KOMPAS.com - Wakil Presiden (Wapres) Ma'ruf Amin menyampaikan tiga upaya penting yang dilakukan untuk mengatasi perubahan iklim dan kerusakan lingkungan.
Pertama, riset dan pengembangan teknologi inovatif untuk pemulihan lahan terdegradasi dan terdampak perubahan iklim.
"Kembangkan teknologi energi terbarukan, seperti tenaga surya, angin, dan hidrolik untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil yang menyebabkan emisi gas rumah kaca," ucap Wapres pada acara puncak Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2024 di Arboretum Manggala Wanabakti, Jakarta, Jumat (5/7/2024).
Ekosistem transportasi yang ramah lingkungan perlu dibangun, seperti kendaraan listrik, kendaraan berbahan bakar hidrogen, maupun sistem transportasi massal yang dapat mengurangi emisi karbon.
Baca juga: 500 Lebih Jemaah Haji Meninggal, Krisis Iklim Ancaman Serius
Kedua, Wapres meminta dampak perubahan iklim harus dipastikan ditanggung secara adil dan merata, dengan mempertimbangkan tanggung jawab sejarah, tingkat kerentanan, dan kapasitas masing-masing pihak.
"Perlu adanya pendanaan khusus penanganan perubahan iklim dan transfer teknologi dari negara-negara penghasil emisi yang besar kepada negara-negara terdampak, sebagai bentuk tanggung jawab global," tutur Wapres, dalam kanal YouTube Sekretariat Wapres yang dipantau daring.
Menurutnya, kebijakan mitigasi dan adaptasi iklim juga harus memperhitungkan kebutuhan dan kerentanan kelompok yang terpinggirkan.
Poin ketiga, Wapres mengingatkan tata kelola lahan dan hutan juga perlu diperkuat.
"Tingkatkan pengawasan aktivitas yang dapat memperburuk degradasi lahan serta meningkatkan kepatuhan terhadap regulasi dan penegakan hukum dengan penerapan sanksi yang sesuai," tutur Wapres.
Ia juga menjelaskan, peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2024 berfokus pada isu pentingnya pemulihan lingkungan untuk mengatasi degradasi lahan, membangun ketahanan terhadap cuaca ekstrem, sekaligus menurunkan kemiskinan dengan meningkatkan mata pencaharian masyarakat.
Wapres menyatakan saat ini dunia masih menghadapi tiga krisis global, yaitu perubahan iklim, kehilangan keanekaragaman hayati, dan polusi.
Perubahan iklim akibat peningkatan emisi gas rumah kaca mengakibatkan suhu global naik, cuaca ekstrem, dan kenaikan permukaan laut.
"Kondisi ini berdampak pada hilangnya keanekaragaman hayati akibat banyaknya spesies yang tidak mampu beradaptasi dengan perubahan lingkungan yang cepat dan ekstrem," tambah Wapres.
Baca juga: Sekjen PBB Sebut Industri Energi Fosil Godfather Krisis Iklim
Polusi udara yang ekstrem, juga berisiko menyebabkan penyakit pernapasan pada manusia dan gangguan kesehatan lainnya.
"Agar dampaknya tidak meluas ke berbagai aspek kehidupan, seperti lingkungan, kesehatan, masyarakat, dan laju pembangunan, ketiga krisis ini perlu segera ditangani," ujar Wapres.
Dalam kesempatan tersebut, Wapres juga menyampaikan krisis lingkungan merupakan masalah global yang membutuhkan kerja sama seluruh aktor baik negara, organisasi internasional, pelaku usaha, hingga masyarakat.
Oleh karena itu, Indonesia turut berupaya melakukan pelestarian lingkungan berkelanjutan melalui komitmennya dalam Perjanjian Paris (Paris Agreement) yang diratifikasi dalam Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2016.
Pemerintah juga menargetkan penurunan emisi gas rumah kaca sebesar 31,89 persen melalui skenario upaya sendiri dan sebesar 43,2 persen melalui dukungan internasional pada 2030.
Target ini difokuskan pada lima sektor yaitu kehutanan, energi, limbah, proses industri, dan penggunaan produk serta pertanian.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya