KOMPAS.com - Penanaman hutan, khususnya di wilayah tropis, merupakan strategi yang menjanjikan untuk memerangi pemanasan global.
Namun, studi yang dipimpin peneliti University of California Riverside mengungkapkan meski setiap pohon yang hilang sejak abad ke-19 diganti, itu belum dapat membalikkan dampak penuh dari perubahan iklim yang disebabkan manusia.
Hasil tersebut didapat setelah peneliti melakukan pemodelan terhadap tutupan hutan sebesar 12 juta kilometer persegi yang setara dengan target satu triliun pohon untuk mengurangi pemanasan global.
Para ilmuwan sendiri memperkirakan bahwa Bumi telah kehilangan hampir setengah dari pepohonannya atau sekitar tiga triliun sejak awal masyarakat industri.
"Penanaman hutan kembali tidak akan menyelesaikan seluruh masalah pemanasan global. Ini adalah strategi yang ampuh, tetapi harus digabungkan dengan pengurangan emisi yang serius," kata Robert Allen, seorang ilmuwan iklim di UC Riverside dan penulis utama studi.
Melansir Earth, Selasa (3/6/2025) studi pemodelan ini memberikan gambaran yang lebih komprehensif tentang bagaimana hutan memengaruhi iklim.
Baca juga: Seluas 17.000 Hektar, Ruang Hidup Suku Boti Perlu Segera Jadi Hutan Adat
Pemodelan tidak hanya mempertimbangkan peran hutan sebagai "penyerap karbon" tetapi juga sebagai "agen kimia" yang melepaskan senyawa (BVOCs) yang dapat memicu proses di atmosfer yang, secara keseluruhan berkontribusi pada efek pendinginan.
Melalui pelepasan BVOC, pohon dapat menciptakan partikel yang memantulkan sinar matahari dan meningkatkan awan, yang keduanya mendinginkan planet.
Para peneliti juga menemukan bahwa hutan tropis khususnya menawarkan efek pendinginan yang lebih kuat daripada hutan di wilayah lain.
Reboisasi di daerah tropis jauh lebih menguntungkan untuk pendinginan global.
Hutan tropis tidak hanya sangat efisien dalam menyerap karbon dan melepaskan BVOC pendingin, tetapi juga tidak menimbulkan masalah "efek penggelapan permukaan" signifikan seperti yang terjadi di wilayah bersalju di lintang tinggi,
Sebagai informasi, penanaman pohon dapat meningkatkan pemanasan lokal karena kanopi gelap menyerap panas matahari yang seharusnya dipantulkan oleh salju.
Selain memengaruhi suhu global, penanaman pohon memiliki implikasi bagi kualitas udara lokal dan iklim regional.
Misalnya saja emisi BVOC dari pohon dapat memiliki efek ganda yakni mengurangi ozon berbahaya tetapi juga meningkatkan partikel halus yang buruk bagi kesehatan.
Ini menyoroti pentingnya mempertimbangkan semua aspek dampak lingkungan dari strategi mitigasi iklim.
Temuan ini pun menunjukkan bahwa upaya reboisasi lokal berskala kecil masih dapat menghasilkan manfaat lingkungan yang berarti.
Baca juga: Hutan Mangrove Lebih Kuat dari Dugaan, Tahan Badai akibat Perubahan Iklim
“Upaya yang lebih kecil masih dapat memberikan dampak nyata pada iklim regional,” Antony Thomas adalah mahasiswa pascasarjana di Departemen Ilmu Bumi dan Planet UC Riverside dan salah satu penulis penelitian ini.
Kendati model tersebut optimis, para peneliti mengakui bahwa reboisasi semua area yang sebelumnya berhutan sangat tidak mungkin dilakukan.
Sebagian besar lahan tersebut sekarang digunakan untuk pertanian, peternakan, atau pembangunan perkotaan, sehingga menimbulkan pertanyaan sulit tentang penggunaan lahan dan ketahanan pangan.
"Ada delapan miliar orang yang harus diberi makan,” kata Allen.
“Kita harus membuat keputusan yang cermat tentang di mana pohon ditanam. Peluang terbaik ada di daerah tropis, tetapi ini juga merupakan area tempat penggundulan hutan terus berlanjut hingga saat ini,” tambahnya.
Hasil studi tersebut memberikan harapan bahwa restorasi hutan merupakan bagian penting dari solusi iklim, tetapi tidak dapat melakukannya sendiri.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya