KOMPAS.com – Investasi tidak hanya berperan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi, tetapi juga membuka peluang kerja dan memperluas kesempatan usaha bagi masyarakat. Oleh karena itu, peningkatan realisasi investasi perlu diikuti dengan upaya memastikan manfaat pembangunan dapat dirasakan secara lebih luas.
Prinsip tersebut menjadi perhatian Gubernur Sulawesi Tengah (Sulteng) Anwar Hafid, menyusul capaian provinsi itu yang menempati peringkat ketiga nasional dalam realisasi investasi periode Januari–September 2026.
Berdasarkan data Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), realisasi investasi di Sulteng mencapai Rp 116 triliun. Capaian ini memperkuat posisi Sulteng sebagai salah satu tujuan investasi strategis di Indonesia, terutama berkat potensi sumber daya alam dan perkembangan industri pengolahan.
Baca juga: AI dan Transisi Energi Buka Peluang Investasi, Indonesia Perlu Siapkan Talenta
Anwar menegaskan, pemerintah daerah terbuka terhadap berbagai peluang investasi yang dapat memberikan dampak positif bagi perekonomian dan kesejahteraan masyarakat.
“Sulawesi Tengah sangat terbuka bagi siapa pun. Dalam segala bentuk dan peluang investasi, kami selalu menyambut baik sepanjang itu memberi dampak positif bagi daerah, terutama bagi rakyat Sulawesi Tengah,” kata Anwar dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Senin (26/10/2026).
Menurut dia, keberhasilan investasi tidak cukup diukur dari besarnya modal yang ditanamkan. Investasi juga perlu memberikan manfaat nyata melalui penciptaan lapangan kerja, peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM), dan penguatan usaha masyarakat.
Anwar menjelaskan bahwa potensi sumber daya alam Sulteng membuka peluang bagi pengembangan industri pengolahan dan hilirisasi. Melalui proses tersebut, komoditas daerah dapat memperoleh nilai tambah sebelum dipasarkan, sekaligus mendorong aktivitas ekonomi di berbagai sektor pendukung.
Meski demikian, pertumbuhan industri perlu diiringi dengan upaya memperluas keterlibatan masyarakat dalam kegiatan ekonomi. Salah satunya melalui penyerapan tenaga kerja lokal dan peningkatan keterampilan agar masyarakat memiliki kesempatan untuk berpartisipasi dalam perkembangan industri.
Baca juga: Investasi Hijau Tumbuh, EBUS Berkelanjutan Capai Rp 85,15 Triliun
Penguatan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) juga menjadi aspek penting. Kehadiran industri dapat membuka peluang bagi pelaku usaha lokal untuk terlibat dalam rantai pasok, penyediaan barang, maupun jasa pendukung operasional.
Dengan demikian, manfaat investasi berpeluang menjangkau lebih banyak kelompok masyarakat, tidak hanya melalui aktivitas industri secara langsung, tetapi juga melalui tumbuhnya kegiatan ekonomi di sekitarnya.
Anwar berpandangan, investasi perlu menjadi bagian dari upaya membangun perekonomian daerah yang memberikan manfaat jangka panjang.
“Kami percaya, investasi bukan hanya tentang penanaman modal, tetapi juga membangun kepercayaan, berbagi teknologi, menciptakan lapangan kerja, dan mewujudkan kesejahteraan bersama,” ujarnya.
Selain memperluas kesempatan ekonomi, perkembangan investasi dan industri juga perlu memperhatikan keberlanjutan lingkungan.
Baca juga: Kekeringan Ancam Sektor Ekonomi, Pemerintah Harus Rancang Strategi Baru
Pengelolaan sumber daya alam yang bertanggung jawab menjadi salah satu aspek penting agar kegiatan ekonomi dapat terus memberikan manfaat tanpa mengabaikan kondisi lingkungan.
Pendekatan tersebut sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan kedelapan mengenai pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi. Tujuan ini menekankan pentingnya pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan, produktivitas, serta kesempatan kerja yang layak.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya