Editor
KOMPAS.com - Bagi sebagian besar siswa SMA di Pulau Jawa, nama kampus seperti Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), atau Universitas Gadjah Mada (UGM) mungkin sudah akrab di telinga.
Namun, realita yang sangat berbeda harus dihadapi oleh anak-anak muda di ujung barat Indonesia, Provinsi Aceh. Selama bertahun-tahun, jumlah mahasiswa asal daerah ini yang berhasil menembus perguruan tinggi negeri (PTN) papan atas nasional tergolong sangat minim.
Ketimpangan ini terekam jelas dalam ingatan Teuku Feroz Taufan. Pada tahun 2015 ketika ia masuk ITB, hanya ada 19 siswa dari seluruh Provinsi Aceh yang berhasil lolos melalui jalur tes tulis.
Baca juga: Perang AS-Israel vs Iran Picu Kenaikan Tarif Penerbangan hingga Ganggu Pendidikan
Angka tersebut justru terus merosot hingga menyisakan empat orang saja pada saat ia lulus di tahun 2019. Aceh bahkan sempat menjadi sorotan karena mencatatkan nilai ujian kompetensi yang terendah di Sumatra.
Ironisnya, hal ini terjadi di tengah guyuran dana Otonomi Khusus (Otsus) triliunan rupiah yang salah satu peruntukan besarnya adalah untuk sektor pendidikan. Banyak siswa di daerah yang sebenarnya memiliki potensi, namun kalah saing karena tidak terbiasa dengan strategi dan pola ujian masuk PTN.
“Aceh menjadi provinsi termiskin, dan nilai TKA di pertengahan tahun 2010an itu terendah di Sumatra. Saya merasa ini yang perlu dibantu dulu agar lebih banyak anak-anak Aceh yang diterima di kampus negeri papan atas nasional,” ujar dia dalam keterangan resmi, Rabu (20/5/2026).
Melihat kondisi yang memprihatinkan tersebut, Feroz tidak tinggal diam. Dia merasa terpanggil untuk berbuat sesuatu.
Pada akhir tahun 2019, bersama beberapa rekan sesama alumni ITB, ia menginisiasi berdirinya Ekadanta Learning Center, sebuah lembaga pendidikan yang dirancang khusus untuk menjadi jembatan bagi siswa SMA di Aceh agar mampu menembus PTN favorit.
“Saat itu kami fokus dulu ke Banda Aceh dan inilah yang realistis, yakni mendorong anak-anak SMA atau SMK tembus kampus top,” jelasnya.
Feroz memilih Banda Aceh sebagai fokus program karena anak-anak dari berbagai desa di Aceh rata-rata pergi ke kota tersebut untuk menempuh pendidikan yang lebih baik
Pada angkatan pertama, program ini berjalan 100 persen gratis untuk 40 siswa terbaik di Banda Aceh yang disaring ketat melalui jalur tes. Hasilnya pun luar biasa; tingkat siswa asal Aceh yang berhasil masuk ITB melonjak hingga 300 persen pada tahun tersebut.
Kini, Ekadanta telah memasuki tahun ketujuh dan berjalan secara mandiri. Melalui peta jalan (roadmap) yang matang, Feroz menerapkan sistem subsidi silang dan diversifikasi pendapatan, termasuk menjalin kerja sama dengan sekolah-sekolah untuk melatih para guru agar dampak yang dihasilkan bisa lebih masif dan berkelanjutan.
Baca juga: Muhammadiyah Luncurkan Pesantren Eco-Saintek, yang Integrasi Pendidikan dan Lingkungan
Di luar dedikasinya yang tinggi untuk tanah kelahirannya, Feroz adalah seorang profesional muda yang memiliki karier cemerlang. Lulus dari Teknik Mesin ITB pada Juli 2019, ia langsung direkrut melalui jalur talent pool kampus sebelum proses wisuda resminya.
Ia memulai kariernya selama empat tahun di EQUITEK, sebuah perusahaan Konsultan Manajemen dan Teknologi, dengan menangani berbagai proyek transformasi untuk BUMN-BUMN besar.
Keberhasilan Feroz dalam menyeimbangkan karier profesional dan aksi sosialnya diakui tidak lepas dari peran besar Tanoto Foundation. Saat masih berkuliah di tingkat satu, ia berhasil terpilih sebagai penerima beasiswa prestasi yang kala itu bernama National Championship Scholarship (NCS).
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya