KOMPAS.com - Laporan LinkedIn mengungkapkan permintaan untuk keterampilan ramah lingkungan (green skills) di seluruh dunia tumbuh dua kali lipat lebih cepat daripada ketersediaan tenaga ahlinya.
Kesenjangan ini dikhawatirkan dapat memperlambat aksi iklim, proyek infrastruktur energi, dan pertumbuhan ekonomi.
Melansir Edie, Jumat (23/10/2026) laporan terbaru dari platform profesional ini menunjukkan bahwa porsi perekrutan tenaga kerja dengan keterampilan hijau meningkat 25 persen setiap tahunnya.
Sementara itu, pertumbuhan jumlah pekerja yang dikategorikan sebagai talent hijau hanya naik 13 persen.
Analisis LinkedIn tersebut mencakup data dari Januari 2021 hingga Juli 2026 yang dikumpulkan dari profil para penggunanya di seluruh dunia.
Baca juga: Menaker: Waspadai Paradoks Green Jobs
Kesenjangan antara kebutuhan perusahaan dan ketersediaan tenaga kerja ini terlihat jelas di berbagai sektor, termasuk manufaktur, konstruksi, utilitas, teknologi, dan transportasi.
Di berbagai industri, rata-rata porsi perekrutan tenaga kerja hijau 65 persen lebih tinggi dibandingkan jumlah tenaga kerja hijau yang benar-benar tersedia di pasar.
Di sektor manufaktur, perekrutan tenaga kerja hijau tumbuh 15,2 persen per tahun antara 2021 hingga 2026, sementara pertumbuhan jumlah tenaga ahlinya hanya 10,2 persen.
Di sektor teknologi, informasi, dan media, angka perekrutannya naik 17 persen per tahun, sedangkan pertumbuhan tenaga kerjanya sebesar 14,8 persen.
Laporan tersebut mengaitkan tren ini dengan kebutuhan untuk meningkatkan efisiensi operasional, mengubah metode produksi, menciptakan rantai pasok yang rendah karbon, serta memperluas infrastruktur energi.
Lonjakan kebutuhan listrik akibat kecerdasan buatan turut menambah beban pada sistem energi. Badan Energi Internasional (IEA) memperkirakan konsumsi listrik pusat data global akan melonjak dari 485 terawatt-jam (TWh) pada 2025 menjadi sekitar 950 TWh pada 2030.
LinkedIn menyatakan bahwa para pekerja yang memiliki keahlian di bidang manajemen energi, infrastruktur, efisiensi operasional, dan optimalisasi proses akan semakin dicari seiring langkah perusahaan memperluas sistem AI dan mengatasi dampak lingkungan.
Keterampilan hijau semakin banyak ditemukan pada berbagai profesi konvensional, dan tidak lagi hanya terbatas pada pekerjaan yang berfokus khusus pada keberlanjutan.
Hampir tiga dari empat pekerja hijau (73,9 persen) pada tahun 2026 justru masuk ke dalam posisi kerja yang tidak memiliki jabatan tradisional terkait lingkungan.
Para pekerja ini menerapkan keterampilan hijau bersamaan dengan keahlian utama mereka di bidang seperti keuangan, pengadaan barang, manufaktur, teknologi, dan operasional.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya