Penulis
"Bagi kami, mendukung kemitraan ini berarti membantu menguji dan membuktikan pendekatan baru, sehingga pemerintah dan mitra lokal memiliki keyakinan untuk melanjutkan penerapannya," ungkap Sakshi Gudwani.
Dia menambahkan, "Filantropi dapat mengambil risiko pada tahap awal, tetapi dampak jangka panjang hanya dapat terwujud ketika solusi dipimpin dan dikelola oleh pihak lokal, mulai dari pemerintah kota, penyedia layanan, sekolah, hingga masyarakat."
Senada dengan hal tersebut, Direktur Eksekutif Pijar Foundation, Cazadira Fediva Tamzil, menekankan faktor sosial memegang peranan setara dengan teknologi dalam keberhasilan jangka panjang sebuah program infrastruktur.
"Teknologi saja tidak cukup. Keberhasilan program ini membutuhkan keterlibatan masyarakat dan kolaborasi lintas sektor agar manfaatnya dapat terus dirasakan. Kami mengajak kolaborasi ini dapat terus terjaga kedepannya," ujar Cazadira.
Sementara itu, Co-Director Global Water & Sanitation Center dari Asian Institute of Technology (AIT) Thailand, Prof. Thammarat Koottatep menyoroti pergeseran paradigma cara pandang terhadap air limbah.
Menurutnya, air limbah tidak lagi layak dipandang semata-mata sebagai masalah lingkungan, melainkan dapat diubah menjadi sumber daya alternatif yang bernilai ekonomis dan ekologis.
Sebagai bagian dari keberlanjutan jangka panjang, rangkaian program ini juga menyasar sektor pendidikan melalui kegiatan Townhall Muda for Smart Sanitation di SMPN 4 Surakarta.
Mengusung tema "Dari Sekolah Adiwiyata untuk Solo Berkelanjutan," program ini mengintegrasikan instalasi pengolahan air limbah sebagai media pembelajaran langsung bagi para siswa.
Kementerian Kesehatan RI yang turut mengapresiasi langkah ini menilai bahwa transisi dari sanitasi layak menuju sanitasi aman adalah bentuk investasi kesehatan preventif yang krusial.
"Sanitasi aman merupakan fondasi penting bagi pencegahan penyakit berbasis lingkungan, perlindungan kualitas air, dan peningkatan kesehatan masyarakat. Kita harus bergerak dari sanitasi layak menuju sanitasi aman," ujar Direktur Kesehatan Lingkungan Kemenkes, dr. Then Suyanti.
"Karena sanitasi aman adalah investasi kesehatan untuk menciptakan lingkungan yang sehat bagi generasi mendatang," tegasnya.
Melalui pengenalan teknologi pengolahan air sejak dini, para siswa diajak memahami bahwa masa depan pengelolaan sumber daya air bergantung pada kesadaran kolektif generasi muda.
Pengalaman sukses penerapan Smart Sanitation di Surakarta ini diharapkan dapat menjadi model percontohan dan direplikasi oleh kota-kota lain di Indonesia dalam merintis ketahanan air dan sanitasi perkotaan yang berkelanjutan.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya