Sensor kemudian memasukkan data ke mesin AI aplikasi, yang memproses informasi dan mengirimkan peringatan kepada pengguna.
Untuk membuatnya mudah dimengerti, aplikasi ini menggunakan tampilan yang mirip dengan lampu lalu lintas.
Warna merah menunjukkan ada masalah mendesak yang perlu ditangani dalam waktu 12 hingga 24 jam.
Warna kuning menunjukkan bahwa petani harus berhati-hati dan memantau kondisi tanaman lebih dekat.
Warna hijau menunjukkan bahwa kondisi tanaman dan tanah normal.
“Kami mengakui bahwa petani dan pemilik agribisnis bukanlah orang yang paling ahli dalam hal teknis,” kata Gamayon.
“Kami menggunakan konsep yang sangat universal sehingga mereka tidak perlu benar-benar memahami teknologi. Mereka hanya perlu tahu persis apa yang harus dilakukan terhadap informasi tersebut,” paparnya.
Baca juga: Sekolah Lapang Pertanian Dorong Petani sebagai Garda Depan Konservasi Air
Menurut Departemen Pertanian Filipina, kerusakan pertanian akibat kekeringan, topan, hama, dan faktor lainnya berjumlah 57,78 miliar peso pada tahun 2024.
Gamayon berpendapat bahwa AGRICONNECT PH memiliki kemampuan untuk melindungi hingga 90 persen hasil panen petani melalui deteksi dan respons dini.
Meskipun aplikasi ini masih dalam tahap pengembangan, aplikasi ini telah mendapatkan pengakuan.
Pada tahun 2024, AGRICONNECT PH memenangkan kompetisi Red Bull Basement, yang mendukung inovasi yang dilakukan oleh mahasiswa.
Proyek ini juga telah menerima dukungan dari Microsoft, Plug and Play, dan Ateneo Blue Nest.
Aplikasi ini diharapkan akan diluncurkan pada tahun 2026, dengan tujuan ambisius yakni memberdayakan satu juta petani Filipina pada tahun 2030.
Bagi Gamayon, visinya adalah untuk bekerja sama bukan menggantikan pengalaman petani di lapangan.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya