KOMPAS.com-Permintaan terhadap logam telah melonjak drastis dalam beberapa dekade terakhir, berkat pertumbuhan populasi, inovasi teknologi, and pembangunan ekonomi.
Volume bijih logam seperti besi dan tembaga yang dieksploitasi di seluruh dunia meningkat empat kali lipat selama setengah abad terakhir, dan industri bernilai triliunan dolar ini belum menunjukkan tanda-tanda melambat.
Namun, melansir Eco Business, Selasa (20/10/2026) peningkatan permintaan ini diiringi oleh risiko lingkungan. Baik tambang logam maupun fasilitas penyimpanan yang menampung limbah tambang beracun dalam jumlah besar (tailings) dapat melepaskan polusi ke lingkungan sekitar, mencemari tanah dan air dengan logam berat serta bahan kimia berbahaya.
Polusi ini pada akhirnya dapat mengalir ke hilir, berdampak pada masyarakat pesisir dan ekosistem laut.
Sebuah analisis yang baru-baru ini diterbitkan dalam jurnal Earth-Science Reviews memperingatkan bahwa perubahan iklim dapat memperparah risiko pencemaran dari penambangan logam terhadap lingkungan laut.
Para peneliti meneliti berbagai wilayah tempat risiko gabungan, dari suhu yang semakin panas, kenaikan permukaan air laut, dan perubahan pola cuaca dapat melepaskan lebih banyak limbah beracun ke alam dalam abad mendatang, sekaligus menekankan perlunya pemulihan dan pemantauan.
Baca juga: Potensi Karbon Biru Indonesia Besar, Tata Kelola Pesisir Masih Terfragmentasi
Mereka mengidentifikasi enam wilayah di mana bahaya yang saling tumpang tindih ini menimbulkan risiko tertinggi yakni Amerika Utara, Amerika Selatan, Eropa Utara, wilayah Mediterania, Asia Timur, dan Australia.
"Kami memetakan enam titik rawan, tetapi wilayah tersebut mencakup sebagian besar dunia," ujar penulis utama studi Adam Sproson, seorang ilmuwan peneliti di National Oceanography Centre di Inggris.
Sebuah studi pada tahun 2023 menemukan bahwa sekitar 23 juta orang di seluruh dunia tinggal di sepanjang sungai dan dataran banjir dengan konsentrasi pencemaran limbah tambang logam yang berpotensi berbahaya.
Namun, skala global dari masalah ini di lingkungan laut sebelumnya masih belum diketahui.
"Ini bukan sekadar masalah polusi lingkungan. Ini juga masalah kesehatan. Ini adalah masalah kualitas makanan" ujar Tristan McKenzie, seorang profesor hidrologi dan kimia pesisir di University College London di Inggris yang tidak terlibat dalam studi.
Polusi tambang mencemari lingkungan
Untuk menyelidiki bagaimana tambang dapat berdampak pada wilayah pesisir, para peneliti menyusun basis data global pertama yang mencakup 4.094 tambang aktif, 28.563 tambang tidak aktif, serta 1.427 fasilitas penyimpanan limbah tambang yang berpotensi mencemari lingkungan laut.
Mereka menemukan bahwa hampir 293.000 kilometer garis pantai berada dalam risiko tercemar oleh penambangan logam.
"Analisis data ini merupakan pencapaian yang luar biasa mengingat betapa sulitnya mengakses dan menganalisis informasi tersebut untuk berbagai jenis logam di berbagai basis data internasional. Hal ini memberi kita gambaran tentang di mana seharusnya kita menginvestasikan strategi pemantauan dan mitigasi," ujar McKenzie.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya