Penulis
KOMPAS.com - Di tengah tantangan ketahanan pangan nasional, PT Pupuk Kaltim terus menunjukkan komitmen nyata melalui inisiatif program Agrosolution.
Agrosolution merupakan program inisiatif Pupuk Kaltim yang mendorong terciptanya pertanian berkelanjutan dengan mengintegrasikan seluruh rantai pasok dari hulu ke hilir dan didukung oleh pemanfaatan teknologi terkini.
Tujuan utama program ini adalah meningkatkan produktivitas pertanian di berbagai wilayah dengan penyediaan pupuk, serta layanan pendampingan intensif oleh tenaga agronomis.
Hingga Juni 2025, program ini berhasil menjangkau 43.932 petani dengan total lahan garapan seluas 90.739,56 hektar dengan 185 proyek yang tersebar di 17 Provinsi meliputi Jawa Timur, Jawa Tengah, Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan dll.
Program ini juga berhasil meningkatkan produktivitas pertanian rata-rata mencapai 26 persen.
Program ini tidak hanya menyediakan pupuk berkualitas, tetapi juga pendampingan intensif yang terbukti mampu mengubah nasib petani, seperti kisah inspiratif Hadi Sugianto, seorang petani binaan yang berhasil mencapai omzet ratusan juta rupiah dari lahan padi.
Hadi Sugianto, 45 tahun, asal Kalimantan Timur, memilih meninggalkan profesi di sektor minyak dan gas (migas) yang telah ia tekuni selama 13 tahun dan menjadi petani binaan program Agrosolution PT Pupuk Kaltim.
Sebelum menekuni dunia pertanian, Hadi bekerja sebagai pegawai di perusahaan pengeboran migas yang beroperasi di Muara Jawa, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Meski gajinya cukup untuk menghidupi 8 anggota keluarga, Hadi merasa penghasilannya stagnan dan tidak memberikan ruang berkembang.
Akhirnya, pada tahun 2020, ia memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya dan mencoba peruntungan sebagai petani. Berbekal tekad dan dukungan keluarga, Hadi mulai mengelola lahan milik mertua, serta meminjam lahan milik tetangganya seluas 2 hektar untuk ditanami padi.
Baca juga: Kisah Alya Zahra, Mahasiswa yang Gencar Sulap Sampah Organik Jadi Kompos
Lima tahun berselang, keputusan itu membuahkan hasil yang memuaskan. Hadi kini menggarap enam hektar lahan padi di Desa Bukit Raya, Kecamatan Samboja, Kalimantan Timur dengan omzet menyentuh ratusan juta Rupiah setiap kali panen.
“Bidang pertanian kalau kita betul-betul tekuni ternyata dari segi penghasilannya justru bisa lebih daripada kita ikut kerja di perusahaan. Mobil, peralatan pertanian seperti bajak sekarang Alhamdulillah sudah mampu saya beli,” ungkap Hadi (29/7/2025).
Langkah awal Hadi sebagai petani memang tidak mudah. Di musim panen pertama, ayah empat orang anak ini hanya mampu memanen sekitar 30 persen dari total lahan yang digarap.
Penghasilannya waktu itu bahkan hanya cukup untuk menutup biaya produksi dan kebutuhan sehari-hari. “Waktu itu saya hampir putus asa, kok hasil pertanian hanya segini-segini aja,” kenangnya.
Namun, kegagalan itu justru menjadi pelajaran berharga. Setelah mengamati metode bertani yang selama ini ia tiru dari warga sekitar, Hadi menyadari bahwa cara-cara bertani yang dia lakukan belum efektif meningkatkan produktivitas.
Sejak saat itu, Hadi mulai aktif mengikuti pertemuan dan pelatihan pertanian dari berbagai pihak. Dari sanalah ia pertama kali mengenal produk-produk Pupuk Kaltim dan program pendampingan Agrosolution.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya