Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
Setiap kawasan ekowisata memiliki kapasitas daya dukung yang berbeda, yang mengacu pada jumlah pengunjung yang dapat ditampung tanpa merusak ekosistem (Yulianda, 2019).
Oleh karena itu, penting untuk melakukan analisis daya dukung kawasan ekowisata di seluruh wilayah Indonesia, yang mencakup pemantauan kondisi fisik dan ekologis serta penentuan batas jumlah pengunjung yang dapat mengunjungi kawasan tersebut.
Dengan demikian, kebijakan pengelolaan ekowisata yang berbasis pada daya dukung akan membantu menjaga keberlanjutan ekosistem dan memberikan pengalaman wisata yang berkualitas.
Karena itu, penting untuk dipertimbangkan menyusun kebijakan untuk ekowisata berkelanjutan di Indonesia, yakni:
Pertama, pembatasan Jumlah Pengunjung. Instansi terkait perlu menentukan kapasitas maksimal pengunjung berdasarkan analisis daya dukung kawasan untuk mencegah kerusakan ekosistem dan memastikan pengalaman wisata yang berkualitas.
Baca juga: Normalisasi Ekowisata Bromo Dimulai 2025, Apa Saja yang Akan Berubah?
Kedua, pemantauan lingkungan secara rutin. Penting untuk melakukan pemantauan berkala terhadap kualitas lingkungan dan ekosistem untuk memastikan keberlanjutan ekowisata dan mendeteksi potensi kerusakan secara dini.
Ketiga, penggunaan teknologi GIS. Manfaatkan teknologi GIS untuk pemetaan kawasan dan pemantauan kesesuaian kegiatan ekowisata secara spasial, guna mengatur akses dan perlindungan kawasan secara efektif.
Keempat, pemberdayaan masyarakat lokal. Berikan pelatihan kepada masyarakat lokal mengenai prinsip ekowisata berkelanjutan dan keterlibatan mereka dalam pengelolaan untuk menciptakan manfaat ekonomi yang berkelanjutan.
Kelima, pendidikan dan kesadaran lingkungan. Tingkatkan kesadaran wisatawan tentang pentingnya pelestarian alam melalui kampanye edukasi yang melibatkan berbagai saluran, termasuk pemandu wisata dan media sosial.
Keenam, infrastruktur ramah lingkungan. Bangun infrastruktur pariwisata yang ramah lingkungan, seperti fasilitas pengelolaan limbah yang efisien dan penggunaan energi terbarukan, untuk meminimalkan dampak terhadap ekosistem.
Ketujuh, kolaborasi multistakeholder. Libatkan pemerintah, masyarakat, sektor swasta, dan organisasi lingkungan dalam perencanaan dan pengelolaan ekowisata untuk mencapai keseimbangan antara ekonomi dan konservasi.
Kedelapan, restorasi ekosistem. Implementasikan program rehabilitasi dan restorasi untuk memperbaiki ekosistem yang rusak dan menjaga keberlanjutan jangka panjang destinasi ekowisata.
Baca juga: Pemanfaatan Wilayah Konservasi jadi Ekowisata
Kesimpulannya, ekowisata berkelanjutan di Indonesia memiliki potensi besar untuk mendukung perekonomian lokal dan konservasi alam. Untuk memastikan keberlanjutannya, pengelolaan yang berbasis pada analisis daya dukung kawasan dan prinsip keberlanjutan sangat penting.
Dengan kolaborasi antara pemerintah, masyarakat lokal, sektor swasta, dan organisasi lingkungan, Indonesia dapat mengembangkan ekowisata yang bermanfaat secara ekonomi dan ekologis, serta berkelanjutan untuk generasi mendatang.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya