KOMPAS.com - Dunia harus memangkas emisi karbon hampir seperlima dalam empat tahun ke depan, dan hampir separuhnya dalam satu dekade, untuk menghindari kegagalan mencapai target iklim dengan selisih yang membawa bencana.
Melansir Guardian, Rabu (21/10/2/2026) menurut Program Lingkungan PBB (UNEP), meskipun "peluang" untuk menjaga kenaikan suhu global di angka 1,5 derajat C sesuai dengan saran para ilmuwan sudah tertutup, membatasi "kelebihan batas" (overshoot) dari target tersebut masih mungkin dilakukan.
Namun, laporan mengenai kesenjangan emisi alias selisih antara target iklim dan kebijakan yang ada menemukan bahwa berbagai negara gagal mengubah target jangka panjang mereka dalam mengurangi emisi menjadi tindakan nyata jangka pendek.
Jumlah emisi karbon global tampaknya sempat tertahan di mana tingkat emisi pada tahun 2025 secara garis besar mirip dengan tahun sebelumnya.
Namun, para analis UNEP berhati-hati untuk menyebut kondisi ini sebagai puncak emisi atau titik stabil, mengingat masih besarnya ketidakpastian geopolitik serta meningkatnya ketergantungan pada bahan bakar fosil, meskipun pertumbuhan energi terbarukan juga sedang tinggi.
Baca juga: Studi: Janji Target Iklim Perusahaan Ternyata Minim Realisasi Anggaran Hijau
Memangkas gas rumah kaca sebesar 18 persen pada tahun 2030, dan 45 persen pada tahun 2035, akan memberikan peluang yang baik untuk membatasi kenaikan suhu di angka 1,7 derajat C di atas masa sebelum era industri.
Langkah ini memang masih akan membuat peristiwa seperti gelombang panas ekstrem dalam beberapa bulan terakhir menjadi lebih sering terjadi, namun dapat mencegah kondisinya agar tidak bertambah jauh lebih parah.
Inger Andersen, selaku Direktur Eksekutif UNEP, mengatakan bahwa pemerintah berbagai negara telah diperingatkan selama bertahun-tahun bahwa waktu terus menipis.
"Dulu kita biasa bilang masih ada peluang jika kita melakukan upaya luar biasa [untuk tetap berada di batas 1,5 derajat C. Namun sekarang jelas bahwa upaya luar biasa itu tidak dilakukan. Kita menunda-nunda, dan sekarang kita harus bilang bahwa peluang itu sudah tertutup," katanya.
Kendati demikian, ia tetap mendesak berbagai negara untuk mempertahankan target 1,5 derajat C, yang menjadi inti dari Perjanjian Iklim Paris.
"Kita bisa membuat kelebihan batas tersebut sesingkat mungkin. Ini bukan waktunya untuk menyerah. Ini tentang bagaimana kita menemukan jalan kembali ke jalur yang benar, secepat dan sesingkat mungkin," papar Andersen.
Baca juga: Target Bebas Emisi Mundur ke 2090, Suhu Bumi Terancam Naik 2,3 Derajat C
Di bawah kepemimpinan Donald Trump, Amerika Serikat yang merupakan negara penyumbang emisi terbesar kedua di dunia setelah China telah keluar dari Perjanjian Iklim Paris dan mengancam akan membalikkan tren penurunan emisi gas rumah kaca yang selama ini sudah berjalan.
"Saat ini mereka melihat ada kebakaran, menyangkal keberadaannya, dan malah menyiramkan lebih banyak bensin ke api tersebut, sementara warga mereka sendiri semakin sering menghadapi panas terik, kebakaran hutan, dan dampak lainnya," ungkap Bill Hare, kepala eksekutif lembaga kajian Climate Analytics.
Negara-negara lain tampaknya juga ikut terpengaruh oleh sikap keras kepala AS, di mana janji-janji yang dibuat tahun lalu mengenai gas rumah kaca terlihat sangat lemah, menurut analisis UNEP.
Dalam KTT iklim COP30 di Brasil bulan November tahun lalu, berbagai negara seharusnya membuat komitmen baru di bawah Perjanjian Paris untuk memangkas emisi. Namun, komitmen yang dibuat ternyata jauh dari kata cukup kuat.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya