KOMPAS.com - Salah satu tantangan pertanian yang sering terjadi adalah gagal panen akibat perubahan lingkungan dan keterlambatan deteksi dari petani.
Kini, perusahaan rintisan (startup) yang didirikan mahasiswa di Filipina berusaha mengatasi permasalahan tersebut dengan mengembangkan AGRICONNECT PH.
Itu merupakan sebuah aplikasi seluler berbasis AI yang dirancang untuk membantu petani mendeteksi tanda-tanda awal stres pada tanaman melalui pemantauan risiko secara langsung sehingga dapat mengurangi kerugian.
Aldrin Soj Gamayon (22) mengembangkan AGRICONNECT PH mengatakan, dengan memanfaatkan kecerdasan buatan dan teknologi sensor, petani dapat memantau kondisi di lahan mereka dan bertindak sebelum kerusakan terjadi.
Pertanian memainkan peran utama dalam perekonomian Filipina, berkontribusi sebesar 8,9 persen terhadap PDB pada tahun 2024 atau setara dengan sekitar PHP 1,78 triliun.
Baca juga: Pakar Pertanian UGM Sebut Pemanasan Global Ancam Ketahanan Pangan Indonesia
Pertanian juga mendukung sekitar 10,7 juta pekerjaan atau seperempat dari tenaga kerja negara tersebut.
Namun, para petani berjuang menghadapi berbagai tantangan yang sudah berlangsung lama dan ancaman terkait iklim yang terus berulang.
Rata-rata, Filipina mengalami 20 topan setiap tahun, dengan sekitar setengahnya menerjang daratan dan menyebabkan banjir besar serta kerusakan tanaman.
Gamayon yang merupakan Manajemen Teknologi Komunikasi tahun keempat di Universitas Ateneo de Manila pun kemudian terinspirasi membuat aplikasi setelah melihat pamannya menangani kondisi yang tidak terduga di pertanian.
"Ini membuat petani dan agribisnis lebih efisien untuk bertindak sebelum terlambat," katanya seperti dikutip Sustainability News, Jumat (4/4/2025).
Banyak petani masih mengandalkan pengamatan dan intuisi saat menangani ancaman tanaman seperti hama atau kekeringan tanah.
Gamayon mencatat bahwa meskipun metode ini memiliki kegunaan, sering kali tindakan baru dilakukan setelah kerusakan yang signifikan terjadi.
Ia memperkirakan bahwa pada saat tanda-tanda visual misalnya seperti daun menguning muncul, hanya sekitar 30 persen dari nilai tanaman biasanya dapat diselamatkan.
Sebaliknya, AGRICONNECT PH berupaya menemukan masalah lebih awal.
Sensor pintar ditempatkan secara strategis di titik-titik penting di seluruh lahan pertanian untuk melacak kondisi seperti tingkat kelembapan, aktivitas hama, dan ketersediaan air.
Sensor kemudian memasukkan data ke mesin AI aplikasi, yang memproses informasi dan mengirimkan peringatan kepada pengguna.
Untuk membuatnya mudah dimengerti, aplikasi ini menggunakan tampilan yang mirip dengan lampu lalu lintas.
Warna merah menunjukkan ada masalah mendesak yang perlu ditangani dalam waktu 12 hingga 24 jam.
Warna kuning menunjukkan bahwa petani harus berhati-hati dan memantau kondisi tanaman lebih dekat.
Warna hijau menunjukkan bahwa kondisi tanaman dan tanah normal.
“Kami mengakui bahwa petani dan pemilik agribisnis bukanlah orang yang paling ahli dalam hal teknis,” kata Gamayon.
“Kami menggunakan konsep yang sangat universal sehingga mereka tidak perlu benar-benar memahami teknologi. Mereka hanya perlu tahu persis apa yang harus dilakukan terhadap informasi tersebut,” paparnya.
Baca juga: Sekolah Lapang Pertanian Dorong Petani sebagai Garda Depan Konservasi Air
Menurut Departemen Pertanian Filipina, kerusakan pertanian akibat kekeringan, topan, hama, dan faktor lainnya berjumlah 57,78 miliar peso pada tahun 2024.
Gamayon berpendapat bahwa AGRICONNECT PH memiliki kemampuan untuk melindungi hingga 90 persen hasil panen petani melalui deteksi dan respons dini.
Meskipun aplikasi ini masih dalam tahap pengembangan, aplikasi ini telah mendapatkan pengakuan.
Pada tahun 2024, AGRICONNECT PH memenangkan kompetisi Red Bull Basement, yang mendukung inovasi yang dilakukan oleh mahasiswa.
Proyek ini juga telah menerima dukungan dari Microsoft, Plug and Play, dan Ateneo Blue Nest.
Aplikasi ini diharapkan akan diluncurkan pada tahun 2026, dengan tujuan ambisius yakni memberdayakan satu juta petani Filipina pada tahun 2030.
Bagi Gamayon, visinya adalah untuk bekerja sama bukan menggantikan pengalaman petani di lapangan.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya