Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Nol Emisi Kini Bukan Sekedar Mimpi Ibu Pertiwi...

Kompas.com, 31 Oktober 2024, 20:40 WIB
Wahyu Adityo Prodjo,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com – Bukit-bukit karst terlihat menjulang gagah di Gunungkidul, Yogyakarta. Mobil yang saya tumpangi bersama rombongan PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) membelah jalan berkelok selebar tak kurang dari lima meter.

Meski matahari sudah mulai rebah, suasana gersang nan panas begitu terasa di luar.

“Beberapa bulan ini belum hujan di sini,” kata sopir mobil yang saya tumpangi.

Laju mobil mulai masuk ke jalan yang lebih sekitar dua meter. Jika ada kendaraan yang berpapasan, mungkin akan sulit melintas bersamaan.

Kontur jalan mulai meliuk-liuk terjal dan beberapa kali melewati perkampungan warga. Hanya ada beberapa warga yang melintas untuk mencari pakan ternak dan berladang.

Baca juga:

Saya berkesempatan untuk melihat lokasi Pengembangan Ekonomi Hijau milik PLN EPI pada akhir Juli 2024 lalu di Kalurahan Gombang, Ponjong, Gunungkidul.

Di lokasi itu, PLN melalui sub holding PLN EPI mengembangkan pembangunan berkelanjutan berbasis keterlibatan masyarakat. Ada sejumput harapan tentang energi bersih di daerah karst yang terkenal dengan kekeringan itu.

Di lahan kritis, ada ribuan tanaman indigofera yang digunakan untuk pakan ternak, bahan baku pupuk organik, dan pendukung energi bersih. Pengembangan ekonomi hijau tersebut muncul kolaborasi bersama warga dan pemerintah.

Kawasan karst di Kecamatan Ponjong, Gunungkidul, Yogyakarta pada Kamis (25/7/2024). PLN melalui PLN EPI berkolaborasi Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dalam program pengembangan potensi daerah dalam transisi energi. Salah satu program yang dilakukan adalah mengembangkan ekosistem hijau berbasis gotong royong warga. KOMPAS.com/WAHYU ADITYO PRODJO Kawasan karst di Kecamatan Ponjong, Gunungkidul, Yogyakarta pada Kamis (25/7/2024). PLN melalui PLN EPI berkolaborasi Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dalam program pengembangan potensi daerah dalam transisi energi. Salah satu program yang dilakukan adalah mengembangkan ekosistem hijau berbasis gotong royong warga.

Berbicara soal energi bersih, dunia memang sangat membutuhkannya. Nasib dunia memprihatinkan akibat pemanasan global yang semakin memburuk dan berujung kepada perubahan iklim. Suhu bumi semakin panas dan potensi kekeringan makin menganga.

Soal keluh kesah gara-gara kepanasan lazim ditemukan di Indonesia. Data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan, suhu maksimum harian di wilayah Indonesia sepanjang Oktober 2024 ini mencapai 37-38 derajat celsius.

Baca juga:

Tentu, isu pemanasan global bukan hal yang main-main jika masih ingin tetap tinggal dengan nyaman di bumi.

Sepanjang perjalanan, saya penasaran dengan langkah yang ditempuh PLN untuk mewujudkan mimpi Indonesia menuju energi bersih pada tahun 2060. Sebelumnya, saya sempat mengunjungi fasilitas pengembangan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMK) peternakan kambing perah jenis etawa di Kalurahan Karang Asem, Ponjong.

Saya mencoba mengulik apa upaya yang sudah dilakukan PLN dalam mewujudkan mimpi Indonesia untuk Net Zero Emissions (NZE) pada tahun 2060.

Sekretaris Perusahaan PLN EPI, Mamit Setiawan yang turut serta dalam perjalanan ke lokasi mengatakan, pengembangan ekonomi hijau di Kalurahan Gombang merupakan kolaborasi antara PLN, PLN EPI, dan Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Kolaborasi tersebut adalah wujud nyata dari pengembangan ekosistem hijau berbasis gotong royong warga.

“Kami bekerja sama Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan Kesultanan Yogyakarta untuk menggunakan lahan Sultan Ground untuk melakukan penanaman tanaman multifungsi," ujar Mamit dalam acara Media Gathering di Gunungkidul, Yogyakarta pada Kamis (25/7/2024).

Sekretaris Perusahaan PLN EPI, Mamit Setiawan menjelaskan potensi tanaman multifungsi yakni indigofera di lokasi Pengembangan Ekonomi Hijau milik PLN EPI pada akhir Juli 2024 lalu di Kalurahan Gombang, Ponjong, Gunungkidul. PLN melalui PLN EPI memberikan 25.000 bibit indogofera untuk pengembangan ekonomi hijau berbasis kerakyatan. Daun indigofera nantinya bisa dimanfaatkan sebagai pakan ternak, sedangkan batangnya bisa dijadikan sumber pasokan biomassa.KOMPAS.com/WAHYU ADITYO PRODJO Sekretaris Perusahaan PLN EPI, Mamit Setiawan menjelaskan potensi tanaman multifungsi yakni indigofera di lokasi Pengembangan Ekonomi Hijau milik PLN EPI pada akhir Juli 2024 lalu di Kalurahan Gombang, Ponjong, Gunungkidul. PLN melalui PLN EPI memberikan 25.000 bibit indogofera untuk pengembangan ekonomi hijau berbasis kerakyatan. Daun indigofera nantinya bisa dimanfaatkan sebagai pakan ternak, sedangkan batangnya bisa dijadikan sumber pasokan biomassa.

Mamit mengajak saya dan rekan-rekan media lainnya berkeliling lokasi tanaman indogofera. Ia menelusup ke sela-sela tanaman indigofera yang tingginya melebih tinggi tubuhnya. Dengan penuh semangat, Mamit menjelaskan keunggulan indigofera sebagai pakan ternak dan sumber bahan baku co-firing.

Di Kalurahan Gombang, ada sekitar 25.000 bibit tanaman indigofera yang diberikan. Dari jumlah tersebut, sebanyak 15.000 bibit ditanam di Tanah Kas Desa dan Sultan Ground seluas 300.000 meter persegi atau 30 hektar dengan kerapatan tanaman satu meter antarpohon.

Kemudian, sebanyak 10.000 bibit ditanam di ladang atau pekarangan warga dan setiap warga atau Kepala Keluarga mendapatkan 9-12 bibit pohon.

Di lokasi pengembangan energi hijau, tanaman multifungsi yaitu indigofera tumbuh subur di tengah perbukitan karst. Tingginya kini sudah mencapai 4-5 meter yang nantinya bisa dipanen untuk kebutuhan warga. Mamit bilang, daun indigofera bisa digunakan untuk pakan ternak dan sumber pasokan biomassa.

“Kalau batangnya sudah besar, maka ini yang akan digunakan sebagai produk biomassa,” ujar Mamit.

Baca juga:

Indigofera memang cocok ditanami di lahan yang kering seperti karateristik wilayah Gunungkidul. Dikutip dari Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, indigofera mudah ditanam dan dirawat, tahan hidup di tanah ekstrim tolerasi terhadap kondisi lingkungan seperti usim kering, genangan air, dan tahan terhadap salinitas sehingga menjadi sumber pakan sepanjang tahun.

Daun indigofera juga dapat digunakan sebagai bahan baku hijau produk organik dan sumber utama protein diolah menjadi pakan ternak.

Hamparan tanaman indogofera di lokasi pengembangan ekonomi hijau di Kalurahan Gombang, Ponjong, Gunungkidul, Yogyakarta pada Kamis (25/8/2024).  PLN melalui PLN EPI memberikan 25.000 bibit indogofera untuk pengembangan ekonomi hijau berbasis kerakyatan. Daun indigofera nantinya bisa dimanfaatkan sebagai pakan ternak, sedangkan batangnya bisa dijadikan sumber pasokan biomassa.KOMPAS.com/WAHYU ADITYO PRODJO Hamparan tanaman indogofera di lokasi pengembangan ekonomi hijau di Kalurahan Gombang, Ponjong, Gunungkidul, Yogyakarta pada Kamis (25/8/2024). PLN melalui PLN EPI memberikan 25.000 bibit indogofera untuk pengembangan ekonomi hijau berbasis kerakyatan. Daun indigofera nantinya bisa dimanfaatkan sebagai pakan ternak, sedangkan batangnya bisa dijadikan sumber pasokan biomassa.
Seperti diketahui, PLN sebagai perusahaan listrik negara berkomitmen dalam melakukan transisi energi untuk mencapai status NZE pada tahun 2060. PLN mendukung pemerintah dalam transisi energi lewat penyaluran energi listrik yang bersih.

Masa transisi energi sudah berlangsung sejak adanya Kesepakatan Paris (Paris Agreement) tentang perubahan iklim untuk menjaga agar pemanasan global tidak naik lebih dari 2 atau bahkan 1,5 derajat Celcius.

Negara di dunia termasuk Indonesia harus menekan emisi karbon yang dapat menyebabkan perubahan iklim hingga nol emisi.

Salah satu langkah nyata PLN dalam transisi energi yang telah dilakukan yaitu adalah pengembangan energi biomassa sebagai pasokan alternatif selain batu bara.

Mamit mengatakan, PLN melalui PLN EPI mewujudkan komitmennya mengurangi emisi karbon melalui program co-firing biomassa di Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU).

Baca juga: Energi Terbarukan Bakal Pasok Separuh Pembangkit Listrik Dunia

Program co-firing PLN EPI melibatkan penggunaan biomassa dari berbagai sumber, termasuk tanaman-tanaman energi seperti indigofera, gamal, kaliandra merah, indigofera dan gmelina. Selain itu, ada juga sumber dari limbah pertanian dan perkebunan seperti sekam padi, bonggol jagung, serbuk gergaji, serta cangkang sawit dan bukan berasal dari deforestasi.

Penanaman indigofera untuk program biomassa PLN di Tasikmalaya. DOK. PLN EPI Penanaman indigofera untuk program biomassa PLN di Tasikmalaya.
PLN juga memanfaatkan bahan baku co-firing dari limbah sampah. PLN bersama berbagai pihak mengolah sampah menjadi brisket ataupun pelet untuk bahan co-firing di PLTU.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
LSM/Figur
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Pemerintah
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
LSM/Figur
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
Pemerintah
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Pemerintah
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
LSM/Figur
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Pemerintah
PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset
PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset
Pemerintah
4.000 Pekerja Pemilah Sampah Informal di Bantargebang Dapat Jaminan Sosial
4.000 Pekerja Pemilah Sampah Informal di Bantargebang Dapat Jaminan Sosial
Pemerintah
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pemerintah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Pemerintah
Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan
Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan
Pemerintah
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
LSM/Figur
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Pemerintah
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau