Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Perubahan Iklim Perparah Pencemaran Limbah Tambang Beracun di Wilayah Pesisir

Kompas.com, 26 Oktober 2026, 15:01 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com-Permintaan terhadap logam telah melonjak drastis dalam beberapa dekade terakhir, berkat pertumbuhan populasi, inovasi teknologi, and pembangunan ekonomi.

Volume bijih logam seperti besi dan tembaga yang dieksploitasi di seluruh dunia meningkat empat kali lipat selama setengah abad terakhir, dan industri bernilai triliunan dolar ini belum menunjukkan tanda-tanda melambat.

Namun, melansir Eco Business, Selasa (20/10/2026) peningkatan permintaan ini diiringi oleh risiko lingkungan. Baik tambang logam maupun fasilitas penyimpanan yang menampung limbah tambang beracun dalam jumlah besar (tailings) dapat melepaskan polusi ke lingkungan sekitar, mencemari tanah dan air dengan logam berat serta bahan kimia berbahaya.

Polusi ini pada akhirnya dapat mengalir ke hilir, berdampak pada masyarakat pesisir dan ekosistem laut.

Sebuah analisis yang baru-baru ini diterbitkan dalam jurnal Earth-Science Reviews memperingatkan bahwa perubahan iklim dapat memperparah risiko pencemaran dari penambangan logam terhadap lingkungan laut.

Para peneliti meneliti berbagai wilayah tempat risiko gabungan, dari suhu yang semakin panas, kenaikan permukaan air laut, dan perubahan pola cuaca dapat melepaskan lebih banyak limbah beracun ke alam dalam abad mendatang, sekaligus menekankan perlunya pemulihan dan pemantauan.

Baca juga: Potensi Karbon Biru Indonesia Besar, Tata Kelola Pesisir Masih Terfragmentasi

Mereka mengidentifikasi enam wilayah di mana bahaya yang saling tumpang tindih ini menimbulkan risiko tertinggi yakni Amerika Utara, Amerika Selatan, Eropa Utara, wilayah Mediterania, Asia Timur, dan Australia.

"Kami memetakan enam titik rawan, tetapi wilayah tersebut mencakup sebagian besar dunia," ujar penulis utama studi Adam Sproson, seorang ilmuwan peneliti di National Oceanography Centre di Inggris.

Sebuah studi pada tahun 2023 menemukan bahwa sekitar 23 juta orang di seluruh dunia tinggal di sepanjang sungai dan dataran banjir dengan konsentrasi pencemaran limbah tambang logam yang berpotensi berbahaya.

Namun, skala global dari masalah ini di lingkungan laut sebelumnya masih belum diketahui.

"Ini bukan sekadar masalah polusi lingkungan. Ini juga masalah kesehatan. Ini adalah masalah kualitas makanan" ujar Tristan McKenzie, seorang profesor hidrologi dan kimia pesisir di University College London di Inggris yang tidak terlibat dalam studi.

Polusi tambang mencemari lingkungan

Untuk menyelidiki bagaimana tambang dapat berdampak pada wilayah pesisir, para peneliti menyusun basis data global pertama yang mencakup 4.094 tambang aktif, 28.563 tambang tidak aktif, serta 1.427 fasilitas penyimpanan limbah tambang yang berpotensi mencemari lingkungan laut.

Mereka menemukan bahwa hampir 293.000 kilometer garis pantai berada dalam risiko tercemar oleh penambangan logam.

"Analisis data ini merupakan pencapaian yang luar biasa mengingat betapa sulitnya mengakses dan menganalisis informasi tersebut untuk berbagai jenis logam di berbagai basis data internasional. Hal ini memberi kita gambaran tentang di mana seharusnya kita menginvestasikan strategi pemantauan dan mitigasi," ujar McKenzie.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
PBB: Dunia Harus Pangkas Emisi 18 Persen dalam Empat Tahun untuk Selamatkan Bumi
PBB: Dunia Harus Pangkas Emisi 18 Persen dalam Empat Tahun untuk Selamatkan Bumi
Pemerintah
Permintaan Green Skills Global Naik Dua Kali Lipat dari Ketersediaan Tenaga Kerja
Permintaan Green Skills Global Naik Dua Kali Lipat dari Ketersediaan Tenaga Kerja
Pemerintah
Perubahan Iklim Perparah Pencemaran Limbah Tambang Beracun di Wilayah Pesisir
Perubahan Iklim Perparah Pencemaran Limbah Tambang Beracun di Wilayah Pesisir
Pemerintah
Dorong Lapangan Kerja dan Teknologi, Bank Dunia Resmikan Strategi Digital Global
Dorong Lapangan Kerja dan Teknologi, Bank Dunia Resmikan Strategi Digital Global
Pemerintah
Singapura Gelontorkan 75 Juta Dollar Singapura untuk Dekarbonisasi Listrik
Singapura Gelontorkan 75 Juta Dollar Singapura untuk Dekarbonisasi Listrik
Pemerintah
Karhutla Bakar 637.011 Hektar Lahan, Organisasi Lintas Iman Desak Siklus Tahunan Diputus
Karhutla Bakar 637.011 Hektar Lahan, Organisasi Lintas Iman Desak Siklus Tahunan Diputus
Pemerintah
ASRI Menyapa Surabaya, Dorong Siswa dan Guru Wujudkan Sekolah Berkelanjutan
ASRI Menyapa Surabaya, Dorong Siswa dan Guru Wujudkan Sekolah Berkelanjutan
Swasta
Lonjakan Belanja Militer Perparah Perubahan Iklim dan Keamanan Global
Lonjakan Belanja Militer Perparah Perubahan Iklim dan Keamanan Global
Pemerintah
Pengembangan PLTS Terapung Perlu Mitigasi agar Tak Ganggu Fungsi Badan Air
Pengembangan PLTS Terapung Perlu Mitigasi agar Tak Ganggu Fungsi Badan Air
Pemerintah
Rotan Kian Sulit Didapat, Perajin Anyaman Mahakam Ulu Terpaksa Beralih ke Plastik
Rotan Kian Sulit Didapat, Perajin Anyaman Mahakam Ulu Terpaksa Beralih ke Plastik
LSM/Figur
'Cage Free Eggs', Mengangkat Isu Kesejahteraan di Sebutir Telur
"Cage Free Eggs", Mengangkat Isu Kesejahteraan di Sebutir Telur
LSM/Figur
Pelajar Galang Dana lewat Golf untuk Wujudkan Harapan Anak dengan Penyakit Kritis
Pelajar Galang Dana lewat Golf untuk Wujudkan Harapan Anak dengan Penyakit Kritis
LSM/Figur
Dilema Pemanfaatan Dana Karbon di Pedalaman Kalimantan...
Dilema Pemanfaatan Dana Karbon di Pedalaman Kalimantan...
LSM/Figur
Bank Global Kucurkan Rp 10,69 Kuadriliun ke Perusahaan Terkait Deforestasi
Bank Global Kucurkan Rp 10,69 Kuadriliun ke Perusahaan Terkait Deforestasi
Pemerintah
Menjaga Mangrove Tetap Hidup, Bukan Sekadar Menanam
Menjaga Mangrove Tetap Hidup, Bukan Sekadar Menanam
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau