Meski bank-bank tersebut sering kali lebih rentan karena fokus lokal, mereka lebih berkomitmen untuk menyalurkan aliran kredit pada peminjam yang terkena bencana di wilayah operasi mereka.
Sementara itu studi juga menemukan bank-bank milik negara, meskipun sering kali dianggap kurang efisien dan kurang menguntungkan, justru terbukti sangat aktif dalam memberikan pembiayaan untuk pemulihan pasca-bencana atau krisis, yang berdampak positif pada ketahanan ekonomi lokal.
Sebaliknya, bank-bank yang semata-mata berorientasi pada pencarian keuntungan tidak menunjukkan manfaat serupa, setidaknya tidak dalam skala yang sama.
"Karena bencana terkait iklim menjadi lebih sering dan intens, regulator dan pembuat kebijakan mungkin perlu memikirkan kembali desain perbankan berdasarkan bukti ini," terang Peters.
"Di tengah ancaman perubahan iklim yang membawa lebih banyak ketidakpastian dan bencana, masyarakat sangat membutuhkan bank yang tidak hanya beroperasi dan memberikan dukungan finansial saat kondisi aman dan menguntungkan. Perlu bank yang tetap mau dan mampu menyalurkan kredit atau bantuan keuangan bahkan saat terjadi krisis atau bencana," tambahnya.
Baca juga: RI-Inggris Kerja Sama lewat UK PACT 2, Targetkan Efisiensi Energi dan Keuangan Hijau
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya