JAKARTA, KOMPAS.com - Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah resmi meluncurkan Pesantren Eco-Saintek Muhammadiyah, model pesantren modern yang mengintegrasikan pendidikan agama, sains teknologi, serta kesadaran ekologis.
Peresmian itu bertepatan dengan momentum Konsolidasi Pimpinan Nasional Muhammadiyah di Universitas Muhammadiyah Bandung.
Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, menekankan pentingnya menghadirkan institusi pendidikan Islam yang mampu merespons tantangan zaman. Terutama di tengah banyaknya kritik kepada pengelolaan pesantren.
“Pesantren Eco-Saintek Muhammadiyah harus dikelola secara baik dan menjadi role model pengembangan pesantren masa depan,” kata Haedar dalam keterangannya, Senin (17/11/2025).
Baca juga: Hari Pahlawan dan Pejuang Lingkungan Kita
Ia menjelaskan, Pesantren Eco-Saintek Muhammadiyah dirancang sebagai pesantren setingkat SMA dengan sistem pendidikan terpadu. Modelnya menggabungkan pendalaman agama Islam, penguatan sains teknologi, dan pembentukan karakter ekologis yang responsif terhadap isu keberlanjutan.
Inisiator Pesantren Eco-Saintek Muhammadiyah sekaligus Ketua Dewan Pakar Pesantren, Hilman Latief, menyatakan hadirnya pesantren ini merupakan inovasi dalam lanskap pendidikan Islam modern.
“Santri bukan hanya mengenal sains dan teknologi, tetapi juga memiliki kesadaran lingkungan dan pemahaman keislaman yang berkemajuan,” tutur Hilman.
Melalui pesantren tersebut, Muhammadiyah menegaskan komitmen untuk melahirkan generasi beriman kuat, berakhlak mulia, kritis, menguasai sains dan teknologi, berdaya saing global, serta memiliki kepemimpinan dan kepedulian terhadap keberlanjutan alam.
Baca juga: Ecoground 2025: Blibli Tiket Action Tunjukkan Cara Seru Hidup Ramah Lingkungan
Adapun pesantren berada di lahan seluas 3 hektare, di Rancamaya, Kota Bogor, yang merupakan pengembangan dari Pesantren Kilat Al-Hikmah. Pihaknya menyiapkan berbagai fasilitas guna mendukung proses pembelajaran.
Pesantren Eco-Saintek Muhammadiyah siap beroperasi dan mulai menerima peserta didik baru untuk tahun ajaran 2026/2027.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya