Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Perubahan Iklim Perparah Sebaran Bakteri Resistan Antibiotik di Tanah

Kompas.com, 10 Juni 2025, 15:41 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber Earth.com

KOMPAS.com - Saat memikirkan ancaman perubahan iklim, biasanya yang langsung terbayang adalah soal kenaikan permukaan laut, cuaca ekstrem, atau gelombang panas yang menyengat.

Namun, ternyata perubahan iklim juga berdampak pada sesuatu yang tidak kita sadari dan tersembunyi di bawah kaki kita.

Studi baru mengungkapkan perubahan iklim tidak hanya menghangatkan planet tetapi juga mempercepat penyebaran bakteri yang resistan terhadap antibiotik di tanah.

Mengutip Earth, Selasa (10/6/2025) para ilmuwan di Universitas Durham, bekerja sama dengan para ahli di seluruh dunia, telah menghubungkan kenaikan suhu dengan peningkatan yang mengkhawatirkan pada gen resistensi antibiotik (ARG) dan faktor virulensi dalam komunitas mikroba tanah.

Saat suhu global meningkat, itu memicu lonjakan materi genetik yang membuat bakteri lebih sulit diobati. Gen resistensi antibiotik ini memungkinkan bakteri bertahan hidup, meningkatkan kemungkinan infeksi yang tidak disembuhkan oleh antibiotik tradisional.

Baca juga: 8.500 Ton Antibiotik Cemari Sungai Dunia, Kita Perlu Waspada

Tidak hanya membantu bakteri yang resistan bertahan hidup tetapi juga mendorong evolusi galur yang lebih kuat.

Lantas apa hubungan antara resistensi itu dengan kesehatan manusia?

Profesor David W. Graham insinyur air di Universitas Durham yang mengkhususkan diri dalam resistensi antibiotik menjelaskan kebanyakan orang tidak menyadari bahwa sebagian besar patogen yang menyebabkan penyakit menular pada manusia sebenarnya berasal dari lingkungan.

Saat suhu meningkat, bakteri ini bertahan hidup lebih lama. Mereka mungkin berevolusi lebih cepat, menciptakan patogen yang sama sekali baru yang tidak dapat disentuh oleh antibiotik kita.

"Oleh karena itu, peningkatan resistensi di tanah hampir pasti akan menyebabkan peningkatan tingkat infeksi yang tidak dapat diobati pada manusia dan hewan," kata Profesor Graham.

“Hubungan antara iklim dan resistensi antibiotik diprediksi dalam laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa tahun 2023: Bracing for Superbugs: Strengthening environmental action in the One Health response to antimicrobial resistance, dan penelitian baru ini memberikan bukti konkret untuk prediksi tersebut,” ungkapnya.

Baca juga: Profesor IPB Sebut Bakteri Pereduksi Nitrat Mampu Turunkan Emisi GRK

Perubahan yang disebabkan oleh iklim pada komunitas mikroba dapat merusak upaya yang sedang berlangsung untuk mengekang resistensi antibiotik.

Para peneliti memperingatkan bahwa jika tanah terus memelihara bakteri yang resistan, sifat-sifat ini dapat menjadi lebih mudah menular ke patogen manusia.

Risiko ini bukan sekadar teori.

Pandemi sebelumnya, seperti COVID-19, telah menunjukkan betapa mudahnya patogen berpindah dari lingkungan ke manusia. Jalur yang sama dapat memungkinkan bakteri yang resistan terhadap antibiotik melakukan hal yang sama, sehingga menimbulkan ancaman baru dan mendesak bagi kesehatan masyarakat.

Transformasi diam-diam yang terjadi di tanah kita mengingatkan kita bahwa dampak perubahan iklim jauh melampaui apa yang dapat kita lihat.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Karhutla Bakar 637.011 Hektar Lahan, Organisasi Lintas Iman Desak Siklus Tahunan Diputus
Karhutla Bakar 637.011 Hektar Lahan, Organisasi Lintas Iman Desak Siklus Tahunan Diputus
Pemerintah
ASRI Menyapa Surabaya, Dorong Siswa dan Guru Wujudkan Sekolah Berkelanjutan
ASRI Menyapa Surabaya, Dorong Siswa dan Guru Wujudkan Sekolah Berkelanjutan
Swasta
Lonjakan Belanja Militer Perparah Perubahan Iklim dan Keamanan Global
Lonjakan Belanja Militer Perparah Perubahan Iklim dan Keamanan Global
Pemerintah
Pengembangan PLTS Terapung Perlu Mitigasi agar Tak Ganggu Fungsi Badan Air
Pengembangan PLTS Terapung Perlu Mitigasi agar Tak Ganggu Fungsi Badan Air
Pemerintah
Rotan Kian Sulit Didapat, Perajin Anyaman Mahakam Ulu Terpaksa Beralih ke Plastik
Rotan Kian Sulit Didapat, Perajin Anyaman Mahakam Ulu Terpaksa Beralih ke Plastik
LSM/Figur
'Cage Free Eggs', Mengangkat Isu Kesejahteraan di Sebutir Telur
"Cage Free Eggs", Mengangkat Isu Kesejahteraan di Sebutir Telur
LSM/Figur
Pelajar Galang Dana lewat Golf untuk Wujudkan Harapan Anak dengan Penyakit Kritis
Pelajar Galang Dana lewat Golf untuk Wujudkan Harapan Anak dengan Penyakit Kritis
LSM/Figur
Dilema Pemanfaatan Dana Karbon di Pedalaman Kalimantan...
Dilema Pemanfaatan Dana Karbon di Pedalaman Kalimantan...
LSM/Figur
Bank Global Kucurkan Rp 10,69 Kuadriliun ke Perusahaan Terkait Deforestasi
Bank Global Kucurkan Rp 10,69 Kuadriliun ke Perusahaan Terkait Deforestasi
Pemerintah
Menjaga Mangrove Tetap Hidup, Bukan Sekadar Menanam
Menjaga Mangrove Tetap Hidup, Bukan Sekadar Menanam
Pemerintah
LSEG: Pemilik Aset Semakin Integrasikan Keberlanjutan ke Dalam Portofolio
LSEG: Pemilik Aset Semakin Integrasikan Keberlanjutan ke Dalam Portofolio
Pemerintah
Bisakah Pemulihan Populasi Hewan Besar Bantu Atasi Perubahan Iklim?
Bisakah Pemulihan Populasi Hewan Besar Bantu Atasi Perubahan Iklim?
Pemerintah
Dari Rotan, Masyarakat Dayak Merawat Tradisi dan Membuka Jalan Penghidupan
Dari Rotan, Masyarakat Dayak Merawat Tradisi dan Membuka Jalan Penghidupan
LSM/Figur
Pembangunan Proyek Batu Bara Baru Tiga Kali Lebih Cepat dari Penghentiannya
Pembangunan Proyek Batu Bara Baru Tiga Kali Lebih Cepat dari Penghentiannya
LSM/Figur
Ketika Greenpeace Mencuri Panggung di Bundaran HI
Ketika Greenpeace Mencuri Panggung di Bundaran HI
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau