KOMPAS.com – Anemia masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat di Indonesia. Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mencatat 27,7 persen ibu hamil dan 16,3 persen anak usia 5–14 tahun mengalami anemia. Kondisi ini tidak hanya memengaruhi kesehatan individu, tetapi juga berpotensi berdampak pada kualitas sumber daya manusia apabila tidak ditangani sejak dini.
Berbagai studi menunjukkan bahwa kekurangan zat besi merupakan salah satu penyebab utama anemia.
Namun, persoalan ini juga berkaitan dengan berbagai faktor lain, mulai dari pola makan, gangguan penyerapan zat gizi, hingga penyakit tertentu. Karena itu, pencegahan anemia membutuhkan pendekatan yang menyeluruh, tidak hanya melalui pemenuhan nutrisi, tetapi juga edukasi, deteksi dini, serta kolaborasi berbagai pihak.
Kajian Program Gizi Nasional Indonesia 2018–2024 yang diterbitkan UNICEF Indonesia pada Januari 2026 menyoroti adanya kesenjangan implementasi dan sejumlah hambatan dalam pelaksanaan program gizi di Indonesia.
Salah satu pendekatan tersebut dijalankan Danone Specialized Nutrition Indonesia melalui riset nutrisi, produksi di Pabrik Sarihusada Prambanan, serta program edukasi dan skrining risiko anemia defisiensi besi (Iron Deficiency Anemia/IDA) di masyarakat.
Zat besi dibutuhkan dalam pembentukan hemoglobin. Kebutuhannya meningkat pada masa pertumbuhan dan kehamilan sehingga anak dan ibu hamil termasuk kelompok yang rentan mengalami kekurangan zat besi.
Meski demikian, kadar hemoglobin yang rendah belum cukup untuk memastikan seseorang mengalami anemia defisiensi besi. Dikutip dari laman Ayo Sehat Kementerian Kesehatan, pemeriksaan lebih lanjut dapat diperlukan untuk mengetahui penyebabnya, termasuk dengan mengukur cadangan zat besi di dalam tubuh.
Baca juga: Ibu Hamil Perlu Tahu, Ini Tips Mencegah Anemia Defisiensi Besi pada Anak
Pakar gizi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Dian Novita Chandra mengatakan, anemia defisiensi besi masih menjadi tantangan besar kesehatan publik di Indonesia, terutama pada anak dan perempuan dalam fase reproduktif.
Menurutnya, kondisi tersebut sering kali berkembang tanpa gejala yang khas sehingga tidak segera terdeteksi. Meski demikian, terdapat sejumlah tanda awal yang perlu diwaspadai antara lain tubuh terasa lemas, wajah pucat, nafsu makan menurun, hingga sering mengalami infeksi berulang.
Kondisi itu dapat bermula dari pemenuhan nutrisi, terutama zat besi, yang belum optimal. Jika tidak ditangani, anemia defisiensi besi dapat memengaruhi perkembangan kognitif, kemampuan belajar, serta kesehatan anak dalam jangka panjang.
Sejumlah gejala, seperti lemas, pucat, susah makan, hingga kerap mengalami infeksi berulang, dapat menjadi tanda awal anemia.
Padahal, anemia defisiensi besi dapat memengaruhi perkembangan kognitif, kemampuan belajar, dan kesehatan dalam jangka panjang.
Oleh karena itu, upaya pencegahan tidak cukup hanya mengandalkan pengobatan ketika anemia sudah terjadi.
“Penguatan skrining dini dan peningkatan kesadaran menjadi sangat penting. Pada saat yang sama, perluasan akses terhadap solusi nutrisi yang sesuai, termasuk produk yang diperkaya zat besi, memegang peran penting dalam pencegahan,” ujarnya.
Baca juga: 6 Penyebab Anemia pada Anak: Kekurangan Zat Besi dan Pola Makan Buruk Jadi Faktor Utama
Dian menambahkan, keberhasilan upaya tersebut membutuhkan kolaborasi berbagai pihak, mulai dari tenaga kesehatan, pemerintah, dunia industri, hingga masyarakat.
Medical and Scientific Affairs Danone Indonesia Ray Wagiu Basrowi mengatakan, dampak anemia defisiensi besi tidak hanya berkaitan dengan kondisi kesehatan individu, tetapi juga berpengaruh terhadap kualitas sumber daya manusia.
“Ini menyangkut status ekonomi dan kualitas SDM. Ini harus menjadi kampanye nasional untuk mencegah dan menurunkan anemia defisiensi besi,” kata Ray.
Pemenuhan zat besi tidak hanya ditentukan oleh jumlah yang dikonsumsi, tetapi juga kemampuan tubuh dalam menyerapnya.
Menurut Dian, jenis pangan, cara pengolahan, dan kombinasi makanan yang dikonsumsi bersamaan turut menentukan seberapa baik zat besi dapat diserap tubuh.
Ia menjelaskan, vitamin C dapat membantu meningkatkan penyerapan zat besi non-heme yang berasal dari pangan nabati. Sebaliknya, kandungan fitat yang banyak ditemukan dalam nasi dan kacang-kacangan dapat menghambat penyerapan zat besi.
Proses fermentasi pada pangan, seperti tahu dan tempe, dapat membantu menurunkan kadar fitat tersebut.
Oleh karena itu, Dian menyarankan pemenuhan zat besi dilakukan melalui pola makan yang bervariasi dengan mengombinasikan sumber pangan hewani, nabati, serta makanan yang mengandung vitamin C.
(Kiri ke kanan) Vice President, Danone Research & Innovation, Southeast Asia, Laurent Clement, Pakar gizi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Dian Novita Chandra, dan Medical & Scientific Affairs Danone Indonesia Ray Wagiu Basrowi saat memberikan pemaparan di Pabrik Danone Specialized Nutrition, Prambanan, Klaten, Jawa Tengah, Rabu (8/7/2026)Fortifikasi juga dapat menjadi pilihan ketika kebutuhan zat besi belum sepenuhnya terpenuhi melalui makanan sehari-hari. Namun, Dian menekankan bahwa fortifikasi zat besi sebaiknya turut mempertimbangkan kandungan yang dapat membantu penyerapannya.
Badan Kesehatan Dunia (WHO) menempatkan fortifikasi sebagai salah satu cara untuk melengkapi pemenuhan zat gizi, dengan tetap disertai pola makan yang beragam.
Pengembangan produk nutrisi anak Danone Specialized Nutrition Indonesia didukung Sarihusada Research Center. Produk fortifikasi yang dikembangkan antara lain mengandung zat besi dan vitamin C untuk membantu penyerapan zat besi.
Hasil riset dan pengembangan formulasi tersebut selanjutnya perlu diterjemahkan ke dalam proses produksi agar dapat tersedia dengan kualitas yang terjaga dalam skala yang lebih luas.
Hasil riset tidak berhenti pada tahap formulasi. Agar manfaatnya dapat dirasakan masyarakat secara luas, inovasi tersebut perlu diterjemahkan ke dalam proses produksi yang mampu menjaga kualitas produk secara konsisten.
Peran tersebut dijalankan Pabrik Sarihusada Prambanan sebagai salah satu fasilitas produksi specialized nutrition Danone di Indonesia. Di fasilitas ini, hasil penelitian dikembangkan menjadi produk yang diproduksi dalam skala komersial dengan pengendalian mutu pada setiap tahapan produksi.
Chief Operating Officer Danone Vikram Agarwal menjelaskan, inovasi baru akan memberikan manfaat apabila mampu menjangkau masyarakat melalui proses produksi dan distribusi yang baik.
Baca juga: Vitamin C Bantu Penyerapan Zat Besi untuk Cegah Anemia
“Sains dan inovasi hanya bernilai jika benar-benar menjangkau masyarakat,” ujar Vikram.
Menurut dia, penerapan inovasi di Indonesia membutuhkan dukungan industri, pasokan, dan distribusi yang mampu menghadapi kondisi geografis yang kompleks. Pusat riset lokal terhubung dengan pusat riset global untuk mendukung pertukaran pengetahuan.
Pengetahuan tersebut kemudian digunakan dalam pengembangan produk yang disesuaikan dengan kebutuhan konsumen Indonesia.
Vikram menjelaskan, pengendalian mutu dilakukan sejak bahan baku diterima, selama proses produksi, hingga produk selesai dibuat. Pengujian tersebut didukung oleh laboratorium di fasilitas produksi agar kontrol kualitas dapat dijalankan dalam skala besar.
Di luar penyediaan solusi nutrisi, pendekatan yang disampaikan Dian juga mencakup edukasi dan deteksi dini. Anak atau ibu yang berisiko mengalami anemia belum tentu segera dikenali karena gejalanya dapat berkembang perlahan dan luput dari perhatian.
Selain pemenuhan nutrisi, pencegahan anemia juga membutuhkan identifikasi risiko sejak dini. Hal ini penting karena banyak kasus anemia berkembang tanpa gejala yang mudah dikenali.
Untuk mendukung upaya tersebut, Danone Specialized Nutrition Indonesia mengembangkan aplikasi e-Nutri yang dilengkapi Iron Calculator. Alat berbasis kuesioner digital tersebut digunakan untuk membantu mengenali risiko anemia tanpa pengambilan sampel darah pada tahap awal.
Berdasarkan data perusahaan, e-Nutri telah menjangkau 1,25 juta penerima manfaat di Indonesia. Secara terpisah, Danone juga menjalankan program Iron Up! di lebih dari 15 negara dan mengembangkan Iron Tracker sebagai alat skrining anemia non-invasif.
Baca juga: Risiko Anemia pada Anak Bisa Muncul sejak Kehamilan, Waspadai Dampaknya
Data tersebut merujuk pada program dan cakupan wilayah yang berbeda serta belum menunjukkan perubahan kondisi kesehatan penerima manfaat secara klinis.
Program tersebut dijalankan melalui keterlibatan tenaga kesehatan dan kemitraan dengan sejumlah pihak yang berfokus pada memperkuat skrining, pencegahan, serta penanganan anemia dalam skala yang lebih luas.
Chief Executive Officer (CEO) Danone Indonesia Laurent Boissier mengatakan, kontribusi perusahaan dalam bidang kesehatan dan nutrisi juga memerlukan keterlibatan berbagai pihak.
“Peran kami tidak berhenti pada produksi. Peran kami adalah berkontribusi dalam jangka panjang, bekerja bersama komunitas, tenaga kesehatan, dan otoritas untuk mendukung ambisi Indonesia di bidang kesehatan dan nutrisi,” kata Laurent.
Sementara itu, Ray mengatakan, penyelesaian masalah anemia tidak cukup mengandalkan ketersediaan obat atau solusi nutrisi. Edukasi, peningkatan kesadaran, dan fasilitas deteksi dini juga dibutuhkan agar anak yang berisiko dapat dikenali sejak awal kehidupan.
“Menyelesaikan masalah anemia defisiensi besi tidak boleh hanya dengan menyiapkan obat. Harus ada edukasi, harus ada building awareness, dan harus ada fasilitas untuk memastikan anak-anak yang berisiko sudah terdeteksi sejak awal kehidupan,” kata Ray.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya