Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
INDONESIA menyimpan sekitar 23 persen mangrove dunia. Selama ini, mangrove dipuji sebagai benteng alami pesisir tropis.
Akarnya yang rumit meredam gelombang, menjebak sedimen, menahan erosi, sekaligus menjadi rumah bagi beragam biota.
Tak heran, setiap kali abrasi dan banjir rob melanda, gerakan menanam mangrove segera digaungkan.
Pertanyaannya, apakah mangrove benar-benar mampu melindungi pesisir dari segala ancaman? Secara ilmiah jawabannya: ya, tetapi dengan batas yang jelas.
Harapan yang berlebihan justru bisa berujung kekecewaan, terutama jika restorasi hanya diartikan sebagai menanam sebanyak-banyaknya.
Ada lima batas yang perlu dipahami.
Pertama, mangrove sangat baik meredam gelombang pendek. Namun, kemampuannya terbatas saat menghadapi storm surge, yaitu naiknya muka air laut dalam waktu lama akibat badai.
Penurunan tinggi surge yang berarti, sekitar 5-50 sentimeter per kilometer, hanya terjadi pada hutan yang lebar, menyambung, dan minim saluran. Sabuk mangrove yang tipis tidak bisa diandalkan.
Kedua, mangrove bergantung pada pasokan sedimen. Ia hampir tidak menghasilkan sedimen sendiri, sehingga peran sebagai "pembangun lahan" hanya berjalan bila sungai masih mengantarkan lumpur ke pesisir.
Ketika pasokan berkurang akibat bendungan, penambangan pasir, atau perubahan tata guna lahan di hulu, sabuk mangrove yang lebar pun akan mundur.
Studi di Delta Mekong menunjukkan, setelah sedimen sungai menyusut, laju erosi tak lagi ditentukan oleh lebar mangrove. Persoalan pesisir ternyata bisa bermula dari hulu.
Ketiga, mangrove juga bisa rusak. Pohon yang tajuknya menjulang di atas muka air rentan terhadap terpaan angin badai, dan pemulihannya memakan waktu beberapa tahun. Dan selama itu, fungsi perlindungannya hilang.
Keempat, ada fenomena coastal squeeze. Tambak, permukiman, dan tanggul di sisi darat menghalangi mangrove bergeser ke daratan saat muka air laut naik. Akibatnya, mangrove terjepit di antara laut dan bangunan buatan manusia.
Kelima, dan ini sering luput dari perhatian, kapasitas proteksi mangrove dunia menurun sekitar 25 persen pada 2007-2019 (Xu et al., 2024). Angka itu jauh lebih besar daripada penyusutan luasnya yang hanya sekitar 2 persen.
Artinya, mangrove yang tampak hijau belum tentu sekuat dulu, sebab tinggi dan biomassanya, terutama di pantai terbuka, telah berkurang.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya