KOMPAS.com – Pagi di pesisir Desa Muara Pantuan, Kecamatan Anggana, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, selalu dimulai dengan suara perahu kecil yang hilir mudik membelah sungai. Di desa yang sebagian besar warganya hidup dari laut dan tambak itu, hutan mangrove tumbuh rapat di sepanjang tepian air.
Bagi masyarakat pesisir, mangrove bukan sekadar pepohonan yang berdiri di lumpur. Akar-akar bakau menjadi benteng alami dari abrasi, tempat ikan berkembang biak, serta penopang kehidupan ekonomi warga desa.
Namun, selama bertahun-tahun, keberadaan mangrove sering dipandang sebatas latar alam yang keberadaannya dianggap biasa. Tidak sedikit kawasan mangrove rusak akibat pembukaan tambak atau pengambilan bibit secara berlebihan.
Di sisi lain, perempuan pesisir juga kerap terpinggirkan. Peran mereka dalam pengambilan keputusan desa amat kecil.
Baca juga: Beratnya Penanaman Bibit Mangrove di Pesisir Jakarta akibat Sampah Plastik
Sebagian besar perempuan lebih banyak berkutat pada pekerjaan domestik, membantu membersihkan hasil tangkapan, menyiapkan kebutuhan rumah tangga, atau sesekali ikut mengurus tambak keluarga. Aktivitas mereka penting bagi keberlangsungan ekonomi keluarga, tetapi jarang dianggap sebagai bagian dari penggerak utama desa.
Akibatnya, perempuan pesisir kerap berada di belakang layar. Kesempatan mereka untuk terlibat dalam diskusi, menyampaikan pendapat, atau ikut menentukan arah kebijakan desa masih sangat kecil.
Baca juga: Menyusuri Lorong Mangrove Alami, Melihat Banyuwangi dari Sisi Berbeda
Situasi itu perlahan berubah ketika program Nature-Based Solutions for Climate-Smart Livelihoods in Mangrove Landscapes (NASCLIM) yang dijalankan Global Green Growth Institute (GGGI) dan Wetlands International (WI) masuk ke sejumlah wilayah di Delta Mahakam, Kalimantan Timur, dan Delta Kayan-Sembakung, Kalimantan Utara.
Program tersebut tidak hanya bicara soal rehabilitasi mangrove, tetapi juga menghubungkan kelestarian lingkungan dengan penghidupan masyarakat desa.
Baca juga: Perkuat Ketahanan Masyarakat Pesisir, Wahana Visi Indonesia Rehabilitasi Mangrove
Di Desa Muara Pantuan, perubahan itu dirasakan Nur Rahimah (34). Perempuan yang akrab disapa Rima tersebut sebelumnya menjalani keseharian sebagai ibu rumah tangga sambil membantu suami bekerja di tambak.
“Sebelumnya saya cuma bantu suami di tambak. Kalau soal kegiatan desa atau bicara soal lingkungan, hampir enggak pernah,” kata Rima kepada Kompas.com lewat sambungan telepon, Senin (11/5/2026).
Rima tinggal di RT 008 Desa Muara Pantuan bersama suami dan tiga anaknya. Sebelum mengenal Sekolah Lapang Perempuan atau Women Field School (WFS), keterlibatannya dalam isu desa sangat terbatas. Ia juga mengaku belum memahami keterkaitan antara peran perempuan, lingkungan pesisir, dan keberlanjutan ekonomi keluarga.
Perubahan mulai datang ketika ia mengikuti Sekolah Lapang Perempuan yang menjadi bagian dari program NASCLIM. Dalam kegiatan tersebut, perempuan desa diajak belajar mengenai kepemimpinan, gender, lingkungan, hingga pengelolaan mangrove.
Awalnya, Rima hanya ingin menambah pengalaman dan memperluas wawasan. Namun, ruang belajar itu justru membuatnya perlahan menemukan keberanian untuk berbicara di depan banyak orang.
Di kelompoknya, Rima bahkan dipercaya menjadi ketua. Ia juga aktif membantu peserta lain memahami materi, termasuk gender, dengan bahasa yang lebih sederhana dan dekat dengan keseharian warga desa.
Maka tak heran, di antara sesama peserta, ia kemudian dikenal sebagai “duta gender”. Sebutan itu muncul karena kemampuannya menjelaskan konsep gender yang sebelumnya dianggap rumit menjadi lebih mudah dipahami.
“Bukan untuk melawan laki-laki, melainkan lebih ke bagaimana peran di rumah dan di masyarakat bisa saling berbagi,” ujar Rima.
Dari proses belajar tersebut, Rima mulai memahami bahwa banyak pembagian peran di rumah maupun masyarakat sebenarnya bisa dibicarakan dan dijalankan bersama antara laki-laki dan perempuan.
Rima mengatakan, perubahan terbesar yang ia rasakan bukan hanya pengetahuannya yang kian bertambah, melainkan juga rasa percaya dirinya yang semakin tumbuh.
Kini, ia mulai aktif menyampaikan pendapat dalam forum warga dan beberapa kali dipercaya menjadi panitia kegiatan desa. Bersama peserta lain, ia juga ikut menggagas pengelolaan bank sampah di Muara Pantuan sebagai bagian dari upaya menjaga lingkungan desa.
Tak sekadar soal peran perempuan, Sekolah Lapang Perempuan juga membuka pemahamannya mengenai peran penting ekosistem mangrove.
Ia kini paham bahwa mangrove menjadi ruang hidup bagi ikan, udang, dan kepiting. Kerusakan mangrove berarti ancaman langsung terhadap penghasilan warga.
“Kalau mangrove rusak, ikan juga berkurang karena tempat berkembang biaknya hilang,” kata Rima.
Rima tak memungkiri bahwa tantangan yang dihadapi perempuan pesisir masih besar. Banyak perempuan sebenarnya ingin terlibat dalam kegiatan sosial ataupun lingkungan, tetapi terkendala rasa tidak percaya diri atau budaya yang masih menempatkan perempuan hanya di ranah domestik.
Rima sendiri mengaku masih harus membagi waktu antara mengurus anak-anak dan mengikuti kegiatan pemberdayaan. Ia mulai membangun komunikasi dengan suami soal pembagian peran di rumah agar tetap memiliki ruang untuk berkembang.
“Harapannya ibu-ibu bisa lebih percaya diri, bisa mengutarakan pendapat, dan ikut andil dalam kesejahteraan desa,” katanya.
Tidak hanya di Muara Pantuan, perubahan cara pandang terhadap mangrove juga dirasakan warga Desa Liagu, Kalimantan Utara.
Di desa itu, Jony Lee menjadi salah satu sosok yang aktif mendorong pengelolaan tambak yang lebih ramah lingkungan.
Pria kelahiran 1967 tersebut dikenal sebagai nelayan budi daya serta pengepul hasil perikanan di Desa Liagu. Selama bertahun-tahun, ia menyaksikan sendiri kerusakan mangrove berdampak terhadap penurunan hasil tambak warga.
“Dulu hasil tambak masih bagus. Namun, setelah banyak mangrove rusak dan kualitas air turun, hasil panen ikut turun,” ujarnya kepada Kompas.com.
Petambak di Desa Liagu, Jony Lee. Kondisi itu membuat banyak warga mulai menyadari bahwa produktivitas tambak tidak bisa dipisahkan dari kesehatan ekosistem pesisir.
Melalui pendampingan NASCLIM, masyarakat diperkenalkan pada konsep tambak terhubung mangrove atau Associated Mangrove Aquaculture (AMA), yakni pengelolaan tambak yang tetap mempertahankan kawasan mangrove di sekitar aliran sungai dan pembatas tambak.
Dalam sistem tersebut, mangrove tidak dipandang sebagai penghalang usaha tambak, tetapi bagian penting dari ekosistem produksi. Mangrove dapat meredam gelombang, melindungi, dan memperkuat tambak. Sedangkan akarnya dapat menyerap logam berat dan meningkatkan kualitas air tambak.
“Kalau ada mangrove, hasilnya lebih bagus daripada tambak yang bersih total dari mangrove,” ungkap Jony.
Selain mempertahankan mangrove, petambak di Liagu juga mulai menggunakan mikroorganisme lokal (MOL) sebagai alternatif pupuk industri.
Perubahan itu terasa langsung oleh Jony. Jika sebelumnya ia harus mengeluarkan biaya hingga Rp 5 juta untuk pupuk, kini ia hanya membutuhkan sekitar Rp 200.000 untuk membuat MOL sendiri di sekitar tambak.
Hasil panennya pun meningkat. Sebelum menggunakan MOL, panen tambaknya rata-rata sekitar 150 kg. Setelah menggunakan pendekatan yang lebih ramah lingkungan, hasil panen meningkat menjadi lebih dari 200 kg dengan ukuran ikan dan kepiting yang lebih besar.
Bagi Jony, menjaga mangrove sebenarnya sama dengan menjaga keberlangsungan usaha tambak itu sendiri.
Di tambak pribadinya di Sungai Jali, ia bahkan menanam sendiri Rhizophora mucronata di sepanjang tanggul tambak. Akar mangrove itu membantu menjaga tanggul tetap kuat serta menjadi filter alami bagi kualitas air.
“Mangrove ini benteng saya,” ujar Jony.
Komitmennya terhadap rehabilitasi mangrove juga terlihat ketika ia menghibahkan 15 hektare lahan tambak rusak untuk dijadikan lokasi rehabilitasi berbasis ekologis atau Ecological Mangrove Rehabilitation (EMR).
Tambak yang sebelumnya dianggap “tanah mati” perlahan kembali hidup setelah aliran air diperbaiki dan proses alami mangrove dipulihkan.
Menurut Jony, pelajaran terpenting yang ia dapat dari proses rehabilitasi itu adalah memahami cara kerja alam.
“Kalau jalannya air diperbaiki, mangrove nanti tumbuh sendiri,” katanya.
Kini, kawasan rehabilitasi tersebut menjadi tempat belajar bagi berbagai kelompok masyarakat ataupun lembaga yang ingin melihat langsung praktik rehabilitasi mangrove dan tambak berkelanjutan.
Sebagai informasi, Program NASCLIM sendiri dijalankan di enam desa di Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara yang dihuni lebih dari 19.000 penduduk.
Di wilayah pesisir Kalimantan, tekanan terhadap ekosistem mangrove hingga kini masih terjadi. Pembukaan lahan tambak, penebangan mangrove, hingga pengambilan bibit secara berlebihan masih ditemukan di sejumlah kawasan pesisir. Padahal, mangrove memiliki peran penting dalam menjaga abrasi, kualitas air, sekaligus menjadi habitat alami ikan dan udang yang menopang ekonomi masyarakat pesisir.
Pemerintah sebenarnya telah memiliki berbagai kebijakan perlindungan mangrove, baik di tingkat nasional maupun daerah. Namun, penguatan implementasi di lapangan masih menjadi tantangan agar kebutuhan ekonomi masyarakat dapat berjalan seimbang dengan upaya menjaga ekosistem pesisir.
Mangrove dan masyarakat di Desa Muara Pantuan, Kalimantan Timur hidup saling berdampingan. Melalui program tersebut, GGGI dan WI menargetkan perlindungan dan rehabilitasi ekosistem mangrove melalui pendekatan berbasis masyarakat dan perbaikan praktik pengelolaan mangrove melalui perencanaan tingkat tapak. Berbeda dari banyak program konservasi yang hanya berfokus pada larangan, NASCLIM mencoba menunjukkan bahwa mangrove memiliki nilai ekonomi nyata ketika dikelola secara berkelanjutan.
Melalui pendekatan AMA, rehabilitasi mangrove, budi daya terpadu, serta penguatan usaha masyarakat, mangrove diposisikan sebagai infrastruktur alami yang menopang kehidupan ekonomi desa.
Di pesisir Kalimantan, pelajaran itu kini semakin terasa nyata. Mangrove tidak lagi hanya dipandang sebagai hutan di tepi laut, tetapi bagian dari masa depan masyarakat pesisir.
Mangrove menjaga tambak tetap hidup, melindungi desa dari abrasi, serta membuka ruang baru bagi perempuan untuk terlibat dan tumbuh bersama komunitasnya.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya