Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Program Agrosolution Pupuk Kaltim, Kisah Hadi Membangun Ketahanan Pangan Pertanian Organik

Kompas.com, 31 Juli 2025, 11:30 WIB
Yohanes Enggar Harususilo

Penulis

KOMPAS.com - Di tengah tantangan ketahanan pangan nasional, PT Pupuk Kaltim terus menunjukkan komitmen nyata melalui inisiatif program Agrosolution.

Agrosolution merupakan program inisiatif Pupuk Kaltim yang mendorong terciptanya pertanian berkelanjutan dengan mengintegrasikan seluruh rantai pasok dari hulu ke hilir dan didukung oleh pemanfaatan teknologi terkini.

Tujuan utama program ini adalah meningkatkan produktivitas pertanian di berbagai wilayah dengan penyediaan pupuk, serta layanan pendampingan intensif oleh tenaga agronomis.

Hingga Juni 2025, program ini berhasil menjangkau 43.932 petani dengan total lahan garapan seluas 90.739,56 hektar dengan 185 proyek yang tersebar di 17 Provinsi meliputi Jawa Timur, Jawa Tengah, Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan dll.

Program ini juga berhasil meningkatkan produktivitas pertanian rata-rata mencapai 26 persen.

Program ini tidak hanya menyediakan pupuk berkualitas, tetapi juga pendampingan intensif yang terbukti mampu mengubah nasib petani, seperti kisah inspiratif Hadi Sugianto, seorang petani binaan yang berhasil mencapai omzet ratusan juta rupiah dari lahan padi.

Hadi Sugianto, 45 tahun, asal Kalimantan Timur, memilih meninggalkan profesi di sektor minyak dan gas (migas) yang telah ia tekuni selama 13 tahun dan menjadi petani binaan program Agrosolution PT Pupuk Kaltim.

Sebelum menekuni dunia pertanian, Hadi bekerja sebagai pegawai di perusahaan pengeboran migas yang beroperasi di Muara Jawa, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Meski gajinya cukup untuk menghidupi 8 anggota keluarga, Hadi merasa penghasilannya stagnan dan tidak memberikan ruang berkembang.

Akhirnya, pada tahun 2020, ia memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya dan mencoba peruntungan sebagai petani. Berbekal tekad dan dukungan keluarga, Hadi mulai mengelola lahan milik mertua, serta meminjam lahan milik tetangganya seluas 2 hektar untuk ditanami padi.

Baca juga: Kisah Alya Zahra, Mahasiswa yang Gencar Sulap Sampah Organik Jadi Kompos

Lima tahun berselang, keputusan itu membuahkan hasil yang memuaskan. Hadi kini menggarap enam hektar lahan padi di Desa Bukit Raya, Kecamatan Samboja, Kalimantan Timur dengan omzet menyentuh ratusan juta Rupiah setiap kali panen.

“Bidang pertanian kalau kita betul-betul tekuni ternyata dari segi penghasilannya justru bisa lebih daripada kita ikut kerja di perusahaan. Mobil, peralatan pertanian seperti bajak sekarang Alhamdulillah sudah mampu saya beli,” ungkap Hadi (29/7/2025).

Langkah awal Hadi sebagai petani memang tidak mudah. Di musim panen pertama, ayah empat orang anak ini hanya mampu memanen sekitar 30 persen dari total lahan yang digarap.

Penghasilannya waktu itu bahkan hanya cukup untuk menutup biaya produksi dan kebutuhan sehari-hari. “Waktu itu saya hampir putus asa, kok hasil pertanian hanya segini-segini aja,” kenangnya.

Namun, kegagalan itu justru menjadi pelajaran berharga. Setelah mengamati metode bertani yang selama ini ia tiru dari warga sekitar, Hadi menyadari bahwa cara-cara bertani yang dia lakukan belum efektif meningkatkan produktivitas.

Sejak saat itu, Hadi mulai aktif mengikuti pertemuan dan pelatihan pertanian dari berbagai pihak. Dari sanalah ia pertama kali mengenal produk-produk Pupuk Kaltim dan program pendampingan Agrosolution.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Australia Lebih Banyak Danai Kerusakan Alam Daripada untuk Konservasi
Australia Lebih Banyak Danai Kerusakan Alam Daripada untuk Konservasi
Pemerintah
Konflik AS-Israel Vs Iran Bukti Dunia Rentan Ketergantungan Energi Fosil
Konflik AS-Israel Vs Iran Bukti Dunia Rentan Ketergantungan Energi Fosil
Pemerintah
Populasi Salmon Chum di Jepang Menurun, Ada Apa?
Populasi Salmon Chum di Jepang Menurun, Ada Apa?
LSM/Figur
4,9 Juta Anak di Dunia Tewas akibat Mal Nutrisi hingga Penyakit Menular
4,9 Juta Anak di Dunia Tewas akibat Mal Nutrisi hingga Penyakit Menular
Pemerintah
Apa Saja Faktor Pemicu Perubahan Iklim di Asia? Ilmuwan Beri Penjelasan
Apa Saja Faktor Pemicu Perubahan Iklim di Asia? Ilmuwan Beri Penjelasan
LSM/Figur
Emisi Turun Tipis, Jerman Dinilai Kehilangan Momentum Capai Target Iklim
Emisi Turun Tipis, Jerman Dinilai Kehilangan Momentum Capai Target Iklim
Pemerintah
Bersiap Hadapi Dampak Konflik Timur Tengah, Korsel Pastikan Stabilnya Pasokan Energi Alternatif
Bersiap Hadapi Dampak Konflik Timur Tengah, Korsel Pastikan Stabilnya Pasokan Energi Alternatif
Pemerintah
Bahan Kimia Abadi PFAS Bisa Ganggu Pertumbuhan Tulang Anak
Bahan Kimia Abadi PFAS Bisa Ganggu Pertumbuhan Tulang Anak
LSM/Figur
Jepang Mulai Cari Energi Alternatif akibat Krisis Selat Hormuz
Jepang Mulai Cari Energi Alternatif akibat Krisis Selat Hormuz
Pemerintah
Misteri Ratusan Kura-kura Mati Massal di Kanada, akibat Krisis Iklim?
Misteri Ratusan Kura-kura Mati Massal di Kanada, akibat Krisis Iklim?
LSM/Figur
Pemerintah Jajaki Pendanaan dari Perdagangan Karbon untuk Biayai Taman Nasional
Pemerintah Jajaki Pendanaan dari Perdagangan Karbon untuk Biayai Taman Nasional
Pemerintah
Saat Berbagi Jadi Harapan, Starlead Ajak Anak Panti Kejar Mimpi
Saat Berbagi Jadi Harapan, Starlead Ajak Anak Panti Kejar Mimpi
Swasta
PGE Area Ulubelu Bangun Jembatan Ulu Semong dari Bonus Produksi Panas Bumi
PGE Area Ulubelu Bangun Jembatan Ulu Semong dari Bonus Produksi Panas Bumi
BUMN
KLH Minta Pemda di Jabodetabek Cegah Polusi Udara Saat Musim Kemarau
KLH Minta Pemda di Jabodetabek Cegah Polusi Udara Saat Musim Kemarau
Pemerintah
Antisipasi Dampak Konflik Timur Tengah, Pemerintah Siapkan Strategi Efisiensi Energi
Antisipasi Dampak Konflik Timur Tengah, Pemerintah Siapkan Strategi Efisiensi Energi
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau