Produsen pakaian sendiri dapat memangkas emisi tingkat pabrik dengan beralih ke peralatan hemat energi, memasang energi terbarukan, dan menggunakan transportasi rendah emisi.
Misalnya di Bangladesh yang merupakan pusat manufaktur garmen, 83 persen emisi industri tersebut disebabkan oleh pembakaran bahan bakar fosil di tempat, seperti gas alam, untuk menghasilkan listrik atau menjalankan boiler untuk menghasilkan panas dan uap.
Namun, banyak pemasok menolak investasi modal tinggi yang dibutuhkan untuk mengganti boiler berbahan bakar gas dengan teknologi yang lebih hemat energi, seperti pompa panas.
Pasalnya, pemasok Bangladesh memerlukan investasi sebesar 4,8 miliar Dolar AS untuk memangkas emisi hingga setengahnya pada tahun 2030.
Pemasok juga membutuhkan perjanjian pembelian jangka panjang dan harga premium dari merek yang akan berfungsi sebagai insentif untuk berinvestasi dalam produksi yang lebih bersih.
Baca juga: Tekstil Berkelanjutan Indonesia Dipamerkan di Source Fashion London
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya