Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

RTH Jadi Penopang "Green Campus" dari Menurunkan Suhu hingga Mencegah Banjir

Kompas.com, 29 Oktober 2026, 20:18 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com – Ruang terbuka hijau (RTH) memiliki peran penting dalam mewujudkan kampus yang sehat dan berkelanjutan.

Selain membuat lingkungan lebih sejuk, RTH dapat membantu menyerap polusi udara, mengurangi risiko genangan, menjaga ketersediaan air, serta melestarikan keanekaragaman hayati.

Dosen Departemen Arsitektur Lanskap IPB University, Prita Ayu Permatasari, mengatakan, manfaat ekologis RTH dapat dirasakan langsung oleh sivitas akademika melalui peningkatan kualitas lingkungan kampus.

Baca juga: Jakarta Butuh “Wali Kota Gila Taman”, RTH Baru 5 Persen

“Ruang terbuka hijau memiliki nilai penting untuk mendukung konsep green campus melalui jasa ekosistem yang dihasilkan, seperti menurunkan suhu udara, menyerap polusi, mengurangi aliran permukaan, meningkatkan konservasi air, serta mendukung konservasi biodiversitas,” ujar Prita, dilansir dari laman resmi IPB University, Rabu (28/10/2026).

Menurut Prita, pepohonan membantu mengurangi paparan radiasi matahari melalui tajuknya. Sementara itu, proses evapotranspirasi atau pelepasan air dari tanah dan tumbuhan ke atmosfer turut membantu menurunkan suhu di sekitar vegetasi.

Lingkungan yang lebih sejuk dapat meningkatkan kenyamanan aktivitas di kampus dan berpotensi mengurangi kebutuhan penggunaan pendingin ruangan.

Vegetasi juga berperan dalam menjaga kualitas udara. Tanaman menyerap karbon melalui fotosintesis, sedangkan bagian tumbuhan tertentu dapat menangkap partikel debu dan membantu mengurangi konsentrasi polutan, termasuk nitrogen dioksida.

Penataan lanskap perlu terencana

Untuk memaksimalkan manfaat RTH, Prita menekankan pentingnya perencanaan lanskap yang tidak hanya berorientasi pada luas kawasan hijau, tetapi juga keterhubungan antarruang terbuka.

Konektivitas tersebut dapat dibangun melalui koridor vegetasi di sepanjang jalan dan kawasan kampus. Dengan begitu, kawasan hijau tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian dari sistem lanskap yang saling terhubung.

Pemilihan tanaman juga perlu mempertimbangkan fungsi ekologisnya. Pohon bertajuk lebar, misalnya, dapat memberikan keteduhan, sedangkan susunan vegetasi yang tepat dapat membantu mengurangi paparan polutan.

Prita juga mendorong penggunaan tanaman lokal untuk mendukung adaptasi tumbuhan terhadap kondisi lingkungan setempat sekaligus menjaga kelestarian spesies asli.

Selain ruang terbuka hijau, integrasi dengan ruang terbuka biru, seperti sungai dan danau, juga dinilai penting. Keterhubungan kedua kawasan tersebut dapat membantu menjaga habitat, mendukung konservasi air, dan mengurangi risiko banjir.

Penataan lanskap, lanjut Prita, perlu mendukung mobilitas ramah lingkungan melalui jalur pejalan kaki dan pesepeda yang teduh. Jenis tanaman di sepanjang jalur harus dipilih dengan mempertimbangkan keamanan pengguna serta potensi kerusakan infrastruktur akibat pertumbuhan akar.

Baca juga: Pemkot Magelang Bangun RTH Sidotopo Rp 5,3 Miliar, Upaya Pecah Keramaian di Alun-alun

“Penataan vegetasi yang tepat dapat membantu menurunkan suhu udara, mengurangi polusi, mencegah genangan, hingga menciptakan lingkungan yang nyaman bagi pejalan kaki,” tutur Prita.

Ia menegaskan, keberhasilan konsep *green campus* tidak cukup diukur berdasarkan jumlah tanaman atau luas kawasan hijau. Fungsi ekologis lanskap juga perlu menjadi indikator dalam pengelolaan lingkungan kampus.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
EIGER Nature Diresmikan, Menpar Apresiasi Ekowisata Berkelanjutan
EIGER Nature Diresmikan, Menpar Apresiasi Ekowisata Berkelanjutan
BrandzView
Bingung TPS Ditutup, Kampung di Bogor Kelola Sampah Organik Jadi Alas Kandang Ayam dan Kompos
Bingung TPS Ditutup, Kampung di Bogor Kelola Sampah Organik Jadi Alas Kandang Ayam dan Kompos
LSM/Figur
361 Kilogram Sampah Diangkat dari Bantaran Ciliwung, Pencemaran Domestik Jadi Sorotan
361 Kilogram Sampah Diangkat dari Bantaran Ciliwung, Pencemaran Domestik Jadi Sorotan
Swasta
Harga Karbon Indonesia Terlalu Murah, Industri Menanti Kepastian Perdagangan Emisi
Harga Karbon Indonesia Terlalu Murah, Industri Menanti Kepastian Perdagangan Emisi
LSM/Figur
Mengurai Krisis Biarpet dan Ambisi Ketahanan Energi
Mengurai Krisis Biarpet dan Ambisi Ketahanan Energi
Pemerintah
Zonasi Sampah di Bantargebang Tak Jelas, Pengelolaan Emisi Metana Terkendala
Zonasi Sampah di Bantargebang Tak Jelas, Pengelolaan Emisi Metana Terkendala
LSM/Figur
RTH Jadi Penopang 'Green Campus' dari Menurunkan Suhu hingga Mencegah Banjir
RTH Jadi Penopang "Green Campus" dari Menurunkan Suhu hingga Mencegah Banjir
LSM/Figur
Astra Luncurkan Program Kontribusi Sosial 70 Tahun, Sasar 700 Desa di 7 Pulau Besar Indonesia
Astra Luncurkan Program Kontribusi Sosial 70 Tahun, Sasar 700 Desa di 7 Pulau Besar Indonesia
Desa Sejahtera Astra
Orang Super Kaya Dapat Keuntungan Ganda dari Krisis Iklim
Orang Super Kaya Dapat Keuntungan Ganda dari Krisis Iklim
Pemerintah
WALHI: Karhutla Tak Lepas dari Sistem Ekonomi Ekstraktif
WALHI: Karhutla Tak Lepas dari Sistem Ekonomi Ekstraktif
LSM/Figur
Saat AI Mendorong Kebutuhan Listrik, Mitsubishi Power Bersiap Menjawab Tantangan Baru
Saat AI Mendorong Kebutuhan Listrik, Mitsubishi Power Bersiap Menjawab Tantangan Baru
BrandzView
Perkuat Ekosistem Digital, 'Health Innovation Showcase 2026' Pertemukan Inovator dan Investor
Perkuat Ekosistem Digital, "Health Innovation Showcase 2026" Pertemukan Inovator dan Investor
LSM/Figur
UN ESCAP Dorong Model Kerja Sama Baru Perkuat Transisi Energi di ASEAN
UN ESCAP Dorong Model Kerja Sama Baru Perkuat Transisi Energi di ASEAN
Pemerintah
Hidup di Tepi Danau Toba, Mengapa Petani Samosir Masih Kesulitan Mendapat Air?
Hidup di Tepi Danau Toba, Mengapa Petani Samosir Masih Kesulitan Mendapat Air?
Pemerintah
Aktivitas Pertambangan Ancam Target Konservasi Global 30x30
Aktivitas Pertambangan Ancam Target Konservasi Global 30x30
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau