Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

WWF: Koridor Harimau Terputus, Dampak Genetik dan Ekologinya Serius

Kompas.com, 30 Juli 2025, 19:27 WIB
Eriana Widya Astuti,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

KOMPAS.com — Koridor habitat harimau di Indonesia kian terfragmentasi, menyempit, bahkan terputus akibat tekanan pembangunan dan alih fungsi lahan.

Kondisi ini mengancam keberlanjutan populasi harimau, baik secara genetik maupun ekologis.

Menurut Febri Widodo, Conservation Science and Innovation Specialist WWF Indonesia, fragmentasi habitat menjadi salah satu dari tiga ancaman langsung terhadap kelangsungan hidup harimau.

“Jika wilayah jelajah harimau kecil, otomatis daya dukung dan daya tampungnya juga sedikit. Apalagi populasi mangsanya rendah, seperti yang terjadi di Sumatera,” ujar Febri, pada Kompas.com, Rabu (30/7/2025).

Lebih lanjut, Febri menjelaskan bahwa harimau membutuhkan ruang jelajah luas untuk bertahan hidup. Ketika habitat mereka terbelah oleh pembukaan hutan atau aktivitas manusia, ruang gerak mereka semakin terbatas. Kondisi ini makin berat karena populasi mangsa di alam juga terus menurun.

Selain itu, menurut Febri, fragmentasi habitat juga memutus konektivitas antarpopulasi. Harimau yang terisolasi di kantong-kantong kecil tidak dapat berinteraksi atau berkembang biak dengan individu dari wilayah lain.

“Ini bisa menimbulkan inbreeding atau perkawinan sedarah yang menyebabkan penurunan kualitas genetik, cacat fisik, dan daya tahan tubuh yang lemah terhadap penyakit,” jelasnya.

Risikonya bukan hanya gangguan fisik, tetapi juga ancaman kepunahan jangka panjang. Fragmentasi juga meningkatkan potensi konflik antara manusia dan harimau, terutama saat kawasan hutan dibelah oleh jalan, kebun, atau permukiman.

Baca juga: Dampak Berlapis Karhutla, Bunuh Harimau dan Hanguskan Habitatnya

“Sering kali konflik ini berujung pada perburuan atau kematian harimau, yang semakin mengancam populasinya,” ujar Febri.

Untuk menjaga konektivitas habitat, WWF memantau lanskap utama harimau melalui dua indikator, perubahan tutupan hutan (primer dan sekunder) serta perubahan penggunaan lahan, seperti konversi menjadi kebun, sawah, atau infrastruktur.

Di Sumatera, menurut Febri, banyak hutan atau kebun karet semi-alami telah berubah menjadi perkebunan sawit dan bentuk penggunaan lahan yang lebih intensif.

“Fakta di lapangan menunjukkan penyusutan habitat harimau bisa lebih dari 1 persen di beberapa wilayah,” ungkap Febri.

Meskipun di tempat lain penyusutannya kurang dari 1 persen, skalanya tetap signifikan tergantung topografi dan pengelolaan wilayah.

Febri menjelaskan ada dua tipe konektivitas habitat, pertama, koridor satwa berupa jalur semi-permeabel seperti kebun dengan sisa hutan sekunder dan kedua, critical connectivity linkages, yaitu habitat yang benar-benar terputus oleh jalan besar.

Pada wilayah semi-permeabel, pendekatan kolaboratif lebih relevan diterapkan untuk menjaga konektivitas antar habitat.

Baca juga: Ahli IPB: Hukum yang Kurang Bertaring Sebab Harimau Sumatera Kian Terdesak

“Kita bisa gunakan pendekatan multi-stakeholder, seperti menyisakan kawasan di pinggir sungai atau greenbelt dalam praktik perkebunan untuk dilewati harimau,” ujarnya.

Sementara itu, untuk wilayah yang benar-benar terputus, dibutuhkan intervensi teknis seperti pembangunan jembatan satwa atau underpass, yang perlu dilengkapi dengan pembatasan kecepatan kendaraan, pemantauan, dan mitigasi lainnya.

Menurut Febri, pembangunan memang tidak terelakkan karena menjadi bagian dari target nasional. Namun, prinsip keberlanjutan harus menjadi dasar. Secara teknis, pembangunan seharusnya mengikuti tata ruang dan menghindari kawasan hutan.

Sayangnya, banyak pembangunan ilegal justru mendorong perambahan.

Febri mengatakan bahwa jika pembangunan tidak bisa dihindari di habitat potensial harimau, perlu ada kajian terlebih dahulu.

“Kalau populasinya besar, sebaiknya alokasinya dipindah. Kalau kecil, mungkin perlu translokasi, tentu dengan kajian ilmiah yang kuat,” tambahnya.

Ia menekankan bahwa konservasi harimau tidak bisa dilepaskan dari perencanaan pembangunan.

“Misalnya di Sumatera, ada 23 subpopulasi harimau, sebagian besar di pesisir barat. Ini harus dipertimbangkan, apalagi banyak yang tumpang tindih dengan kawasan budaya atau daerah tangkapan air,” jelasnya.

Dengan pendekatan berbasis lanskap dan pembangunan berkelanjutan, kelangsungan hidup harimau tidak harus dikorbankan.

Justru harimau dan konektivitas habitatnya bisa menjadi indikator ekosistem yang sehat dan masa depan yang lebih berkelanjutan.

Baca juga: Riset Ahli Ungkap, Kearifan Lokal Saja Tak Mempan Lindungi Harimau Sumatera

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
'Hutan Bukan Mainan': Menanam Harapan Lintas Generasi di Sedekah Hutan 2026
'Hutan Bukan Mainan': Menanam Harapan Lintas Generasi di Sedekah Hutan 2026
LSM/Figur
Hari Gajah Sedunia 2026: Hilangnya Hutan Jadi Ancaman Terbesar Gajah Sumatra
Hari Gajah Sedunia 2026: Hilangnya Hutan Jadi Ancaman Terbesar Gajah Sumatra
LSM/Figur
Karbon, Hutan Adat, dan Keadilan Tertunda
Karbon, Hutan Adat, dan Keadilan Tertunda
Pemerintah
Berdayakan 50.000 Warga, Armawati Ubah Sampah Jadi Peluang Ekonomi
Berdayakan 50.000 Warga, Armawati Ubah Sampah Jadi Peluang Ekonomi
Swasta
Reformasi Subsidi Energi, Jalan Menuju Perlindungan yang Lebih Adil
Reformasi Subsidi Energi, Jalan Menuju Perlindungan yang Lebih Adil
LSM/Figur
Dampak Kekeringan, Perancis Batasi Pemakaian Air di 70 Persen Wilayahnya
Dampak Kekeringan, Perancis Batasi Pemakaian Air di 70 Persen Wilayahnya
Pemerintah
Integrasi Keberlanjutan, Praktik Baik Bangunan Hijau Sektor FMCG dan Farmasi
Integrasi Keberlanjutan, Praktik Baik Bangunan Hijau Sektor FMCG dan Farmasi
Swasta
Kisah Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas
Kisah Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas
LSM/Figur
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Swasta
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
Pemerintah
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
LSM/Figur
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Pemerintah
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
LSM/Figur
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
Pemerintah
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau