Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Warga NTT Tak Lagi Bertaruh Nyawa untuk Dapat Air Bersih

Kompas.com, 23 Oktober 2023, 10:00 WIB
Sigiranus Marutho Bere,
Hilda B Alexander

Tim Redaksi

KUPANG, KOMPAS.com - Sorot mata Sebastianus Sabar Susah (51) terus menatap tajam ke dalam bak penampung air yang dibangun PT Pertamina di Desa Tendambepa, Kecamatan Nangapenda, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT), Kamis (19/10/2023).

Mengenakan kaos berkerah berwarna biru muda dan celana kain hitam, pria berkulit gelap itu duduk persis di atas bak, sembari melihat air yang mengalir dari ujung pipa masuk ke bak berkapasitas 32.000 liter.

Seolah tak mau berkedip, tokoh masyarakat Desa Tendambepa tersebut, masih belum percaya sumber air kini sudah berada di tengah permukiman warga.

Sebastianus masih mengingat jelas perjuangannya dan warga lainnya memperoleh air bersih. Mereka harus berjalan kaki sejauh tiga kilometer ke sumber mata air dengan debit yang lebih besar.

Masing-masing membawa dua jeriken berukuran lima liter, Sebastianus dan warga lainnya bergerak menuju sumber mata air. Mereka berjalan ekstra hati-hati di pinggir jurang, karena sedikit terpeleset nyawa bakal melayang.

Tak mudah untuk menaklukan jalan menuju sumber mata air, karena topografi jalan curam. Letak Desa Tendambepa berada di puncak bukit. Sedangkan sumber mata air berada di lembah.

Baca juga: WWF Jadi Momentum Tingkatkan Akses Air Minum

Menurun bukit terjal sudah jadi kebiasaan Sebastianus. Keringat mengucur deras di tubuh. Sesekali mereka beristirahat, saat pulang mendaki punggung bukit menuju perkampungan sambil membawa jeriken berisi air. Rutinitas itu sudah berlangsung lama sejak Sebastianus kecil.

Bagi sebastianus, tidak ada pilihan lain untuk mendapatkan air bersih. Sebagai petani lahan kering dengan penghasilan pas-pasan, ia tidak sanggup membeli air bersih. Karena untuk memesan satu tangki air ukuran 5.000 liter tarifnya mencapai Rp 800.000.

"Memang ada sumber air yang berada di dekat kantor desa. Tapi debitnya sangat terbatas. Pada musim kemarau seperti ini, airnya kering sehingga kami jalan turun gunung yang terjal untuk cari air," ungkap Sebastianus, saat bersama Kompas.com, berjalan kaki sejauh tiga kilometer menyusuri sudut jurang menuju sumber mata air di Desa Tendambepa, Kamis siang.

Selain itu, ratusan warga harus mengantre dari tengah malam hingga subuh di sumber mata air dengan debit terbatas. Akibatnya, banyak warga yang tak kebagian. Kalau pun dapat, air sudah keruh penuh lumpur.

Kesulitan Sebastianus dan warga lainnya untuk mengakses air bersih akhirnya terjawab saat PT Pertamina hadir melalui bantuan Program Corporate Social Responsibility (CSR) atau tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL).

Bantuan itu berupa broncaptering serta instalasi perpipaan menggunakan sistem hidrolik dan listrik, yang didorong dari sumber mata air di dataran rendah ke permukiman warga yang berada di puncak bukit.

Baca juga: Empat Isu Air Penting Dibahas pada WWF 2024

Meski bantuan telah ada di depan mata, Sebastianus bersama warga dan aparat desa setempat belum yakin bisa mendapatkan air.

"Semua warga di sini sempat ragu. Bagaimana mungkin air dari bawah bisa ditarik sampai atas bukit sini," ujar Sebastianus sambil tertawa lepas.

Keraguan warga akhirnya terjawab. Kini mereka tidak lagi harus jalan jauh untuk mencari air. Sumber air telah berada persis di depan rumah.

"Kalau dulu kita tidak mandi selama tiga sampai empat hari masih rasa nyaman saja. Sekarang, setelah ada air, tidak mandi seharian rasanya tidak nyaman. Mau mandi jam berapa saja sudah ada air sekarang," ujarnya.

Cuci muka dengan air embun

Kondisi yang sama juga dirasakan beberapa aparat desa lainnya seperti Kepala Seksi Kesejahteraan Rakyat dan Pelayanan Desa Tendambepa Fransiskus Mari Lado (32).

Dia menceritakan pengalamannya ketika duduk di bangku SD dan SMP. Karena tak ada air, Fransiskus terpaksa membasuh wajahnya menggunakan air embun yang menempel di dedaunan saat berangkat ke sekolah.

"Di mana ada embun yang banyak di daun atau rumput, saya ambil dan tempel di muka (wajah). Saya pakai cuci muka. Itu hampir tiap hari saat mau ke sekolah," ungkap Fransiskus.

Walaupun kulit wajah terasa gatal, Fransiskus tak merasa risih. Semua itu dilakukan agar bisa terlihat bersih oleh guru-gurunya.

Menurut Fransiskus, untuk mandi dan mencuci pakaian, mereka menggunakan air hujan yang ditadah pada tempat penampungan. Namun karena stok air hujannya habis, embun lah solusinya.

Baca juga: Pemerintah Perlu Galakkan Gerakan Hemat Air untuk Tangani Krisis

Sementara untuk ke sumber mata air, jaraknya jauh, sehingga karena takut terlambat sekolah, akhirnya embun jadi pilihan terakhir.

Kalau pun mendapat air, maupun air hujan, Fransiskus dan teman-temannya harus membawa satu jeriken ke sekolah. Semua anak wajib bawa air ke sekolah. Praktik itu berlangsung hingga saat ini.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
 Primata Kunci Cegah Kepunahan Massal akibat Perubahan Iklim
Primata Kunci Cegah Kepunahan Massal akibat Perubahan Iklim
Pemerintah
IATA: Penerbangan Ramah Lingkungan Mahal dan Maskapai Tak Sanggup Tanggung Sendiri
IATA: Penerbangan Ramah Lingkungan Mahal dan Maskapai Tak Sanggup Tanggung Sendiri
Pemerintah
Peta Risiko Penyakit Menular Lewat Air Bergeser akibat Perubahan Iklim
Peta Risiko Penyakit Menular Lewat Air Bergeser akibat Perubahan Iklim
LSM/Figur
Pasar Hijau Tembus Rp179,77 Kuadriliun, Asia Makin Dominan
Pasar Hijau Tembus Rp179,77 Kuadriliun, Asia Makin Dominan
Pemerintah
Pertamina Usul Blending SAF 1 Persen Rute Jakarta-Bali, Jaga Keseimbangan Emisi dan Harga Tiket Pesawat
Pertamina Usul Blending SAF 1 Persen Rute Jakarta-Bali, Jaga Keseimbangan Emisi dan Harga Tiket Pesawat
BUMN
Angka Vaksinasi Naik Tipis, Jutaan Anak Masih Belum Terlindungi
Angka Vaksinasi Naik Tipis, Jutaan Anak Masih Belum Terlindungi
Pemerintah
Samator Lanjutkan Revitalisasi Sungai Jagir, Targetkan Penataan Sepanjang 775 Meter
Samator Lanjutkan Revitalisasi Sungai Jagir, Targetkan Penataan Sepanjang 775 Meter
Swasta
PalmCo Dorong Pemerintah Perjelas Batas Kawasan Hutan untuk Beri Kepastian Hukum
PalmCo Dorong Pemerintah Perjelas Batas Kawasan Hutan untuk Beri Kepastian Hukum
BUMN
Emisi Melejit, Bakteri Pemakan Metana Kewalahan
Emisi Melejit, Bakteri Pemakan Metana Kewalahan
LSM/Figur
UE Tindak Tegas 27 Negara Anggota Soal Aturan Bangunan Ramah Lingkungan
UE Tindak Tegas 27 Negara Anggota Soal Aturan Bangunan Ramah Lingkungan
Pemerintah
Emisi Perjalanan Penonton Piala Dunia Jauh Lebih Tinggi Dibanding Acaranya
Emisi Perjalanan Penonton Piala Dunia Jauh Lebih Tinggi Dibanding Acaranya
Pemerintah
Studi: Kebakaran Hutan Kanada Bikin Puluhan Spesies Burung di New York Lebih Sulit Ditemukan
Studi: Kebakaran Hutan Kanada Bikin Puluhan Spesies Burung di New York Lebih Sulit Ditemukan
LSM/Figur
ITB Kembangkan Pepton dari Maggot untuk Kurangi Ketergantungan Impor
ITB Kembangkan Pepton dari Maggot untuk Kurangi Ketergantungan Impor
LSM/Figur
Kebijakan Perlindungan Tanah Terbukti Sehatkan Lahan Pertanian
Kebijakan Perlindungan Tanah Terbukti Sehatkan Lahan Pertanian
Pemerintah
El Nino Bukan Vonis Kekeringan
El Nino Bukan Vonis Kekeringan
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau