Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

PBB: Dunia Harus Pangkas Emisi 18 Persen dalam Empat Tahun untuk Selamatkan Bumi

Kompas.com, 26 Oktober 2026, 15:30 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber guardian

KOMPAS.com - Dunia harus memangkas emisi karbon hampir seperlima dalam empat tahun ke depan, dan hampir separuhnya dalam satu dekade, untuk menghindari kegagalan mencapai target iklim dengan selisih yang membawa bencana.

Melansir Guardian, Rabu (21/10/2/2026) menurut Program Lingkungan PBB (UNEP), meskipun "peluang" untuk menjaga kenaikan suhu global di angka 1,5 derajat C sesuai dengan saran para ilmuwan sudah tertutup, membatasi "kelebihan batas" (overshoot) dari target tersebut masih mungkin dilakukan.

Namun, laporan mengenai kesenjangan emisi alias selisih antara target iklim dan kebijakan yang ada menemukan bahwa berbagai negara gagal mengubah target jangka panjang mereka dalam mengurangi emisi menjadi tindakan nyata jangka pendek.

Jumlah emisi karbon global tampaknya sempat tertahan di mana tingkat emisi pada tahun 2025 secara garis besar mirip dengan tahun sebelumnya.

Namun, para analis UNEP berhati-hati untuk menyebut kondisi ini sebagai puncak emisi atau titik stabil, mengingat masih besarnya ketidakpastian geopolitik serta meningkatnya ketergantungan pada bahan bakar fosil, meskipun pertumbuhan energi terbarukan juga sedang tinggi.

Baca juga: Studi: Janji Target Iklim Perusahaan Ternyata Minim Realisasi Anggaran Hijau

Membatasi kenaikan suhu

Memangkas gas rumah kaca sebesar 18 persen pada tahun 2030, dan 45 persen pada tahun 2035, akan memberikan peluang yang baik untuk membatasi kenaikan suhu di angka 1,7 derajat C di atas masa sebelum era industri.

Langkah ini memang masih akan membuat peristiwa seperti gelombang panas ekstrem dalam beberapa bulan terakhir menjadi lebih sering terjadi, namun dapat mencegah kondisinya agar tidak bertambah jauh lebih parah.

Inger Andersen, selaku Direktur Eksekutif UNEP, mengatakan bahwa pemerintah berbagai negara telah diperingatkan selama bertahun-tahun bahwa waktu terus menipis.

"Dulu kita biasa bilang masih ada peluang jika kita melakukan upaya luar biasa [untuk tetap berada di batas 1,5 derajat C. Namun sekarang jelas bahwa upaya luar biasa itu tidak dilakukan. Kita menunda-nunda, dan sekarang kita harus bilang bahwa peluang itu sudah tertutup," katanya.

Kendati demikian, ia tetap mendesak berbagai negara untuk mempertahankan target 1,5 derajat C, yang menjadi inti dari Perjanjian Iklim Paris.

"Kita bisa membuat kelebihan batas tersebut sesingkat mungkin. Ini bukan waktunya untuk menyerah. Ini tentang bagaimana kita menemukan jalan kembali ke jalur yang benar, secepat dan sesingkat mungkin," papar Andersen.

Baca juga: Target Bebas Emisi Mundur ke 2090, Suhu Bumi Terancam Naik 2,3 Derajat C

Tanggung jawab dunia

Di bawah kepemimpinan Donald Trump, Amerika Serikat yang merupakan negara penyumbang emisi terbesar kedua di dunia setelah China telah keluar dari Perjanjian Iklim Paris dan mengancam akan membalikkan tren penurunan emisi gas rumah kaca yang selama ini sudah berjalan.

"Saat ini mereka melihat ada kebakaran, menyangkal keberadaannya, dan malah menyiramkan lebih banyak bensin ke api tersebut, sementara warga mereka sendiri semakin sering menghadapi panas terik, kebakaran hutan, dan dampak lainnya," ungkap Bill Hare, kepala eksekutif lembaga kajian Climate Analytics.

Negara-negara lain tampaknya juga ikut terpengaruh oleh sikap keras kepala AS, di mana janji-janji yang dibuat tahun lalu mengenai gas rumah kaca terlihat sangat lemah, menurut analisis UNEP.

Dalam KTT iklim COP30 di Brasil bulan November tahun lalu, berbagai negara seharusnya membuat komitmen baru di bawah Perjanjian Paris untuk memangkas emisi. Namun, komitmen yang dibuat ternyata jauh dari kata cukup kuat.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Ancaman Perubahan Iklim, 96 Persen Terumbu Karang Terancam Punah pada 2075
Ancaman Perubahan Iklim, 96 Persen Terumbu Karang Terancam Punah pada 2075
Pemerintah
PBB: Dunia Harus Pangkas Emisi 18 Persen dalam Empat Tahun untuk Selamatkan Bumi
PBB: Dunia Harus Pangkas Emisi 18 Persen dalam Empat Tahun untuk Selamatkan Bumi
Pemerintah
Permintaan Green Skills Global Naik Dua Kali Lipat dari Ketersediaan Tenaga Kerja
Permintaan Green Skills Global Naik Dua Kali Lipat dari Ketersediaan Tenaga Kerja
Pemerintah
Perubahan Iklim Perparah Pencemaran Limbah Tambang Beracun di Wilayah Pesisir
Perubahan Iklim Perparah Pencemaran Limbah Tambang Beracun di Wilayah Pesisir
Pemerintah
Dorong Lapangan Kerja dan Teknologi, Bank Dunia Resmikan Strategi Digital Global
Dorong Lapangan Kerja dan Teknologi, Bank Dunia Resmikan Strategi Digital Global
Pemerintah
Singapura Gelontorkan 75 Juta Dollar Singapura untuk Dekarbonisasi Listrik
Singapura Gelontorkan 75 Juta Dollar Singapura untuk Dekarbonisasi Listrik
Pemerintah
Karhutla Bakar 637.011 Hektar Lahan, Organisasi Lintas Iman Desak Siklus Tahunan Diputus
Karhutla Bakar 637.011 Hektar Lahan, Organisasi Lintas Iman Desak Siklus Tahunan Diputus
Pemerintah
ASRI Menyapa Surabaya, Dorong Siswa dan Guru Wujudkan Sekolah Berkelanjutan
ASRI Menyapa Surabaya, Dorong Siswa dan Guru Wujudkan Sekolah Berkelanjutan
Swasta
Lonjakan Belanja Militer Perparah Perubahan Iklim dan Keamanan Global
Lonjakan Belanja Militer Perparah Perubahan Iklim dan Keamanan Global
Pemerintah
Pengembangan PLTS Terapung Perlu Mitigasi agar Tak Ganggu Fungsi Badan Air
Pengembangan PLTS Terapung Perlu Mitigasi agar Tak Ganggu Fungsi Badan Air
Pemerintah
Rotan Kian Sulit Didapat, Perajin Anyaman Mahakam Ulu Terpaksa Beralih ke Plastik
Rotan Kian Sulit Didapat, Perajin Anyaman Mahakam Ulu Terpaksa Beralih ke Plastik
LSM/Figur
'Cage Free Eggs', Mengangkat Isu Kesejahteraan di Sebutir Telur
"Cage Free Eggs", Mengangkat Isu Kesejahteraan di Sebutir Telur
LSM/Figur
Pelajar Galang Dana lewat Golf untuk Wujudkan Harapan Anak dengan Penyakit Kritis
Pelajar Galang Dana lewat Golf untuk Wujudkan Harapan Anak dengan Penyakit Kritis
LSM/Figur
Dilema Pemanfaatan Dana Karbon di Pedalaman Kalimantan...
Dilema Pemanfaatan Dana Karbon di Pedalaman Kalimantan...
LSM/Figur
Bank Global Kucurkan Rp 10,69 Kuadriliun ke Perusahaan Terkait Deforestasi
Bank Global Kucurkan Rp 10,69 Kuadriliun ke Perusahaan Terkait Deforestasi
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau