Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

10 Kota Terpanas di Indonesia pada 17-18 Maret, Ada Jakarta dan Medan

Kompas.com, 18 Maret 2026, 13:58 WIB
Zintan Prihatini,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan 10 kota terpanas di Indonesia sejak Selasa (17/3/2026) hingga Rabu (18/3/2026).

Jakarta masuk daftar tersebut, sedangkan Kota Medan di Sumatera Utara menempati urutan pertama dengan suhu maksimum 35,8 derajat celsius. Simak selengkapnya.

Baca juga:

10 kota terpanas di Indonesia pada 17-18 Maret 2026

  1. Medan, Sumatera Utara, suhu maksimum 35,8 derajat celsius
  2. Ciputat, Banten, suhu maksimum 35,6 derajat celsius
  3. Serang, Banten, suhu maksimum 35,4 derajat celsius
  4. Lampung, Lampung, suhu maksimum 35 derajat celsius
  5. Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, suhu maksimum 34,9 derajat celsius
  6. Jakarta Timur, DKI Jakarta, suhu maksimum 34,6 derajat celsius
  7. Kaimana, Papua Barat, suhu maksimum 34,4 derajat celsius
  8. Tangerang, Banten, suhu maksimum 34,2 derajat celsius
  9. Barito Utara, Kalimantan Tengah, suhu maksimum 34,2 derajat celsius
  10. Palembang, Sumatera Selatan, suhu maksimum 34,1 derajat celsius

BMKG mengakui bahwa beberapa wilayah di Indonesia terasa sangat panas dalam sepekan terakhir. Penyebab cuaca panas akhir-akhir ini karena fenomena gerak semu tahunan matahari.

"Secara teknis matahari seolah-olah berialan dari belahan bumi selatan menuiu ke utara," tulis BMKG dalam unggahan di akun Instagramnya, Rabu (18/3/2026).

Menurut BMKG, faktor penyebabnya ialah posisi matahari yang makin mendekat ke ekuator dengan intensitas radiasi sinar matahari yang diterima bumi menjadi lebih maksimal.

Jaraknya yang seolah tegak lurus di atas kepala, yang mengakibatkab suhu udara melonjak.

"Matahari akan tepat berada di atas garis ekuator (khatulistiwa) pada Sabtu (21/3/2026) hingga Senin (23/3/2026)," tulis BMKG.

Penyebab lainnya adalah karena sedikit tutupan awan dan masa transisi musim hujan ke musim kemarau. Meski demikian, BMKG memprediksi hujan masih akan melanda sejumlah wilayah dalam beberapa waktu ke depan. 

Baca juga:

Awal musim kemarau di Indonesia

Musim kemarau diprediksi lebih awal pada April 2026

Tugu Khatulistiwa di Pontianak, Kalimantan Barat. Kota Medan menjadi kota terpanas di Indonesia dengan suhu maksimum 35,8 derajat, disusul beberapa wilayah lain, termasuk Jakarta.WIKIMEDIA COMMONS/BAKA_NEKO_BAKA Tugu Khatulistiwa di Pontianak, Kalimantan Barat. Kota Medan menjadi kota terpanas di Indonesia dengan suhu maksimum 35,8 derajat, disusul beberapa wilayah lain, termasuk Jakarta.

Musim kemarau 2026 di Indonesia diprediksi terjadi lebih awal yakni pada April 2026. Pergeseran musim ini seiring melemahnya La Nina yang berlangsung sejak Oktober 2025 dan berakhir Februari 2026.

"Sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi masuk musim kemarau pada periode April, yaitu ada 114 zona musim atau sekitar 16,3 persen dari seluruh zona musim yang ada di Indonesia, sejumlah 699," kata Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani dalam konferensi pers di YouTube BMKG, Rabu (4/3/2026).

Pada Mei 2026, BMKG memprediksi kemarau melanda 184 zona musim, dan Juni 2026 sebanyak 163 zona musim. Musim kemarsu 2026 akan diawali di wilayah Nusa Tenggara, lalu bergerak ke arah barat secara bertahap.

Wilayah yang diprediksi mengalami kemarau pada April 2026, antara lain pesisir utara Jawa Barat, Jawa bagian Barat, sebagian besar Jawa Tengah hingga Jawa Timur, sebagian kecil Bali, sebagian besar Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, sebagian kecil Kalimantan Selatan, dan sebagian kecil Sulawesi Selatan.

Musim kemarau pada Mei 2026 diprediksi terjadi di sebagian Sumatera, Jawa bagian Barat, sebagian kecil Jawa Tengah hingga Jawa Timur, Bali, sebagian kecil Nusa Tenggara Barat, Kalimantan bagian Selatan, sebagian kecil Sulawesi, sebagian kecil Maluku, dan sebagian Papua.

Sementara itu, pada Juni 2026 meliputi sebagian besar Sumatera, sebagian kecil Jawa, sebagian besar Kalimantan, sebagian Sulawesi, sebagian Maluku, dan sebagian kecil Pulau Papua.

"Terkait puncak musim kemarau, sebagian besar wilayah Indonesia atau di 429 zona musim atau sekitar 61,4 persen dari keseluruhan diprediksi mengalami puncak musim kemarau pada Agustus 2026," jelas Faisal.

Di samping itu, durasi musim kemarau sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi akan lebih panjang dari biasanya.

Baca juga:

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
PGE Area Ulubelu Bangun Jembatan Ulu Semong dari Bonus Produksi Panas Bumi
PGE Area Ulubelu Bangun Jembatan Ulu Semong dari Bonus Produksi Panas Bumi
BUMN
KLH Minta Pemda di Jabodetabek Cegah Polusi Udara Saat Musim Kemarau
KLH Minta Pemda di Jabodetabek Cegah Polusi Udara Saat Musim Kemarau
Pemerintah
Antisipasi Dampak Konflik Timur Tengah, Pemerintah Siapkan Strategi Efisiensi Energi
Antisipasi Dampak Konflik Timur Tengah, Pemerintah Siapkan Strategi Efisiensi Energi
Pemerintah
10 Kota Terpanas di Indonesia pada 17-18 Maret, Ada Jakarta dan Medan
10 Kota Terpanas di Indonesia pada 17-18 Maret, Ada Jakarta dan Medan
Pemerintah
Apa Itu Green Jobs? Intip Potensi dan Skill yang Dibutuhkan
Apa Itu Green Jobs? Intip Potensi dan Skill yang Dibutuhkan
LSM/Figur
Sampah Puntung Rokok Berpotensi Berubah Jadi Mikroplastik
Sampah Puntung Rokok Berpotensi Berubah Jadi Mikroplastik
LSM/Figur
Disrupsi untuk Mempercepat Dekarbonisasi
Disrupsi untuk Mempercepat Dekarbonisasi
Pemerintah
Kualitas Udara di Jabodetabek Membaik hanya Kalau Hujan
Kualitas Udara di Jabodetabek Membaik hanya Kalau Hujan
Pemerintah
Tak Lagi Cari Ikan, Nelayan Kini Berburu Sampah Plastik di Sungai
Tak Lagi Cari Ikan, Nelayan Kini Berburu Sampah Plastik di Sungai
LSM/Figur
34 Proyek WtE Dibangun Atasi Darurat Sampah, Green Jobs Terbuka untuk Berbagai Jurusan
34 Proyek WtE Dibangun Atasi Darurat Sampah, Green Jobs Terbuka untuk Berbagai Jurusan
Swasta
Perang AS-Israel vs Iran Picu Kenaikan Tarif Penerbangan hingga Ganggu Pendidikan
Perang AS-Israel vs Iran Picu Kenaikan Tarif Penerbangan hingga Ganggu Pendidikan
Pemerintah
BMKG: Musim Kemarau di Jabar Diprediksi Datang Lebih Awal
BMKG: Musim Kemarau di Jabar Diprediksi Datang Lebih Awal
Pemerintah
Dari Energi ke Kreatif, Langkah Bloom Group Bangun Bisnis yang Lebih Adaptif
Dari Energi ke Kreatif, Langkah Bloom Group Bangun Bisnis yang Lebih Adaptif
Swasta
Perdagangan Karbon Dinilai Lebih Efektif Kurangi Emisi ketimbang Pajak Karbon
Perdagangan Karbon Dinilai Lebih Efektif Kurangi Emisi ketimbang Pajak Karbon
LSM/Figur
Cuaca Terik Landa RI Sepekan Terakhir, Suhu Tertinggi Capai 37,5 Derajat
Cuaca Terik Landa RI Sepekan Terakhir, Suhu Tertinggi Capai 37,5 Derajat
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau