sosial yang menular, skala ekonomi yang besar, dukungan politik, serta kemajuan teknologi turut membantu mempercepat dan memperkuat kemajuan tersebut. Sebaliknya, hal-hal seperti penyebaran informasi yang salah dan kebijakan yang tidak mendukung justru akan memperlambat perubahan.
Lebih lanjut, WWF menandai bahwa peralihan dari bahan bakar fosil sangat penting untuk mengatasi perubahan iklim dan kerusakan alam yang ditimbulkannya.
Untungnya, dunia telah membuat kemajuan besar dalam mengubah sistem energi, berkat faktor-faktor seperti dukungan kebijakan pemerintah dan perkembangan teknologi panel surya.
"Penghentian penggunaan bahan bakar fosil secara global memang masih berada di tahap awal, tetapi di beberapa pasar sudah memasuki tahap percepatan atau bahkan tahap kestabilan," tulis laporan WWF ini.
Baca juga: Satwa Liar Terjepit Erupsi Gunung, Ancaman Kepunahan dan Risiko Berkonflik dengan Manusia
Laporan ini juga mengidentifikasi beberapa titik tumpu utama untuk semakin mempercepat kemajuan di sektor energi yaitu menghapus subsidi bahan bakar fosil, mempercepat izin perencanaan untuk proyek energi terbarukan, memperluas kapasitas penyimpanan energi yang fleksibel.
Selain itu juga berinvestasi pada infrastruktur pengisian daya kendaraan listrik (EV) serta berkomitmen pada target wajib elektrifikasi
Industri pangan juga memegang peran kunci dalam pemulihan alam, mengingat sektor ini selama ini menjadi salah satu penyebab utama kerusakan alam.
Menyumbang sekitar 30 persen dari total emisi gas rumah kaca global, sistem pangan dunia adalah pemicu terbesar hilangnya keanekaragaman hayati akibat perusakan habitat.
Laporan ini menyoroti tiga hal saling terhubung yang dapat membalikkan arah sistem pangan menuju pemulihan alam: beralih ke cara produksi dan panen yang ramah alam, mengubah pola makan menjadi lebih sehat dan berkelanjutan, serta mengurangi susut dan limbah pangan.
Laporan juga mencatat pentingnya sektor keuangan sebagai penghubung dalam ekonomi global dan salah satu alat paling ampuh untuk mempercepat atau justru menghambat transformasi keberlanjutan.
Mengubah insentif di sektor keuangan agar kegiatan yang merusak alam tidak lagi menguntungkan adalah hal yang sangat krusial. Untuk mewujudkannya, WWF mengidentifikasi beberapa langkah perubahan, di antaranya adanya aturan sektor keuangan agar setiap lembaga wajib menilai, mengelola, dan melaporkan risiko keuangan yang terkait dengan iklim dan alam.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya