Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

2 Miliar Warga Kota di Dunia Berpotensi Terpapar Kenaikan Temperatur pada 2040

Kompas.com, 8 November 2024, 09:12 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Laporan PBB mengungkapkan lebih dari 2 miliar orang yang saat ini tinggal di kota bakal terpapar kenaikan suhu tambahan setidaknya 0,5 derajat celsius pada tahun 2040.

"Hampir semua penduduk kota akan terpengaruh, dengan miliaran orang mengalami suhu yang lebih panas atau terpapar risiko banjir dan ancaman lainnya," kata Anacláudia Rossbach, Direktur Eksekutif UN-Habitat sebagaimana dikutip dari laman resmi United Nations, Kamis (7/11/2024).

Laporan tersebut juga menyoroti kesenjangan pendanaan yang signifikan untuk infrastruktur perkotaan yang tangguh.

Baca juga:

Kota-kota secara keseluruhan membutuhkan investasi sekitar 4,5 triliun dollar AS hingga 5,4 triliun dollar AS per tahun untuk membangun dan memelihara sistem yang tangguh terhadap iklim. Namun pendanaan saat ini hanya sebesar 831 miliar dollar AS.

Kekurangan ini membuat kota-kota, dan terutama populasi yang paling rentan akan terpapar risiko iklim, salah satunya adalah suhu yang meningkat.

Mereka yang paling berisiko adalah mereka yang sudah menghadapi ketimpangan struktural yang terus-menerus dan kronis.

“Permukiman informal dan permukiman kumuh yang biasanya terletak di daerah yang sensitif terhadap lingkungan dan tidak memiliki infrastruktur pelindung sering kali menanggung beban bencana terkait iklim atau peristiwa ekstrem,” papar Rossbach.

Ia menambahkan bahwa komunitas yang rentan ini tidak hanya lebih rentan terhadap risiko sejak awal, tetapi juga lebih kecil kemungkinannya untuk menerima dukungan setelah guncangan terjadi.

Transformasi permukiman pun perlu dipercepat selain memprioritaskan kebutuhan wilayah yang paling rentan di kota-kota.

Intervensi Iklim

Selain itu ada bukti intervensi iklim yang gagal melindungi masyarakat paling rentan yang memperburuk situasi mereka.

Misalnya tekanan pertumbuhan yang tak dikelola dengan baik mengakibatkan penyusutan ruang terbuka hijau secara bertahap di banyak wilayah perkotaan.

Rata-rata ruang terbuka hijau di wilayah perkotaan di seluruh dunia turun, dari 19,5 persen pada tahun 1990 menjadi 13,9 pada tahun 2020.

Baca juga:

Di sisi lain langkah-langkah yang bermanfaat seperti pembangunan taman mengakibatkan pemindahan langsung rumah tangga miskin, menaikkan nilai properti, yang secara efektif membuat mereka tidak mampu.

Namun, terlepas dari berbagai hambatan kompleks yang dihadapi kota-kota di tengah darurat iklim, laporan tersebut juga menyoroti pentingnya melihat wilayah perkotaan bukan hanya sebagai bagian dari masalah tetapi juga bagian dari solusi.

“Dengan investasi yang berani dan perencanaan serta desain yang baik, kota-kota menawarkan peluang yang sangat besar untuk memangkas emisi gas rumah kaca, beradaptasi dengan dampak perubahan iklim, dan secara berkelanjutan mendukung populasi perkotaan,” kata Sekretaris Jenderal PBB António Guterres.

Ia mencatat bahwa ratusan kota berpotensi memperluas ruang hijau yang inklusif, mengurangi emisi melalui perencanaan dan pembangunan yang cerdas, serta berinvestasi dalam energi terbarukan untuk mendukung layanan sipil seperti jaringan transportasi.

Lebih lanjut, laporan juga menyerukan fokus perkotaan yang lebih tajam untuk memajukan komitmen nasional ambisius yang menyoroti pentingnya menyelaraskan aksi iklim dengan tujuan pembangunan yang lebih luas, seperti peningkatan layanan, peningkatan permukiman, pengurangan kemiskinan, dan kesehatan masyarakat.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Penyusutan Air Sungai Eropa Ancam Jalur Logistik, Perusahaan Pelayaran Cari Solusi
Penyusutan Air Sungai Eropa Ancam Jalur Logistik, Perusahaan Pelayaran Cari Solusi
Pemerintah
10 Persen Orang Terkaya Picu Kerugian Lingkungan Rp101 Kuadriliun Tiap Tahun
10 Persen Orang Terkaya Picu Kerugian Lingkungan Rp101 Kuadriliun Tiap Tahun
Pemerintah
Uji Gagasan di Desa Binaan Bakti BCA, Gen Z Belajar Beradaptasi dan Mendengar Warga
Uji Gagasan di Desa Binaan Bakti BCA, Gen Z Belajar Beradaptasi dan Mendengar Warga
Swasta
Suhu Gurun Makin Ekstrem, Unta Mulai Kesulitan Bertahan Hidup
Suhu Gurun Makin Ekstrem, Unta Mulai Kesulitan Bertahan Hidup
Pemerintah
Kemendagri Dorong Pembenahan Tata Kelola Desa untuk Percepat Pengentasan Kemiskinan
Kemendagri Dorong Pembenahan Tata Kelola Desa untuk Percepat Pengentasan Kemiskinan
Pemerintah
Suhu Laut Naik, Kemampuan Padang Lamun Menyimpan Karbon Alami Merosot
Suhu Laut Naik, Kemampuan Padang Lamun Menyimpan Karbon Alami Merosot
Pemerintah
Studi Ungkap 25 Persen Emisi Karbon Sektor Pelayaran Dunia dari Kapal di Sungai
Studi Ungkap 25 Persen Emisi Karbon Sektor Pelayaran Dunia dari Kapal di Sungai
Pemerintah
Dampak Karhutla Tak Cukup Dihitung dari Luas Lahan dan Emisi Karbon
Dampak Karhutla Tak Cukup Dihitung dari Luas Lahan dan Emisi Karbon
LSM/Figur
Emisi Gas Rumah Kaca dari Sawah Dunia Naik 2 Kali Lipat dalam 60 Tahun
Emisi Gas Rumah Kaca dari Sawah Dunia Naik 2 Kali Lipat dalam 60 Tahun
Pemerintah
Cara Mengenalkan Alam Tentukan Respons Anak Terhadap Lingkungan
Cara Mengenalkan Alam Tentukan Respons Anak Terhadap Lingkungan
Pemerintah
Konservasi Spesies Indonesia Tak Cukup Andalkan Data, Perlu Kolaborasi Lintas Pihak
Konservasi Spesies Indonesia Tak Cukup Andalkan Data, Perlu Kolaborasi Lintas Pihak
LSM/Figur
Harga Gandum Terancam Naik 3 Kali Lipat Akibat Perubahan Iklim
Harga Gandum Terancam Naik 3 Kali Lipat Akibat Perubahan Iklim
Pemerintah
Perempuan Timur Indonesia dalam Transisi Energi
Perempuan Timur Indonesia dalam Transisi Energi
Pemerintah
Pertemanan Perempuan di Kantor Berkontribusi pada Stabilitas Perusahaan
Pertemanan Perempuan di Kantor Berkontribusi pada Stabilitas Perusahaan
Pemerintah
Minyak Sawit dari Lahan Bekas Karhutla 2026 Berisiko Tak Bisa Masuk Pasar Eropa
Minyak Sawit dari Lahan Bekas Karhutla 2026 Berisiko Tak Bisa Masuk Pasar Eropa
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau